Berita / Utama

Bertajuk “Lentera di Tengah Samudera”, Empi ITB 2019 Gelar Pengabdian Mahasiswa di Desa Pagerungan Kecil

Adi Permana - Rabu, 14 Agustus 2019, 15:57:23 - Diperbaharui : Rabu, 14 - Agustus - 2019, 16:22:19

*Foto: Dok. Pribadi

BANDUNG, itb.ac.id – Sebagai bentuk implementasi dari salah satu poin dalam Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat, Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan kegiatan pengabdian ke daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) melalui program Ekspedisi Maritim dan Pesisir Indonesia (EMPI) 2019. 


Kegiatan yang bertajuk “Lentera di Tengah Samudera” ini dilaksanakan pada 10 Juli hingga 3 Agustus 2019 di Desa Pegerungan Kecil, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. EMPI diikuti oleh 23 mahasiswa ITB dari beragam fakultas, program studi, dan angkatan, yang menjadi ekspeditor terpilih dari ratusan pendaftar sebelumnya.

EMPI merupakan kegiatan yang dimaksudkan agar para mahasiswa mengenal budaya dan membantu memberikan solusi bagi permasalahan di titik-titik wilayah yang termasuk pulau yang termasuk ke dalam 3T. Tahun ini merupakan tahun pertama penyelenggaraan EMPI yang diinisiasi oleh ITB sebagai inovasi dari program Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) yang telah diikuti selama 3 tahun berturut-turut.

Program  ENJ merupakan program ekspedisi yang diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI, dan diikuti oleh belasan perguruan tinggi lainnya di Indonesia. Kali ini, ITB melalui Lembaga Kemahasiswaan menyelenggarakan EMPI secara mandiri. Seluruh rangkaian kegiatan EMPI dipersiapkan langsung oleh para ekspeditor mulai dari penentuan lokasi, proses administrasi, hingga akomodasi dan pelaksanaan program di daerah tujuan. 

Pembiayaan program EMPI berasal dari sponsor Lembaga Kemahasiswaan dan penggalangan dana melalui kegiatan dana usaha yang dilakukan oleh tim ekspeditor EMPI 2019. Selama 2 minggu berkegiatan di pulau kecil ini, tim ekspeditor EMPI melakukan sejumlah program community service di bidang pendidikan, biodiversitas, dan lingkungan yang diawali dengan kegiatan social mapping dan FGD bersama tokoh masyarakat setempat. 



Program community service di bidang pendidikan berisi kegiatan motivasi dan pengenalan terhadap dunia pendidikan tinggi bagi siswa-siswi SMA dan sederajat. Di bidang biodiversitas, tim ekspeditor bersama dengan masyarakat menyusun booklet keragaman hayati sebagai sarana eksplorasi dan edukasi terkait kekayaan alam setempat. 

Sementara di bidang lingkungan, isu penumpukan sampah di pantai dan laut menjadi perhatian khusus para ekspeditor yang coba diwujudkan dalam bentuk kegiatan pembersihan pantai dan pemusnahan sampah melalui pembakaran untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kebersihan dan bahaya pencemaran. 



Desa Pagerungan Kecil sendiri merupakan salah satu dari 17.000 desa yang ditetapkan sebagai desa prioritas menurut Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).  Sebagian besar penduduk Desa Pagerungan Kecil memiliki mata pencarian sebagai nelayan, dan memiliki ketergantungan yang besar terhadap laut dalam berbagai aspek kehidupannya. Ketertinggalan Desa Pagerungan Kecil salah satunya ditunjukkan oleh minimnya akses terhadap jaringan listrik PLN sehingga warga harus mengandalkan genset dengan kondisi listrik yang menyala terbatas hanya 5 jam setiap harinya. Selain melaut, warga Desa Pagerungan Kecil khususnya kaum wanita memiliki keterampilan di bidang kerajinan pernak-pernik yang dibuat dari bahan alam, seperti kerang dan teripang.

Yunida Indira, Sekretaris Tim EMPI 2019, menyebut bahwa salah satu informasi penting yang didapat dari hasil kunjungan ke salah satu daerah 3T di Pulau Jawa tersebut yaitu masih belum meratanya akses informasi pendidikan di Indonesia. Ia juga berharap dapat menambah wawasan siswa-siswi sekolah menengah dan mendorong mereka untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Dari segi pelaksanaan, Yunida berharap kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan dengan jangka waktu yang lebih lama. “Waktu yang diberikan sekarang rasanya masih kurang, program yang dijalankan jadinya kurang membekas dan tidak berkelanjutan," ujarnya.

Pasca pelaksanaan EMPI 2019, tim ekspeditor berencana untuk menyusun sebuah buku berisi catatan perjalanan dan profil daerah Desa Pagerungan Kecil. Selain sebagai kenang-kenangan, buku tersebut dapat menjadi sarana berbagi ilmu dan pengalaman dari salah satu kegiatan pengabdian masyarakat di ITB. 

Reporter: Nabila Nurul Maghfiroh (Planologi, 2015)