Berita / Penelitian

Melewati Lebaran Tanpa Takut Gemuk ala Prof. I Ketut Adnyana

Adi Permana - Senin, 3 Juni 2019, 12:33:18 - Diperbaharui : Selasa, 2 - Juli - 2019, 11:07:05


BANDUNG, itb.ac.id - Setiap Ramadan, seluruh umat muslim diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa. Tidak hanya sebagai sumber pahala kala menahan lapar dan haus, puasa juga mendatangkan banyak manfaat kesehatan. Kesehatan ini hadir baik untuk fisik maupun psikologis.


Reporter Kantor Berita ITB berkesempatan mewawancara Prof. I Ketut Adnyana, Guru Besar pada Kelompok Keahlian Farmakologi-Farmasi Klinik, Sekolah Farmasi ITB, Rabu (28/5/2019). Topik wawancara yang dibahas ialah manfaat puasa bagi tubuh.

Menurut Prof. Ketut, puasa dapat memperbaiki pola metabolisme tubuh. Ini mengartikan proses pengolahan makanan menjadi energi di dalam tubuh akan menjadi cepat. Sehingga energi tubuh bisa dialokasikan untuk kegiatan lainnya selain mengolah makanan. Namun, perubahan metabolisme juga bisa menjadi malapateka jika tidak dimanfaatkan dengan benar.

"Metabolisme yang efisien membuat kita merasa bahwa kita terus ‘sanggup’ untuk makan, efeknya kita jadi makan terus walau sadar sebenarnya tidak sedang mengalami lapar," terangnya.

Karena hal di atas, orang yang menjalankan puasa ataupun pola diet lainnya malah bisa menjadi lebih berat bobotnya ketika kembali ke pola makan normal. "Kan kalau puasa di bulan Ramadan, selesainya langsung disuguhi sama makanan-makanan saat Lebaran, jadi orang bisa kalap dan akhirnya makan-makanan yang berlebihan secara tidak sadar, ini yang biasa disebut dengan fenomena diet yoyo," jelas Prof. I Ketut.  

"Kenapa kita bisa mau makan tapi tidak dalam keadaan lapar? Pada dasarnya, lapar manusia bisa dibagi dua, ada lapar fisiologis dan lapar psikologis. Yang fisiologis itu otomatis dari tubuh, kalau memang energi kita kurang, maka tubuh akan 'meminta' makan. Kalau lapar psikologis, itu keinginan kita tanpa memperdulikan rasa lapar," tambahnya.

Oleh karena itu, sebenarnya puasa sangat ampuh untuk belajar menghilangkan lapar psikologis. "Kalau yang lapar fisiologis, kita tak perlu takut, tubuh kita sudah otomatis mengaturnya, soal adaptasi tubuh dari tidak puasa menjadi puasa paling hanya butuh 3-4 hari," tambah pria yang menyelesaikan gelar doktornya di Jepang.

Selain menahan diri ketika menikmati momen Lebaran, Prof. I Ketut juga memberikan beberapa tips untuk menjaga pola makanan saat lebaran. "Ada dua hal yang saya rasa penting untuk dijaga, bahan makanan dan cara memasaknya," ungkapnya.

Bahan makanan yang disarankan adalah bahan makanan berserat, seperti sayur dan buah. Kedua makanan berserat tersebut bisa membantu mengenyangkan juga mudah diolah oleh tubuh. "Cara masak, termasuk sajiannya juga penting loh ya, balik lagi, psikologis itu penting, jadi kita harus bisa membuat makanan sehat terlihat enak, " ujar dosen ITB kelahiran Bali ini.

Soal gizi tubuh, ia berkata bahwa tiap orang harusnya bisa untuk mengenal dirinya sendiri sehingga tidak perlu ada konsumsi obat-obatan khusus. "Ini bergantung usia dan aktivitas juga, tua atau muda, baik sibuk atau tidak, itu pasti beda-beda kebutuhan gizinya," ucapnya. 

Kalau memang perlu adanya vitamin khusus, tubuh pasti akan memberi tanda, setelah itu baru kita bisa memilih obat spesifik untuk kebutuhan kita. Di luar hal-hal tambahan, Prof. I Ketut mengatakan bahwa memang tiap manusia perlu gizi dasar seperti protein, karbohidrat, lemak, dan mineral lainnya, namun itu semua sudah cukup dan bisa didapatkan dari makanan sehari-hari.

Reporter: Ferio Brahmana (Teknik Fisika 2017)