Berita / Akademik

Immanuel Deo, Lulus 3,5 Tahun dengan Predikat Cumlaude

Adi Permana - Kamis, 4 April 2019, 09:38:06 - Diperbaharui : Kamis, 4 - April - 2019, 15:03:16


BANDUNG, itb.ac.id – Kesibukan akademik, tak menyulutkan semangat Immanuel Deo Juvente Hasian Silalahi untuk tetap akif berorganisasi dan mengikuti berbagai kegiatan di luar kampus. Pintar-pintar membagi waktu adalah kunci yang ia lakukan. Hal itu dibuktikan dengan bisa menyelesaikan studi sarjananya dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat cumlaude.


Deo merupakan mahasiswa program studi sarjana Teknik Tenaga Listrik, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI-ITB) angkatan 2015. Pada Wisuda Kedua Tahun Akademik 2018/2019, 6 April 2019 di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), dia akan menjadi perwakilan wisudawan sarjana untuk memberikan pidato.

Selama kuliah, ia aktif pada 3 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan himpunan, yaitu ITB Student Orchestra sebagai kepala divisi ekstrakampus, Unit Kesenian Sumatera Utara (UKSU) sebagai kepala divisi mentor dan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) ITB. “Selain itu, saya pernah tergabung menjadi Tim Kesenatoran Himpunan Mahasiswa Elektroteknik ITB,”ujarnya kepada Reporter Humas ITB, Selasa (2/4/2019).

Tak hanya aktif di dalam kampus, Deo juga aktif dalam kegiatan luar kampus. Beberapa kegiatan internship dan kerja praktik pernah dilakukan oleh Deo seperti internship dari Philip Morris International, Schlumberger, Star Energy Geothermal Ltd, dan PT. HM Sampoerna Tbk. “Rasanya senang (ikut kegiatan luar kampus) karena menambah pengalaman dan pembelajaran,” ungkapnya. Selain itu, ia pernah menjadi delegasi Indonesia di Bonn, Jerman untuk datang pada acara Sustainable Development Goals (SDG) Global Festive Campaign 2018.

Bukan tanpa halangan, Deo kerap dihadapi kesulitan dalam kegiatan akademik. Salah satu contohnya adalah membagi waktu dan memahami materi kuliah. “Terkadang ada mata kuliah yang tidak mudah dimengerti karena susah dan kesulitan untuk membagi waktu dalam berorganisasi karena kesibukan lain. Solusi saya untuk menghadapi masalah tersebut adalah belajar bersama teman dan membuat skala prioritas agar beberapa hal yang harus dikerjakan dapat selesai pada waktunya,” jelasnya.

Karena berprestasi secara akademik dan non-akademik, hal inilah yang mengantarkan dirinya untuk mendapatkan gelar Mahasiswa Berprestasi STEI ITB pada tahun 2018. “Waktu itu saya mewakili STEI ITB untuk seleksi mahasiswa berprestasi tingkat ITB dan saya mendapatkan juara 3,” ceritanya.

Deo bercerita, perjalanannya kuliah di ITB dilatarbelakangi ketertarikannya di bidang fisika. Saat duduk di bangku SMA, dia pernah menjadi peserta Olimpiade Siswa Nasional (OSN) Fisika. “Hal ini membuat saya suka dengan fisika. Selain itu, saya mendengar saran dari orang tua dan kakak tingkat saat SMA dulu yang berkuliah di ITB untuk melanjutkan pendidikan di ITB. Hal ini yang menyebabkan saya semakin mantap untuk memilih ITB,” ujar pemuda asal Medan, Sumatera Utara ini.

Dalam tekadnya, Deo bercita-cita untuk menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia sebab ia tertarik akan isu energi untuk kehidupan di masa depan. “Menurut saya menjadi menteri merupakan salah satu aplikasi dari penerapan ilmu yang telah saya dapatkan di sekolah dan saya ingin membangun Indonesia sebagai bangsa yang maju karena tuntutan penggunaan energi yang terbarukan semakin mendesak kita untuk meninggalkan energi fosil,” ujar pria yang memiliki hobi bermain sepak bola dan piano ini.

Adapun tugas akhir yang Deo angkat ialah mengenai rancangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal energy) di kota besar. Menurutnya, pada umumnya pembangkit listrik tenaga panas bumi berada di pegunungan. Oleh karenanya ia melakukan studi mengenai bagaimana jika pembangkit listrik tersebut berada di perkotaan. “Dengan bimbingan Bapak Dr. Ir. Bambang Anggoro Soedjarno P. M.T. akhirnya saya bisa menyelesaikan tugas akhir saya dengan baik”, jelasnya.

Seraya tersenyum, Deo menyampaikan beberapa pesan untuk mahasiswa ITB lainnya. “Selalu memiliki keinginan untuk berubah menjadi lebih baik, jangan menutup diri dan mental blocking. Selain itu carilah metode belajar yang kalian suka dan selalu memiliki niat tulus serta lapang dada dalam menjalankan segala hal,” pesannya.

Reporter: Billy Akbar Prabowo (Teknik Metalurgi 2016)