Berita / Utama

Siapkah Indonesia dalam Menghadapi Era Industri 4.0

Adi Permana - Kamis, 14 Maret 2019, 12:31:51 - Diperbaharui : Kamis, 14 - Maret - 2019, 12:32:07


BANDUNG, itb.ac.id – Memasuki era Revolusi Industri 4.0, apakah Indonesia siap menghadapinya? Pertanyaan mendasar tersebut menjadi topik yang menarik untuk didiskusikan akhir-akhir ini. Untuk itu, alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan ’94 menyelenggarakan diskusi panel bertemakan “Making Indonesia 4.0, Siapkah Kita?”.


Bertempat di Aula Gedung CRCS Lantai 3, Kampus ITB Jalan Ganesha no. 10 Bandung, Sabtu (9/3/2019) lalu, acara tersebut diadakan sebagai bagian dari rangkaian acara perayaan 25 tahun alumni ITB angkatan ’94. Sebagai bagian dari Kuliah Umum Studium Generale, diskusi dihadiri oleh 250 peserta baik dari kalangan dosen, alumni, pemerintah provinsi dan juga mahasiswa.

Narasumber pertama dalam diskusi tersebut ialah Dedi Iswanto, alumni (MS ’94) yang kini berperan sebagai Solution Architect Emerging Technology IBM. Ia membuka diskusi dengan paparan tentang bagaimana digital automation mengubah sebuah bisnis beroperasi. Poin utama yang disampaikan ialah bagaimana sebenarnya perusahaan dan industri sudah sadar akan pentingnya perkembangan industri 4.0 tetapi belum melakukan apapun terkait hal tersebut. 

“Penghambat utama merupakan kemampuan dan jumlah dari sumber daya manusia yang ada. Selain hal tersebut, hambatan datang dari strategi dan eksekusi rencana, rendahnya kepercayaan mengenai hasil sebagai keluaran artificial intelligence (AI), dan juga mengenai privasi dan keamanan,” ujarnya Dedi Iswanto.

Narasumber kedua, Takwa Fuadi (TK ’94) yang kini menjabat sebagai Co-founder dan CEO Imani Prima memaparkan materi dengan “Tantangan dan Peluang Industri 4.0 bagi Industri Lokal”. Ia menekankan bahwa Indonesia tidak ketinggalan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan teknologi Internet of Things (IoT) sendiri. Namun, yang diperlukan Indonesia adalah pembangunan industri yang memanfaatkan IoT. “Hal ini dapat terwujud selama jiwa nasionalisme dan pengabdian masyarakat selalu dipegang,” katanya.

Pada diskusi tersebut, juga menghadirkan Prof. Brian Yuliarto (FT ’94), Guru Besar Teknik Fisika yang membawakan materi mengenai dua hal paling penting dalam perkembangan Industri 4.0 yaitu sensor dan IoT. 

Prof. Brian memaparkan, pada 2025, diprediksi akan ada 50 miliar alat yang membutuhkan sensor. Dilihat dari prediksi tren yang ada, maka harga sensor akan menurun meskipun tidak serta-merta. Hal ini dikarenakan semakin banyak orang yang akan memproduksi dan meningkatkan kualitas sensor. Untuk itu ia menekankan bahwa era disruptif ini menjadi peluang untuk secara cepat menjadi pendiri dan konglomerat karena kesempatannya ada tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. 

Pembicara terakhir adalah Andi Kristianto (EL ’94) selaku VP Corporate Planning Telkomsel menceritakan mengenai program Telkomsel Innovation Center (TINC) yang menyokong perkembangan IoT di Indonesia. Dalam pengembangan IoT, dibutuhkan kolaborasi secara horizontal dan masif. Industri, universitas, dan pemerintah adalah pihak-pihak yang akan saling berkolaborasi, memberikan dukungan, dan juga melakukan validasi untuk memberikan solusi digital baru untuk memenangkan pasar. 

Hal ini didukung dengan fakta bahwa pemerintah sudah mendukung hal ini dengan memberikan hibah untuk bagian research and development, serta adanya kesadaran industri untuk bekerja sama dengan universitas.

“Jika dapat disimpulkan dari diskusi hari ini, saya belum bisa mengatakan apakah Indonesia siap menghadapi revolusi industri 4.0. Tetapi satu hal yang pasti adalah, hal ini akan terjadi dan kita harus mengahadapinya. Untuk itu diperlukan kolaborasi, kerja keras, dan tidak lupa semangat nasionalisme,” pungkas Titah Yudhistira (TI ’94), dosen Teknik Industri selaku moderator dalam diskusi tersebut.

Reporter: Prihita Eksi Cahyandari (Teknik Perminyakan 2015)