Berita / Penelitian

ITB Lakukan Studi Terpadu untuk Memahami Dinamika Gunung Agung

Adi Permana - Sabtu, 12 Januari 2019, 15:12:21 - Diperbaharui : Senin, 14 - Januari - 2019, 14:18:52
*Foto kegiatan sosialisasi mitigasi bahaya erupsi Gn. Agung di SMP N 3 Bebandem, Karangasem, Bali. Latar belakang Gn. Agung yang sedang mengeluarkan asap fumarole. (Sumber foto: Tista Gotama) (Foto: Dok. Zulfakriza)

BALI.itb.ac.id -- Indonesia terdiri dari gugusan pulau dengan ratusan gunung berapi didalamnya. Sebanyak 127 gunung berapi diantaranya dinyatakan masih tergolong aktif. Salah satunya Gunung Agung yang terletak di Provinsi Bali. Untuk itu, dibutuhkan sebuah studi secara terpadu untuk memahami dinamika yang terjadi di Gunung Agung dan gunung-gunung berapi lainnya di Indonesia.

Berdasarkan informasi dari MAGMA Indonesia yang dirilis PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), pada Kamis (10/1/2019) Gunung Agung kembali erupsi. Erupsi Gn. Agung ini terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi +/- 4 menit 22 detik. Meski demikian, kolom abu yang terbentuk akibat erupsi Gn. Agung tersebut, tidak terlihat dikarenakan terhalang kabut.

Penelitian Gn. Agung di ITB diketuai oleh Prof. Sri Widiyantoro dari KK Geofisika Global FTTM-ITB. Tim peneliti terbagi dalam tiga kelompok, yaitu Kelompok Seismologi yang beranggotakan Dr. Andri Dian Nugraha, Dr. Zulfakriza, Dr. David P. Sahara dan Dr. Endra Gunawan, Kelompok Geologi yang beranggotakan Dr. Eddy Sucipta dan Dr. Asep Saepuloh, serta Kelompok Geodesi beranggotakan Dr. Irwan Meilano .

Saat menghubungi Humas ITB, Dosen ITB dari KK Geofisika Global, Dr. Zulfakriza mengatakan, tujuan yang diharapkan dari penelitian Gn. Agung ini pertama adalah delineasi struktur bawah permukaan Gn. Agung dan Gn. Batur dengan mengaplikasikan Teknik Double Different Tomography dan Ambient Noise Tomography, kedua memahami model geomekanik Gn. Agung, ketiga pola deformasi tubuh Gn. Agung, dan keempat model geokimia dan petrologi Gn. Agung.

Mengenai dana penelitian Zulfakriza mengatakan terhitung mulai Oktober 2018, ITB mendapatkan hibah dana penelitian Partnership for Enhanced Engagement in Research (PEER) yang bersumber dari USAID. "Fokus penelitian adalah mempelajari dinamika Gunung Agung Bali secara terpadu dari sisi seismologi, petrologi dan deformasi. Skema penelitian PEER merupakan kerjasama penelitian antara ITB, PVMBG - Badan Geologi dan Volcano Disaster Assistance Program (VDAP) – USGS,” kata Dr. Zulfakriza.

Untuk skema pendanaan circle 7 tahun 2018, dari 10 proposal yang didanai oleh PEER se-Asia, ITB adalah satu-satunya institusi yang mewakili Indonesia mendapatkan pendanaan hibah penelitian PEER.

Adapun, rangkaian aktivitas penelitian PEER Gn. Agung terdiri atas pengambilan data di lapangan selama enam bulan terhitung mulai Desember 2018 dengan menggunakan peralatan seismometer dan GPS geodetik. Sejumlah tujuh unit seismometer sudah terpasang mengitari Gn. Agung dan Gn. Batur dan empat unit GPS geodetik. Pada tahap kedua, terhitung mulai 8 Januari 2019 dilakukan pemasangan seismometer sejumlah 20 unit. 



*Peta sebaran 27 stasiun pengamatan seismometer (segitiga merah) dan 4 stasiun pengamatan GPS geodetik (segitiga biru) yang dipasang selama enam bulan untuk mengukur aktivitas kegempaan di Gn. Agung dan Gn. Batur, Bali (Foto: Dok. Zulfakriza).

Selain pemasangan alat untuk merekam aktivitas kegempaan, Zulfakriza menambahkan, kegiatan penelitian PEER Gn. Agung juga melakukan sosialisasi mitigasi dan pengurangan risiko ancaman erupsi Gn. Agung. Kegiatan ini ditujukan kepada pemerintah daerah, komunitas, dan siswa sekolah. Bentuk kegiatan ini berupa diseminasi, pendampingan dan koordinasi dengan aparatur pemerintah daerah dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali.

Sampai dengan saat ini kondisi Gn. Agung masih sangat fluktuatif. Aktivitas Gn. Agung pada Jumat (11/1/2019) masih berada pada siaga (level III). Untuk itu, PVMBG - Badan Geologi menghimbau masyarakat untuk tidak berada pada zona bahaya radius 4Km dari puncak Gn. Agung.