Berita / Utama

Empat Kemungkinan Terjadinya Tsunami di Selat Sunda Menurut Volkanolog ITB

Adi Permana - Minggu, 23 Desember 2018, 17:17:09 - Diperbaharui : Minggu, 23 - Desember - 2018, 17:38:07
*Foto: Dok. Humas ITB

BANDUNG, itb.ac.id -- Volkanolog Institut Teknologi Bandung Dr. Mirzam Abdurrachman menyampaikan beberapa kemungkinan terjadinya gelombang tsunami di sekitar Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) malam. Seperti diketahui, sebelumnya telah terjadi gelombang tinggi yang oleh BMKG diperbaharui sebagai Tsunami. Menurut laporan BNPB sampai saat ini jumlah korban telah mencapai ratusan dan masih ada sebagian yang hilang.

Ia mengatakan, gelombang tsunami yang mencapai garis pantai tanpa didahului oleh adanya gempa atau surutnya muka laut menimbulkan banyak pertanyaan mengenai penyebab terjadinya. Apakah gempa tektonik, pasang purnama, letusan anak krakatau atau bahkan tumbukan meteor di tempat tertentu.

Menurut Dr. Mirzam, aktifitas Anak Krakatau memang terus menggeliat akhir-akhir ini lebih dari 400 letusan kecil terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Letusan besar terjadi pukul 18.00 dan terus berlanjut hingga pagi ini dan terdengar hingga Pulau Sebesi yang berjarak lebih dari 10 km arah timur laut seperti di laporkan tim patroli.

"Suatu gunung yang terletak di tengah laut seperti halnya Anak Krakatau atau yang berada di pinggir pantai, sewaktu-waktu sangat berpotensi menghasilkan Volcanogenic Tsunami," ungkapnya kepada Humas ITB, Minggu (23/12/2018).

*Dr. Mirzam Abdurachman saat melakukan penelitian dalam rangkaian Lampung Krakatau Festival Tahun 2018. (Dok. Dr. Mirzam)

Volcanogenis Tsunami ini, bisa terbentuk karena perubahan volume laut secara tiba-tiba akibat letusan gunung api. Setidaknya ada empat mekanisme yang menyebabkan terjadinya volcanogenic tsunami, menurut Dr. Mirzam.

Pertama, karena kolapsnya kolom air akibat letusan gunung api yang berada di laut. Itu seperti meletuskan balon pelampung di dalam kolam yang menyebabkan riak air di sekitarnya.

Kedua, pembentukan kaldera akibat letusan besar gunung api di laut menyebabkan perubahan kesetimbangan volume air secara tiba-tiba. Menekan gayung mandi ke bak mandi kemudian membalikannya adalah analogi pembentukan kaldera gunung api di laut.

"Mekanisme 1 dan 2 pernah terjadi pada letusan Krakatau, tepatnya 26-27 Agustus 1883. Tsunami tipe ini seperti tsunami pada umumnya didahului oleh turunnya muka laut sebelum gelombang tsunami yang tinggi masuk ke daratan," ujarnya.

Mekanisme ketiga adalah, karena longsor. Material gunung api yang longsor bisa menyebabkan memicu perubahan volume air di sekitarnya. Tsunami tipe ini pernah terjadi di Mt. Unzen Jepang 1972, banyaknya korban jiwa saat itu hingga mencapai 15.000 jiwa disebabkan karena pada saat yang bersamaan sedang terjadi gelombang pasang.

Mekanisme keempat yakni karena aliran piroklastik atau sering disebut sebagai wedus gembel yang turun menuruni lereng dengan kecepatan tinggi saat letusan terjadi, bisa mendorong muka air jika gunung tersebut berada di atau dekat pantai. "Tsunami tipe ini pernah terjadi saat Mt. Pelee, Martinique meletus pada 8 Mei 1902. Saat aliran piroklastik Mt. Pelle yang meluncur dan menuruni lereng akhirnya mendorong muka laut dan menghasilkan tsunami," tambahnya.

Volcanogenic tsunami akibat longsor atau pun aliran piroklastik umumnya akan menghasilkan tinggi gelombang yang lebih kecil dibandingkan dua penyebab sebelumnya. Namun demikian, bisa sangat merusak dan berbahaya karena tidak didahului oleh surutnya muka air laut, seperti yang terjadi di Selat Sunda tadi malam. "Diperlukan penelitian lebih lanjut buat memastikan penyebab utama Tsunami di Selat Sunda," pungkasnya.

*Tulisan kiriman Dr. Mirzam Abdurrachman