Berita / Utama

Polusi Cahaya Menjadi Tantangan Pengamatan Bintang di Observatorium Bosscha

Adi Permana - Senin, 10 Desember 2018, 08:24:47 - Diperbaharui : Selasa, 11 - Desember - 2018, 18:01:13


BANDUNG, itb.ac.id -- Selama 90 tahun berdiri, Observatorium Bosscha telah banyak menyumbangkan hasil pengamatan dan penelitian di bidang astronomi. Namun tentu saja diperlukan kondisi langit yang bersih dan tidak terganggu oleh polusi cahaya demi pengamatan yang lebih maksimal.


Kepala Observatorium Bosscha, Premana W. Premadi memaparkan bahwa tingkat polusi cahaya di daerah Lembang semakin meningkat tiap tahunnya. Hal tersebut membuat pengamatan bintang menjadi terbatas. “Tingkat polusi meningkat karena Kota Bandung semakin terang, sehingga cakupan langit (untuk pengamatan) semakin menyempit,” ujar Nana, sapaan akrabnya.

Hal tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar untuk Observatorium Bosscha dalam melanjutkan peran positifnya dalam astronomi. Upaya mengurangi polusi cahaya, ITB berharap peran Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta instansi-instansi terkait untuk secara proaktif mengurangi polusi cahaya di kawasan cekungan Bandung melalui aturan-aturan tata cahaya sebagaimana tercantum pada Peraturan Presiden No. 45 Tahun 2018 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Bosscha adalah membagikan tudung lampu secara gratis guna meminimalisasi polusi cahaya kepada beberapa daerah di Lembang. Kegiatan tersebut diimbangi dengan sosialiasi kepada masyarakat sekitar dan melalui pendidikan di sekolah dasar tentang pentingnya menjaga langit dari polusi cahaya.

*ilustrasi arah lampu yang tepat untuk mengurangi polusi cahaya (Sumber: Observatorium Bosscha)

Polusi Cahaya diakibatkan penggunaan yang tidak tepat atau berlebihan dari cahaya buatan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan terhadap lingkungan sekitar. Contoh polusi cahaya yaitu penerangan berlebihan untuk jalan umum, reklame, dsb. Selain mengganggu aktivitas pengamatan bintang, polusi cahaya juga dapat mengganggu kesehatan dan kesetimbangan ekosistem.

Akibat polusi cahaya, cahaya bintang di langit kalah terang dengan cahaya buatan sehingga bintang-bintang sulit diamati. Cara mencegah polusi cahaya dapat dilakukan dengan menggunakan cahaya hanya saat diperlukan, pastikan cahaya yang digunakan tidak berlebihan. Lalu arahkan lampu hanya pada tempat ruang dituju untuk diterangi dan gunakan jenis lampu yang dianjurkan untuk mencegah polusi cahaya.

*Sumber: Observatorium Bosscha
Dalam acara peringatan ulang tahun Teleskop Zeiss ke-90 beberapa waktu yang lalu, Sabtu (1/12/2018), Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, Prof. Edy Tri Baskoro, M.Sc., Ph.D., ITB mengatakan, kualitas langit yang baik, dan bersih dari polusi udara dan polusi cahaya, diperlukan secara lebih luas untuk kualitas hidup yang baik umat manusia, keanekaragaman hayati, dan keseimbangan ekosistem, yang merupakan bagian amat penting dari pembangunan berkelanjutan, terutama di Indonesia.

Kontribusi Teleskop Zeiss

Observatorium Bosscha dibangun atas dasar keinginan kuat para pendirinya untuk berperan dalam sains dunia dengan memanfaatkan keunikan posisinya di ekuator dan tingginya potensi sumber daya manusia. Teleskop  berdiameter 60 centimeter dengan panjang sekitar 11 meter tersebut resmi diserahkan oleh K.A.R. Bosscha pada 1 Juni 1928. Kiprahnya dalam perkembangan ilmu fisika bintang disalurkan salah satunya melalui pengamatan bintang ganda yang menjadi program prioritas. 

Peneliti di Observatorium Bosscha, Muhammad Yusuf, mengatakan sudah ada 12.000 pengamatan yang dilakukan oleh Teleskop Zeiss, termasuk 3.000 pasang bintang dan 4 pasang bintang telah diamati secara periode penuh serta menghasilkan lebih dari 20 publikasi di jurnal internasional. “Zeiss merupakan teknologi teleskop yang impresif, tidak hanya di zamannya, namun hingga sekarang” ujarnya.

Sampai dengan tahun 1980-an, teleskop terbesar dan tertua di Observatorium Bosscha ini menggunakan sistem detektor fotografi. Hingga akhirnya teknologi detektor digital berupa CCD astronomi mulai digunakan sejak awal 1990-an. Setelah itu, instrumentasi teleskop terus dimodernisasi. Perawatan yang konsisten menjadi kunci teleskop masih berfungsi dan berjalan dengan baik hingga kini.

Reporter: Rayi Hanjani dan Adi Permana