Berita / Utama

Air Hujan Dapat Disimpan untuk Kebutuhan Musim Kemarau

Adi Permana - Kamis, 22 November 2018, 14:17:38 - Diperbaharui : Selasa, 27 - November - 2018, 15:47:58
*Foto: YouTube

BANDUNG, itb.ac.id -- Air yang melimpah di saat musim hujan, ternyata dapat dimanfaatkan dengan cara menyimpan air hujan tersebut. Sehingga di saat kemarau datang, tidak terjadi lagi krisis air yang belakangan sering dialami beberapa daerah di Indonesia termasuk Jawa Barat.

Guru Besar Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Prof. Ir. Indratmo, M.Sc, Ph.D., menjelaskan cara menyimpan air hujan bisa dilakukan dengan berbagai cara, bisa dengan rekayasa secara teknik maupun secara vegetatif. Hal itu seperti yang Prof. Indratmo sampaikan saat talkshow bersama Radio El-Shinta Bandung, belum lama ini.

"Air yang melimpah di saat musim hujan, bisa disimpan dengan cara menyimpan air sejak di hulu sungai. Bisa disimpan pada bagian tengah DAS sungai maupun pada hilir sungai. Penyimpanan tersebut bisa dilakukan di atas permukaan tanah maupun di bawah permukaan tanah," kata Guru Besar di Kelompok Keahlian Teknik Sumber Daya Air itu.

Dijelaskan Prof. Indratmo, pada bagian hulu penyimpanan air dapat dilakukan dengan cara vegetatif. Proses penyimpanan air ini berhubungan dengan konservasi lahan. Fungsi dari kehadiran lahan konservasi ini, ketika hujan turun air tidak langsung mengalir ke hilir tapi tersimpan sebagian di dalam tanah dan akan tersaring sehingga menghasilkan kualitas air yang bagus yang sering keluar dari mata air. "Kita tahu tanah itu adalah filter yang paling istimewa. Jadi kalau kita punya hutan lindung yang baik, air tanah yang dihasilkan juga akan baik karena terjadi proses filterasi di dalam tanah," ucapnya.

Cara penyimpanan air yang kedua, yaitu dengan rekayasa. Misalnya melakukan revitalisasi situ untuk di hulu sungai dan pembuatan embung sungai. Jika aliran sungainya besar dan panjang seperti Citarum, pada bagian tengah aliran sungai dibuat waduk seperti yang sudah dilakukan yaitu Waduk Saguling, Waduk Cirata, dan Jatiluhur.

"Di Jabar, tempat seperti itu tidak harus dibangun di sungai utama atau sungai Orde Satu tapi pada anak sungai juga bisa dibuat waduk atau embung dengan ukuran yang besar. Bagian hilir juga bisa dibuat secara rekayasa dengan membuat waduk pada muara," ujarnya.

Pada skala mikro setiap rumah juga bisa melakukan penyimpanan air. Misalnya dengan pembuatan lubang biopori, dan sumur-sumur resapan. Ketika hujan datang, masyarakat dapat membuat tangki penampungan di atap rumah. Airnya bisa dipakai kebutuhan sehari-hari. "Itu sangat mudah dan sangat bisa dilakukan. Bisa pakai tangki yang ada atau kita membuat bak-bak di dalam tanah dan air itu bisa kita manfaatkan pada musim kemarau. Itu juga bisa membantu mengurangi banjir. Pada waktu musim hujan besar airnya kita tampung, di akhir musim kemarau baru kita pakai untuk kebutuhan musim kemarau," ujarnya.

Pemerintah sendiri telah menjalankan program Citarum Harum untuk menormalisasi Sungai Citarum. Menurut Prof. Indratmo, program tersebut harus berdasarkan perencanaan yang baik, komprehensif, diimplementasikan secara benar dan konsisten. "Jangan dipandang sebuah proyek tapi program yang berkelanjutan. Leadership, visi yang jelas, program ini tidak akan berhasil kalau tidak melibatkan masyarakat secara aktif. Masyarakat ini harus berposisi sebagai subjek yang memiliki tanggungjawab dalam meningkatkan program citarum harum," ujarnya.