Berita / Utama

Khoirul Anwar: Indonesia Baru Siap dengan 5G pada 2022

Adi Permana - Jumat, 16 November 2018, 11:22:21 - Diperbaharui : Jumat, 16 - November - 2018, 17:12:47
BANDUNG, itb.ac.id -- Kemajuan teknologi komunikasi telah banyak membawa perubahan terhadap kehidupan manusia. Setelah hadirnya 4G di Indonesia, kini dunia Internasional tengah mempersiapkan diri untuk peluncuran generasi selanjutnya yaitu 5G.



Pada Studium Generale KU-4078, Rabu (14/11/2018) lalu, Institut Teknologi Bandung menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Eng. Khoirul Anwar, S.T.,M.Eng., untuk mengupas tentang era 5G di masa yang akan datang terutama bagi Indonesia. Tema yang diangkat dalam SG tersebut ialah "Menghadapi berbagai perubahan dalam era 5G dalam bidang Teknologi, Bisnis dan Sosial."

Dosen Telkom University ini mengatakan, pada 2020 teknologi 5G akan diimplementasikan oleh negara-negara maju. Sementara untuk Indonesia, baru siap menerapkan 5G tahun 2022 mendatang. Simpulannya tersebut didapat sepulang dari 5G International Symposium 2018 di Jepang. "Keputusan ini berdasarkan hasil diskusi dengan Kominfo, kita menunda dulu dua tahun untuk 5G," ungkap Khoirul.

Dia mengatakan, implementasi dari 5G sendiri di Indonesia, akan diterapkan pada bidang agriculture, disaster, transportasi. Sebab Indonesia memiliki karakteristik wilayah yang berbeda dengan negara-negara lain. Dalam teknologi 5G Khoirul menjelaskan bahwa terbagi menjadi 3 bagian utama. Untuk jaringan Broadband atau eMBB (Enhanched Mobile BroadBand) kecepatan sinyalnya mencapai 20GB/s. Kedua ada UR LLC (Ultra Reliable Low Latency Communications) lalu kemudian MMTC (Massive Machine Type Communications).



Penundaan implementasi 5G dipengaruhi oleh berbagai hambatan seperti luasnya wilayah di Indonesia, infrastruktur yang kurang mendukung, masih ada daerah yang belum tercover untuk 4G dan kesiapan dari provider telekomunikasi di Indoneisa. 

Khoirul Anwar dikenal sebagai penemu 4G. Penelitiannya di bidang ini, bahkan masuk dalam standar ITU-T. ITU-T (International Telecommunication Union of Telecommunication) adalah standar internasional dibidang Telekomunikasi. 

Menurut Khoirul, semakin banyak suatu negara mengembangkan teknologi, akan menambah pertumbuhan ekonomi. Setelah meraih gelar magister, doktor dan menjadi dosen di Jepang, ia memutuskan untuk kembali ke Tanah Air dan mendirikan Center for Advance Wireless Technologies (Adwitech). Pada Juni 2015 Khoirul juga menginisiasi didirikannya Indonesia 5G forum (i5GF).

Khoirul yang juga merupakan alumni ITB ini, mengatakan target dari implementasi 5G adalah 20 gigabyte per second. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi setelah 5G ini hadir misalnya, kemampuan komunikasi dalam bentuk hologram, operasi di rumah sakit dilakukan dokter dalam jarak jauh, save driving car untuk transportasi dan untuk disaster. "Penerapan 5G ini perlu kestabilan jaringan yang bagus," ujarnya.