Berita / Utama

Raih Kemandirian Bangsa di Bidang Teknologi Katalis, Menristekdikti RI Resmikan Industri-Katalis Pendidikan di ITB

Ahmad Fadil - Kamis, 11 Oktober 2018, 20:11:31 - Diperbaharui : Jumat, 12 - Oktober - 2018, 07:25:03

BANDUNG, itb.ac.id - Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, Prof. M. Nasir, Ph.D, A.K, meresmikan Industri Katalis Pendidikan di Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (FTI-ITB) pada hari Kamis (11/10).

Peresmian ini didahului kunjungan Menristekdikti Prof M. Nasir bersama Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Dr. Ir. Jumain Appe, M.Si., Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Prof. Intan Ahmad, ke fasilitas industri-katalis pendidikan di ITB. 

Program industri-katalis pendidikan ini merupakan tahun kedua pelaksanaan program penguatan inovasi dari Kemenristekdikti yang diperoleh ITB pada tahun 2017.


Industri-katalis pendidikan telah menghasilkan katalis yang mengubah sawit menjadi biodiesel, bioavtur, dan biogasoline. Penelitian eksploratif dalam merancang dan mensintesis katalis dimulai sejak 25 tahun lalu oleh Prof. Subagjo dan para peneliti di Teknik Kimia bersama sejumlah mahasiswa S1, S2, dan S3 di ITB.

Didukung PT. Pertamina (Persero), uji coba katalis telah dilakukan di beberapa kilang minyak dan telah diproduksi secara massal pertama kali oleh PT. Pupuk Iskandar Muda.

Dalam sambutannya Prof. M. Nasir mendukung para peneliti di Indonesia, khususnya ITB lewat keberpihakan pemerintah melalui regulasinya agar hasil-hasil penelitian dapat diproduksi secara massal di dalam negeri. Menristekdikti mengatakan tidak ada lagi biaya perawatan paten yang harus dibayar peneliti. "Biaya perawatan paten itu sudah tidak ada lagi (dicabut) sejak 2016 karena membelenggu para peneliti yang belum mampu memproduksi paten hasil penelitiannya", ujar Nasir.

Senior Vice President Research & Technology Center (RTC) Pertamina Herutama Trikoranto, mengatakan katalis yang dibuat ITB tidak hanya dapat menggantikan katalis yang sudah ada namun juga secara kualitas lebih baik. "Katalis merah putih (NHT) telah kita uji coba kan di hampir semua kilang minyak, tidak hanya menggantikan, tetapi juga quality nya juga lebih baik karena efisiensinya lebih besar".

Herutama juga mengatakan semua kilang minyak  80% proses didalamnya membutuhkan katalis yang dibeli secara import. Pembelian katalis setiap tahunnya berkisar 100 hingga 120 juta dolar, atau lebih dari satu trilyun rupiah. Katalis buatan dalam negeri dinilai bisa menghemat belanja negara yang mencapai trilyunan rupiah per tahunnya.

Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi,DEA., pada kesempatan yang sama mengucapkan terima kasih, dan dalam pidato sambutannya mengatakan bahwa ITB telah mendeclare dari riset university menjadi entrepreneur university. "Kami telah melakukan pemetaan karya dan inovasi baik yg berbasis digital maupun non digital. Katalis ini merupakan inovasi non digital", ujar Kadarsah. Tanpa dukungan pemerintah dan industri maka Entrepreneurial University akan sulit terwujud.

Program industri-katalis pendidikan ini merupakan bentuk kesuksesan dari sinergi kerjasama A-B-G (Academic, Business, dan Government), dalam rangka mencapai kemandirian bangsa Indonesia di bidang teknologi katalis, dan juga meraih kepercayaan pasar internasional terhadap karya anak bangsa.