Berita / Utama

Kepala Bekraf Tunjukkan ‘Islands of Imagination’ Indonesia di hadapan ratusan mahasiswa peserta Studium Generale ITB

Vera Citra Utami - Kamis, 11 Oktober 2018, 17:08:26 - Diperbaharui : Jumat, 12 - Oktober - 2018, 08:58:56


* Triawan Munaf (tengah), berpose "salam kreatif" dengan Dr. Imam Santosa, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain sekaligus moderator (kiri), dan Prof. Bambang Riyanto Trilaksono, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan (kanan).


BANDUNG, itb.ac.id - Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menyelenggarakan kegiatan kuliah umum Studium Generale (SG) KU-4078 dengan menghadirkan pembicara dari pimpinan instansi pemerintah Republik Indonesia.  Mata kuliah SG KU-4078, Rabu (10/10/2018) kali ini diisi oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Bapak Triawan Munaf. 

Kuliah Umum dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan (WRRIM) ITB, Prof. Bambang Riyanto. Dalam sambutannya, beliau menghaturkan terima kasih atas kesediaan Bapak Triawan Munaf yang disela-sela kesibukannya sebagai Kepala Bekraf masih dapat memenuhi undangan dari ITB. 

Bertempat di Aula Barat ITB, kegiatan kuliah umum yang dimoderatori oleh Dr. Imam Santosa, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, diikuti sekitar 900 orang mahasiswa dari berbagai Program Studi. 

Di awal paparannya, Triawan mengatakan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki beragam kultur, yang bisa membawa energi besar bagi kemajuan bangsa. Ia pun menceritakan bagaimana idenya dapat diterima oleh Presiden Republik Indonesia sehingga motto Energy of Asia menjadi slogan yang dipublikasikan bersamaan dengan ASIAN GAMES yang baru saja usai beberapa waktu yang lalu di Indonesia. 

Lewat video berjudul "Islands of Imagination", para peserta SG dapat melihat ilustrasi keragaman budaya Indonesia yang sarat akan makna. Bekraf adalah lembaga pemerintah nonkementerian yang berada dibawah Presiden RI secara langsung. Menurut Triawan, lembaga negara yang dipimpinnya mengemban tugas yang tidak mudah, yaitu mengurus hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan ekonomi kreatif di bidang desain, film, kuliner, musik, penerbitan, seni rupa, seni pertunjukan, game developer, dan lain-lain.

Lebih lanjut ia mengatakan perputaran ekonomi kreatif tidak kalah pentingnya dibandingkan sektor belanja peralatan militer dan migas. “Perputaran nilai ekonomi global sektor ekonomi kreatif saat ini sudah mencapai 2,5 kali lipat total belanja negara terhadap peralatan militer. Di tahun 2012 saja, bahwa hanya industri hiburan yang merupakan sektor penting dalam ekonomi kreatif nilainya telah mencapai 2,2 trilyun dolar amerika atau setara dengan 230 persen total ekspor migas seluruh anggota negara OPEC,” ujar Triawan.

Indonesia merupakan negara kepulauan berjumlah lebih dari 17.000 ribu pulau dengan ribuan etnis serta budaya yang harus dapat didongkrak perekonomiannya. "Indonesia bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi kreatif di dunia dengan cara memanfaatkan kondisi indonesia yang strategis. Kita perlu mengembangkan ide-ide ekonomi kreatif," ujar pria kelahiran Bandung ini.

* Triawan Munaf memberikan kuliah umum di Aula Barat ITB, Rabu (10/10/2018)


Setelah 4 tahun didirikan oleh Presiden RI di tahun 2015, Bekraf berhasil menempatkan Indonesia di posisi ketiga setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan. Hal tersebut dapat dilihat dari kekuatan ekonomi kreatif dunia atas sumbangan sebesar 7.30% terhadap GDP (Gross Domestic Product). Angka tersebut merupakan angka yang fantastis menurutnya, dan sedang diusahakan untuk terus meningkat.

"Tantangan nyata bagi Bekraf adalah bagaimana mengemas produk-produk kultur dan aset kemanusiaan menjadi sesuatu yang kontemporer dan disukai oleh khalayak umum dan laku di mata dunia," kata Triawan. Contoh nyata dalam menghadapi tantangan tersebut adalah ketika persiapan ASIAN GAMES lalu. Tiga maskot satwa langka dari Indonesia yang kita kenal dengan nama Bhin Bhin (burung cenderawasih), Atung (rusa bawean), dan Kaka (badak bercula satu) adalah ciptaan sebuah perusahaan desain profesional yang dipilih secara ketat melalui proses pitching dibawah naungan Bekraf.

Di akhir paparannya, Triawan menekankan bahwa tugas Bekraf adalah, memastikan bahwa Indonesia bukan hanya negara dengan jutaan kultur saja, tapi juga sebuah negara dengan berjuta kesempatan yang bisa dikembangkan. "Saya ingin mengajak ITB untuk lebih banyak terciptanya gagasan-gagasan baru untuk memperkaya peradaban dan menjadikan Indonesia sebagai bangsa pemenang," tutupnya.