Berita / Utama

Letusan Krakatau 2018, Menunjukkan Suatu Urutan Erupsi Yang Lengkap

Fivien Nur Savitri, ST, MT - Rabu, 3 Oktober 2018, 04:21:52 - Diperbaharui : Rabu, 3 - Oktober - 2018, 05:55:14
BANDUNG, itb.ac.id -- Terletak di Selat Sunda Provinsi Lampung, Anak Krakatau berada diantara Pulau Panjang,  Sertung dan Pulau Rakata. Anak Krakatau disebut-sebut sebagai tempat yang baik karena dapat mempertemukan fenomena kearifan lokal, serta gabungan letusan efusis maupun eksplosif yang bisa dijelaskan secara sains. 
Volkanolog asal ITB, Dr. Mirzam Abdurrachman, ST., MT., mengatakan Anak Krakatau baru muncul ke permukaan sejak tahun 1927. “Sejak tahun tersebut, Anak Krakatau tumbuh besar dan mempesona,” ujar Mirzam. Anak Krakatau adalah sisa sejarah panjang letusan Krakatau Purba yang berlangsung sejak abad ke-5, hingga letusan di tahun 1883 yang hanya menyisakan Rakata, Panjang dan Sertung. 

Hampir setiap tahun Anak Krakatau memperlihatkan aktivitas vulkanisme. Pola letusannya pun kini tercatat semakin teratur sejak tahun 2008. Letusan eksplosif dan efusi tersebut datang silih berganti setiap 2 tahun sekali dan membentuk sebuah pola.

Pola yang konstan ini terus berlangsung hingga 2018. Sempat pada awal tahun 2017, tepatnya bulan Februari, anak krakatau ini mengeluarkan lava. “Tak biasanya Anak Krakatau mengeluarkan lava,” kata Mirzam menerangkan kepada humas ITB. 

Beberapa hari terakhir ini, Mirzam mengatakan aliran lava mulai meluncur menuruni lereng selatan Anak Krakatau, yang sesekali diawali dengan keluarnya lava fountain.  “Keluarnya lava fountain diikuti aliran lava ini adalah pertunjukan utama dalam suatu tahapan letusan gunung api,” kata Mirzam. 

Ia menjelaskan lebih lanjut, di awal erupsi, eksplosif Anak Krakatau akan menunjukan kolom erupsi yang cukup tinggi dengan sesekali terlihat blok maupun bom vulkanik yang terlontar secara balistik layaknya bola baseball. 

Seiring berjalannya waktu tinggi kolom erupsi berkurang, yang diiringi dengan peningkatan kandungan material pumis dan batu apung. Hal ini mengindikasikan terjadinya dekompresi magma di Anak Krakatau.

“Anak Krakatau terlihat sudah mulai memasuki tahapan akhir dalam tahapan erupsi lengkapnya”, kata Mirzam pada hari Minggu (30/9). Erupsi terjadi hanya berupa kolom abu vulkanik beberapa puluh meter,  meskipun sesekali masih terlihat warna merah dari material lava yang muncul kepermukaan. 

Mirzam menutup perbincangan bahwa ada satu hal pelajaran penting yang diberikan Anak Krakatau saat meletus di tahun 2018.  “Anak Krakatau di tahun 2018 meletus dengan urutan erupsi yang lengkap, yang artinya ia (Anak Krakatau) menunjukan suatu urutan erupsi yang sangat ideal,” pungkas Mirzam.

__
Artikel Kiriman Dr. Mirzam Abdurrachman, ST.,MT.