Berita / Akademik

13 Tahun Berdiri, CRS ITB Gelar Kuliah Umum Penginderaan Jauh

Adi Permana - Kamis, 27 September 2018, 08:51:56 - Diperbaharui : Kamis, 27 - September - 2018, 15:40:20

BANDUNG, itb.ac.id – Memperingati 13 tahun berdiri, Center for Remote Sensing (CSR) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar kuliah umum bertajuk “Analisis Big Data Penginderaan Jauh Global untuk Mendukung Ketercapaian Sustainable Development Goals (SDG’s)” di Gedung CRCS - ITB, Jalan Ganesha no 10 Bandung, Rabu (26/9/2018).

Kuliah umum tersebut diisi oleh Dr. Eng. Anjar Dimara Sakti, M Sc., peneliti di CRCS dalam bidang Pengembangan Database Global. Acara ini turut dihadiri perwakilan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), juga mahasiswa ITB yang memiliki riset terkait penginderaan jauh maupun SDG’s.

Penginderaan jauh memiliki peranan penting sebagai pendekatan untuk pemecahan masalah di dunia dalam beberapa tahun terakhir. Dr. Anjar memaparkan penelitiannya tentang pemanfaatan penginderaan jauh untuk menyelesaikan masalah pada tiga dari 16 poin SDG’s saat ini yaitu pangan, air, dan energi dalam skala global.

Berlatar data bahwa masih banyak negara-negara yang kekurangan air, makanan, dan sedang krisis energi serta kebutuhan ketiga hal dasar tersebut yang semakin meningkat, Dr. Anjar mencoba mencari area yang potensial untuk mendapatkan lebih banyak air bersih dan meningkatkan luas area irigasi pada skala global. 

Dia kemudian mengolah data besar (big data) berupa informasi citra dari berbagai tempat di dunia dalam waktu 15 tahun. Hasilnya dari pencarian informasi tersebut, dapat menentukan efisiensi irigasi pada setiap pixel daerah yang dipetakan sehingga dapat ditentukan lokasi-lokasi yang efektif dimanfaatkan sebagai saluran irigasi dan mendukung ketersediaan pangan, air, serta energi global.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki potensi untuk menjaga pasokan air bersih, pangan, dan energinya sendiri. Sebab Indonesia terletak di posisi sentral dan menguntungkan, yaitu daerah tropis yang tidak terlalu terpengaruh pada perubahan iklim. "Tidak hanya cukup untuk memasok kebutuhan dalam negeri, namun Indonesia akan menjadi pemasok kebutuhan dunia,” ujar Dr. Anjar. 

Sementara itu, Ketua CRS-ITB, Prof. Ketut Wikantika, menyampaikan bahwa isu pada kuliah umum ini begitu penting, karena penginderaan jauh merupakan instrumen yang paling praktis untuk menganalisis dan memberikan saran kepada suatu masalah. Prof. Ketut berharap, CRS selalu bisa berkontribusi bagi ITB dan Indonesia melalui pengembangan teknologi penginderaan jauh. Kuliah umum sebagai peringatan berdirinya CRS-ITB ini ditutup dengan tumpengan bersama seluruh partisipan.

Reporter: Nur Faiz Ramdhani