Berita / Utama

Gempa 6,7 SR di NTT Tak Berkaitan dengan Gempa di Lombok

Adi Permana - Minggu, 19 Agustus 2018, 12:01:05 - Diperbaharui : Senin, 20 - Agustus - 2018, 07:56:19
*Salah seorang warga di Desa Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat mengangkut sisa-sisa barang dari reruntuhan rumah yang rusak karena gempa 7.0 Skala Richter. Banyak warga mendirikan posko pengungsian sebagai tempat tinggal sementara karena rumah mereka rusak. 

BANDUNG, itb.ac.id -- Gempa bumi dengan kekuatan 6,7 Skala Richter (SR) mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat malam (17/8/2018) sekitar pukul 22.35 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, gempa tersebut berpusat di laut pada kedalaman 559 kilometer dengan koordinat pusat gempa ialah 7.55 LS dan 119.89 BT atau berada pada radius 125 kilometer arah barat laut Manggarai Barat, NTT.

Menurut Mirzam Abdurrachman, Dr.Eng. ST., MT., dari Kelompok Keahlian Petrologi, Vulkanologi dan Geokimia, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, gempa tersebut tidak memiliki kaitan dengan gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Karena gempa di Flores ini disebabkan oleh slab pull.

Slab pull adalah pergerakan lempeng akibat subduksi. Lempeng samudra yang dingin dan berat masuk dan menunjam ke mantel akibat pengaruh tarikan gravitasi di palung. Saat menunjam lempeng tersebut bisa patah akibat tarikan tersebut dan inilah yang menyebabkan mekanisme gempa di Laut Flores.

"Gempa Flores kali ini bertipe subduction earthquacke akibat slab pull, juga tentu dirasakan hingga Lombok, namun masyarakat lombok diharapkan tetap tenang karena gempa ini bukan gempa susulan dari gempa lombok kemarin," ucapnya kepada Humas ITB, Sabtu (19/8/2018).

Mirzam melanjutkan, gempa kali ini yang terjadi di laut dengan kedalaman 559. Meski pusat gempa di laut namun tidak berpotensi tsunami. Selain itu, karena pusat gempa begitu dalam, dampaknya tak akan semerusak gempa Lombok.

"Ini dipastikan gempa kali ini tidak berkaitan dengan gempa lombok. Jadi sekalipun terasa di sana karena posisi kedekatan geografi saja," katanya. 

*Pengendara sepeda motor sedang melintas di salah satu rumah warga yang rusak akibat gempa di Lombok beberapa waktu lalu.

Hal tersebut juga dibenarkan ahli geologi struktur dan tektonik yang juga Dekan FITB-ITB, Ir. Benyamin Sapiie P.hD., dari Kelompok Keahlian Geodinamika dan Sedimentologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB. Menurutnya gempa Flores memang berbeda dengan yang terjadi di Lombok. 

"Gempa yang baru berbeda dengan Lombok kemarin, yang ini (Flores) dalam sekali, sehingga gempa kali ini berkaitan dengan subduksi bukan back-arc Thrust. Salah satu interpretasi mechanism namanya slab pull," tuturnya.

BMKG mencatat guncangan akibat gempa ini terasa di sejumlah daerah di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Bali. Gempa ini terasa pada skala IV MMI di kawasan Bima dan Lombok Utara, NTB. Guncangan gempa juga terasa pada skala III-IV MMI di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, NTT. 

Sementara di kawasan Mataram, Lombok Tengah, Denpasar dan Kuta, gempa tersebut dirasakan pada skala III dan II-III MMI. Gempa ini pun terasa pada skala lebih kecil, yakni II MMI di Lombok Barat.

Gempa Sukabumi
Sementara itu, gempa bumi juga terjadi di Sukabumi, Jawa Barat dengan kekuatan 4,7 Skala Richter (SR) pada Sabtu (18/8/2018) pukul 00.22 WIB. Titik gempa berada di laut, 68 km barat daya Kota Sukabumi dengan kedalaman 35 kilometer. Hal itu seperti dirilis BMKG.

Dijelaskan Ir. Benyamin Sapiie, Ph.D.,tanah dan Geologi di sukabumi sangat rentan sehingga walaupun gempanya kecil efeknya dapat menyebabkan kerusakan yang besar

"Saya masih mengamati kedalaman gempanya karena jika gempanya kecil memang sulit mendapatkan kedalaman yang pasti. Selain itu Sukabumi dilalui oleh sesar Cimandiri, sehingga mempunyai efek langsung dari sesar tersebut jika aktif, maka daerah ini juga bisa terdampak oleh Gempa akibat subduksi di selatan Pulau Jawa," katanya

Menurut laporan BMKG, gempa bumi ini dirasakan di Pangalengan dalam skala intensitas I SIG-BMKG (II MMI), di Cianjur dan Sukabumi II SIG-BMKG (II-III MMI). Namun hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempa bumi tersebut.