Berita / Utama

FGB ITB Gelar Seminar Nasional Strategi Pengelolaan Terpadu Penyelesaian Permasalahan DAS Citarum

Ahmad Fadil - Kamis, 16 Agustus 2018, 13:10:51 - Diperbaharui : Jumat, 17 - Agustus - 2018, 04:53:27

BANDUNG, itb.ac.id – Forum Guru Besar Institut Teknologi Bandung (FGB ITB) mengadakan seminar nasional bertajuk Strategi Pengelolaan Terpadu Penyelesaian Permasalahan DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum dengan menghadirkan 9 narasumber dari berbagai bidang.

Seminar Nasional yang bertempat di Aula Timur ITB,  pada Rabu, (15/08/2018) ini mengumpulkan Guru Besar-Guru Besar ITB dari berbagai kelompok keahlian untuk membantu pemerintah menyelesaikan permasalahan DAS Citarum dari berbagai sudut pandang keilmuan.

Mereka yang hadir sebagai narasumber adalah, Prof. M. Syahril Badri Kusuma, Bapak Irwan Saleh dari Bappenas, Prof. Lambok M. Hutasoit, Prof. Dr. B. Kombaitan, Prof. Mindriany Syafila, Prof. Tjandra Setiadi, Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha, Prof. Yasraf Amir Piliang dan Pak Bob dari Balai Besar Wilayah Sungai Citarum.

Presentasi diawali oleh Prof. M. Syahril Badri Kusuma yang memaparkan tentang Pengantar dan Strategi Makro. Pada presentasinya, ia menekankan fluktuasi debit air sungai Citarum yang berdampak besar bagi kehidupan, sehingga diperlukan skenario penanganan berupa river function, water nexus and restoration yang disebut dengan Water Shed Management.

Kemudian paparan mengenai Infrastruktur air untuk pengembangan wilayah oleh Bapak Irwan Saleh. Pemaparannya dimulai dari penjelasan singkat mengenai visi Indonesia di tahun 2045, yaitu Indonesia diharapkan dapat menempati urutan ketujuh dari negara termaju di PBB. Untuk mencapai visi tersebut, ia mengungkapkan ada konsekuensi yang harus dihadapi, yaitu perubahan perilaku masyarakat terutama yang berada di daerah aliran sungai Citarum yang notabene merupakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Lebih lanjut narasumber dari BBWS Citarum mengatakan bahwa badan ini memiliki program dan matrik untuk terwujudnya pengelolaan sumber daya air secara adil, menyeluruh, terpadu, dan berwawasan lingkungan. Hal tersebut untuk mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan dengan mendorong peran serta masyarakat dan dunia usaha di wilayah sungai Citarum. Visi ini dikatakan olehnya berdasarkan pada Peraturan Menteri PUPR 20/PRI/M/2016.

Dari sudut pandang Geologi, Prof. Lambok M. Hutasoit menjelaskan bahwa sungai Citarum sendiri melewati batuan yang bervariasi, yang masing-masing memiliki erodibilitas yang berbeda-beda. Prof Lambok mengatakan bahwa  untuk mencegah banjir dan kekeringan dapat diterapkan teknologi sederhana yaitu artificial recharge atau dapat disebut peresapan buatan.

Prof. Dr. B. Kombaitan disini memaparkan penyelesaian permasalahan DAS Citarum dari perspektif penataan ruang wilayah dan pengembang kebijakan. Beliau menekankan bahwa aspek yang paling berpengaruh dari perspektif ini adalah transfer kepengurusan lahan atau land trust mechanism. Sedangkan Prof. Mindriany Syafila memaparkan mengenai perspektif rekayasa air dan limbah cair dimana menurutnya sangat penting untuk memperhatikan karakterisik limbah cair agar pengolahan yang akan dilakukan tepat dan sesuai dengan target pengolahan.

Prof. Tjandra Setiadi hadir sebagai narasumber dengan topik mengurangi limbah dari proses produksinya. Beliau mengusulkan solusi, yaitu mengajak industri untuk melakukan efisiensi sumber daya alam dengan menerapkan Resource Efficiency and Cleaner Production (RECP).

Selanjutnya, Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha menyampaikan dari sudut pandang biologi. Profesor Nyoman menekankan bahwa masyarakat sangat perlu memiliki edukasi dan kesadaran terkait pentingnya ekosistem yang baik. “Manusia tidak akan bisa survive di dunia ini jika ekosistem rusak,” ujarnya.

Tak ketinggalan dari sudut sosial budaya juga dibahas disini. Diterangkan oleh Prof Yasraf Amir Piliang, bahwa pranata sosial, yaitu pihak yang menanamkan kebiasaan dan perilaku, baik dari segi keagamaan, segi ekonomi, pertanian, maupun sosial seharusnya juga ikut dalam penanganan daerah aliran sungai Citarum ini.

Pemaparan kemudian ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab antara narasumber dengan hadirin seminar. Acara ini diikuti oleh civitas akademika ITB dan undangan.

Reporter: Monica Stephanie