Berita / Akademik

3 Pendiri Start-Up Berbagi Tips Sukses Berwirausaha kepada Mahasiswa Baru ITB

Adi Permana - Rabu, 8 Agustus 2018, 17:57:30 - Diperbaharui : Jumat, 10 - Agustus - 2018, 17:03:55
BANDUNG, itb.ac.id -- Tiga pendiri start-up di Indonesia menjadi pembicara dalam Talkshow Kewirausahaan untuk mahasiswa baru program sarjana Institut Teknologi Bandung tahun akademik 2018/2019. Mereka adalah Achmad Zaky Founder Bukalapak, Derianto Kusuma CTO & Co-Founder Traveloka, dan Hari Tjahjono President and co-Founder of PT Abyor International.

Bertempat di Gedung Sasana Budaya Ganesha, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu (8/8/2018), ketiga pengusaha yang tengah naik daun namanya itu berbagi pengalaman dan motivasi kepada 4.105 mahasiswa baru agar selalu berani berinovasi dan bermimpi untuk sukses di masa depan. Acara tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Tahap Persiapan Bersama (LTPB) ITB.

Hari Tjahjono yang juga merupakan alumni Teknik Mesin ITB ’84 menceritakan pengalamaannya dalam membangun PT Abyor International yang bergerak dalam penyediaan konsultasi TI. Perusahannya itu dirintis ketika dirinya berusia 44 tahun. Walaupun sudah tidak di usia muda, ia menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk menjadi pengusaha. “Menjadi pengusaha, berarti kita telah membantu pemerintah membuka lapangan pekerjaan,” ungkapnya. 

Sebagai pengusaha, banyak rintangan yang harus dihadapi. Apalagi untuk perusahaan baru yang mesti mendapatkan kepercayaan kuat dari pelanggan pertamanya. Di saat itulah karakter, kreativitas, dan jaringan begitu penting diaplikasikan. Hari menjelaskan, ada dua cara untuk mengimplementasikan hal tersebut. Pertama adalah go-branding dan kedua adalah bekerja keras. 

“Menjadi entrepreneur itu berbeda dengan karyawan. Di dunia entrepreneurship, kita hanya bisa mendapatkan return dari apa yang kita lakukan jika apa yang kita lakukan tersebut dibeli oleh pelanggan,” katanya. Hari pun berpesan kepada mahasiswa baru, untuk aktif berorganisasi, karena pengalaman berorganisasi sangatlah berguna.

Nilai, Karakter dan Etika

Sementara itu, CTO & Co-Founder Traveloka Derianto Kusuma menjelaskan, fresh graduate yang dibutuhkan di perusahaan adalah yang memiliki nilai, karakter, dan etika yang lebih. Karena di dunia industri biasanya tidak sulit dalam permasalahan teknis, tapi yang sulit adalah untuk menemukan apa inti permasalahan dan solusinya. 

Ia telah merintis karir sebagai pengusaha sejak usia muda. Pria lulusan Stanford University itu juga pemilik dari start-up unicorn atau start-up yang memiliki valuasi senilai lebih dari Rp 1 miliar dolar Amerika. Riset pasar, katanya sangat penting dalam memulai start-up, seperti halnya pendirian Traveloka yang telah melalui berbagai riset bersama rekannya.

Dia bercerita, perjalanan untuk membangun start-up tidaklah mudah. Karena perjalanan yang berat itulah, bagi Deri tidak perlu menunggu pengalaman untuk memulai menjadi pengusaha, karena pengalaman tersebut bisa dicari nantinya seiring berjalannya waktu.

Gudang Masalah, Gudang Inovasi

Pengalaman berbeda diceritakan Founder Bukalapak, Achmad Zaky. Alumni Teknik Informatika ITB’04 ini menjelaskan perihal kesempatan emas yang akan didapatkan Indonesia dengan adanya bonus demografi. Menurutnya, generasi muda saat ini harus cerdik dalam menilai permasalahan yang ada, harus bisa mengolah permasalahan menjadi suatu inovasi. Permasalahan, baginya tidak lain adalah suatu peluang.

“Indonesia berpotensi menjadi gudang inovasi dunia pada tahun 2045. Diprediksi ditahun tersebut Indonesia salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk produktif tertinggi di dunia. Kalau kita lihat masalah hanyalah masalah, hancur kita. Namun jika bisa melihatnya sebagai cara untuk berinovasi, menurut saya kedepan di Indonesia ini akan banyak bukalapak-bukalapak lainnya,” ucapnya.

Di akhir, Zaky berpesan kepada mahasiswa baru ITB agar berani untuk mencoba, berani gagal, dan berani belajar. Manfaatkan waktu yang ada sebab inovator itu datang dari usia muda. Karena di usia muda, pemikiran yang dihasilkan baru dan lebih lincah dari generasi usia tua. “Ciptakan sejarah, hidup cuma sekali,” pungkasnya.

Reporter: Rosa Aldita