Berita / Penelitian

Prof. Nana Paparkan Orasi Ilmiah tentang Perspektif Visioner Teknologi Telekomunikasi yang Aplikatif bagi NKRI

Adi Permana - Senin, 30 Juli 2018, 14:43:37 - Diperbaharui : Selasa, 31 - Juli - 2018, 15:14:42
BANDUNG, itb.ac.id – Penguasaan teknologi telekomunikasi merupakan sebuah keniscayaan yang harus dilakukan bangsa Indonesia. Sebab dengan potensi konsumen yang begitu besar dan tantangan pemerataan pembangunan infrastruktur jaringan, akan sangat disayangkan jika Indonesia harus bergantung pada teknologi luar negeri.

Kemandirian dalam teknologi telekomunikasi itulah yang disampaikan Guru Besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Prof. Dr. Ir. Nana Rachmana Syambas M.Eng., dalam orasi ilmiahnya tentang “Mengantisipasi Perkembangan Teknologi Telekomunikasi di Masa Depan” di Aula Barat ITB, Jalan Ganesa, Sabtu, (28/7/2018). Dalam orasi tersebut, Prof. Nana juga menyampaikan hasil penelitian dan inovasinya dalam bidang telekomunikasi.

Prof. Nana mengawali orasi ilmiah mengenai perkembangan teknologi komunikasi saat ini. Masifnya penggunaan media sosial mendorong kebutuhan jaringan yang jauh lebih kompleks. Tak hanya itu, era industri 4.0 dengan konsep cyber-physical-system mengharuskan respon dari jaringan lebih cepat. Perkembangan teknologi akan terus diiringi dengan konsekuensi peningkatan lalu lintas data global. Oleh karena itu, jaringan berbasis IP (Internet Protocol) yang ada sekarang akan menemui kesulitan dan inefisiensi di masa depan karena interkoneksi end-to-end yang sifatnya host-centric bekerja dengan meningkatkan jumlah kapasitas atau spektrum. 

Sudut pandang jaringan berbasis konten atau yang lebih dikenal dengan NDN (Named Data Network) kini mucul sebagai dalih untuk menggantikan paradigma ‘di mana’ dengan konsep ‘apa’. Singkatnya, permintaan data yang dilakukan pengguna jaringan tak lagi ditunjukkan ke alamat IP tertentu tetapi ditujukan ke konten tertentu. 

“Berdasarkan statistik jaringan akses, konsep NDN ini merupakan skema jaringan yang sangat cocok diimplementasikan baik di daerah metropolitan maupun di daerah yang sedang mengejar ketertinggalan pembangunan infrastruktur jaringan telekomunikasi. Misalnya pada daerah tertinggal konten yang banyak diminta akan terkait dengan pertanian, perkebunan, dan lain sebagainya. Pembangunan sistem akses NDN yang efisien dalam penggunaan bandwidth diharapkan dapat mempercepat akses jaringan ke berbagai daerah terpelosok di Indonesia,” kata Prof. Nana.

Prof. Nana telah berhasil membuktikan bahwa jaringan NDN ini memiliki parameter kinerja delay dan parameter packet loss serta thoroughput yang jauh lebih baik setelah disimulasikan pada jaringan Indonesian Higher Education Network (Inherent) dan PALAPA Ring. Beliau juga mengkaji secara mendalam tentang routing, catching, dan forwarding pada sistem NDN tersebut. Penelitian tersebut secara kontinu masih dilakukan guna mencapai harapan pada tahun 2021-2022 dapat dilakukan komersialisasi sebagai produk unggulan nasional. 

Radar Sebagai Sistem Proteksi Kedaulatan NKRI
Untuk menjaga keamanan NKRI yang memiliki lebih dari 17.000 pulau tentunya bukan perkara mudah. Oleh karenanya, kemampuan untuk memetakan ataupun melakukan penginderaan jarak jauh wilayah-wilayah di Indonesia juga menjadi tantangan tersendiri. 

Selain itu, perubahan iklim global ditambah kondisi geografis Indonesia, menyebabkan variasi berbagai fenomena klimatologi di sepanjang tahun. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan akan radar, baik untuk keperluan prediksi maupun preskriptif meningkat. Tak hanya radar untuk memprediksi cuaca, radar air suveillance untuk menjamin kemanan penerbangan dalam negeri juga masih dirasa sangat kurang.

Radar merupakan teknologi yang sangat perspektif untuk terus dikembangkan sebagai fungsi kontrol dan pengawasan wilayah, termasuk Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia. Secara sederhana, radar bekerja dengan mengirimkan gelombang elektromagnetik ke suatu objek dan mendapatkan informasi mengenai objek tersebut berdasarkan parameter pantulan yang diterima. Beda objek akan memiliki beda pola sinyal pantul.

Prof. Nana yang menjadi team leader di tahun 2016, tahap awal proyek ‘Membangun Kemandirian Industri Radar Nasional’ yang didanai Kemristekdikti itu, mengatakan  bahwa selain konstruksi komponen radar nasional yang dirintis dari nol, pembuatan software yang berfungsi untuk pemrosesan sinyal radar pun turut dikembangkan dibantu oleh tim peneliti ITB.

“Teknologi radar yang telah dikembangkan ini diharapkan dapat pula diterapkan pada berbagai jenis radar lainnya yang akan berguna bagi proteksi dan pemetaan wilayah NKRI beserta tindakan pencegahan bencana alam yang mungkin timbul,” ujarnya.

Prof. Nana beserta tim mengaku telah mencoba membuat radar dengan mengoptimalkan berbagai sumber daya lokal. Hasilnya bisa dibilang sangat memuaskan karena pemrosesan spektrum sinyal sama baiknya dengan produk INDRA dari TU-Delf Belanda, bahkan untuk parameter LDR bisa lebih tajam. 

Ia berhasil membuat algoritma GPR (Ground Penetrating Radar) yang dapat meningkatkan akurasi dari pola sinyal pantul radar yang diterima dengan memformulasikan faktor koreksi untuk perbedaan kondisi ideal dengan kondisi riil di lapangan. Dengan demikian, proses deteksi berbagai objek di dalam tanah dapat lebih diandalkan.

Penelitian lain yang telah dilakukan Prof. Nana yaitu terkait dengan analisis performansi penerapan teknologi GPON, XGPON, dan hybrid untuk meningkatkan kapasitas pengguna layanan broadband disisi akses. Untuk jaringan fisik di backbone, beliau juga telah mengembangkan algoritma optimum untuk konfigurasi ring. 

Peranan teknologi telekomunikasi dalam pembangunan ekonomi dunia tak dapat disangkal lagi. Oleh karena itu ia berpesan kepada para generasi selanjutnya untuk selalu berkarya di bidang tersebut. Sebab menurutnya, penelitian di bidang telekomunikasi akan selalu terbuka lebar dan menjanjikan penemuan dan terobosan baru.

“Penguasaan teknologi telekomunikasi merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia agar bisa berperan penting di dalam pengembangannya untuk membangun kemandirian industri telekomunikasi nasional,” pungkas Prof. Nana.

Reporter: Karimatukhoirin