Berita / Utama

FGB ITB Gelar Seminar Kesenian Musik Keroncong Langgam Jawa Bersama University of Richmond USA

Ahmad Fadil - Sabtu, 14 Juli 2018, 14:07:10 - Diperbaharui : Sabtu, 14 - Juli - 2018, 14:10:09

BANDUNG, itb.ac.id - Forum Guru Besar Institut Teknologi Bandung (FGB ITB) mengadakan seminar bertajuk “Empirical Analysis of Cello-Drumming in Langgam Jawa Keroncong” bersama Andy McGraw, Associate Professor of Music School of Arts & Sciences University of Richmond USA.

Seminar yang digelar di Gedung Balai Pertemuan Ilmiah (BPI), Jalan Surapati Bandung, Jumat (13/7/2018) ini, selain berisi presentasi penelitian Prof. Andy tentang seni musik Keroncong, juga menampilkan kesenian musik dari Grup Keroncong Rumput dari Richmond, USA.

Berjumlah 7 orang, mereka memainkan lagu-lagu keroncong dengan sangat baik. Beberapa guru besar terlihat sangat menikmati alunan musik ini. Menurut Andy, seni musik keroncong ini adalah tentang 'roso' (rasa). Dalam presentasi seminarnya, ia menerangkan nada Selo dalam bentuk diagram  dilengkapi audio untuk lebih mengenal rasa seni musik keroncong yang dimaksud secara kuantitatif. Andy pun menyampaikan kekagumannya terhadap seni musik keroncong langgam jawa ini.

Bagi Andy yang juga pengajar musik gamelan Bali ini, saat memainkan Keroncong, ada spirit yang terasa berbeda dibandingkan ketika memainkan musik lainnya. "Saya harus mengatakan, bahwa keroncong ini bukanlah dari Portugis tapi ini memang asli Indonesia," ujarnya disambut tepuk tangan para peserta seminar.

Karena ketertarikan terhadap musik inilah, ia pun membuat grup Kroncong Rumput dan sering tampil di berbagai even di Indonesia dan Amerika. Dalam musik Keroncong, ia memainkan Selo dan mengaku bisa memainkan sekitar 30 lagu dalam bahasa jawa. Tujuh orang di dalam grup keroncong rumput ini berkesempatan memainkan lima lagu di BPI kemaren sore.

Salah satu Guru Besar ITB Prof. Ismunandar mengatakan, kehadiran kelompok musik keroncong ini sangat membantu Kedutaan Besar RI di Amerika dalam mengenalkan musik Keroncong di Amerika. "Selain itu mereka juga sering membantu KBRI mempromosikan kebudayaan Jawa dan Bali di Amerika," kata Prof. Ismunandar yang pernah menjabat Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Washington DC.

Ia mengatakan, grup Keroncong Rumput yang dimotori Hannah Marie Standiford, dan Prof. Andy McGraw ini berasal dari Virginia, Amerika Serikat. Grup musik ini selalu menerima anggota baru dan memiliki jadwal latihan rutin gamelan atau keroncong yang diikuti oleh publik di Richmond. Anggotanya mulai dari yang berusia 10 hingga 60 tahun. Tiga anggota inti komunitas Ragakusuma (rumput) ini adalah lulusan Darmasiswa, sebuah program beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk warga negara asing.  

“Sebagian besar anggota kelompoknya juga merupakan anggota kelompok gamelan Raga Kusuma. Andy selain mengajar gamelan Bali, juga dikenal aktif melakukan riset analisis musik perkusi Bali, studi komparatif musik sebagai praktis etnis di Bali,” terang Prof. Ismunandar. Tahun ini mereka mengadakan tour di Jawa, dan telah tampil di Bentara Budaya Solo bersama Waljinah, dan juga di America, UKSW.

Vokalis Hannah Marie Standiford mengaku sangat senang bisa tampil di Kampus ITB. Ini merupakan pengalaman baru bagi Hannah karena biasanya ia sering tampil di acara musik, tempat seni, dan tempat kebudayaan. "Tetapi saya pikir presentasi dari Andy Mc Graw itu menjembatani ilmu dan seni hari ini. Orang di sini semangat ada banyak pertanyaan, dan juga bisa menikmati," katanya.

Di sela-sela penampilannya, beberapa guru besar ITB bertanya kepada Hannah yang berencana mengambil musik keroncong untuk gelar studi doktornya. Mengenai perbedaan antara musik keroncong dulu dan sekarang, Hannah menyampaikan lebih tertarik dengan musik keroncong era '90-an. Oleh karenanya ia lebih suka mendengarkan musik-musik di era tersebut dibandingkan yang sekarang. Dia juga sempat menyampaikan, salah satu kendala dalam belajar keroncong adalah bahasa. Sebab keroncong banyak menggunakan bahasa Jawa.

Adapun, anggota dari Keroncong Rumput ini merupakan mahasiswa dalam program beasiswa Darmasiswa. Tiga anggota personel mereka yaitu Daniel Smither (Dramasiswa 2012, ISI Denpasar), Danny Martin (Darmasiswa 2013, ISI Solo), dan Hannah Marie Standiford (Darmasiswa 2014, ISI Solo). Dua anggota inti lainnya, Natalie Louise Quick dan Edward Austin Breitner saat ini sedang mengikuti Darmasiswa 2018 di Solo, belajar Pedalangan dan Gamelan.

Reporter: Adi Permana