Berita / Utama

American Corner ITB Mengenalkan Indonesia dalam Women Empowerment Series Pamungkas

Ahmad Fadil - Kamis, 17 Mei 2018, 13:03:07

BANDUNG, itb.ac.id - Women Empowerment Series yang diselenggarakan oleh American Corner bekerjasama dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Institut Teknologi Bandung (ITB) menjumpai sesi terakhirnya kemarin, Rabu (10/5) di Training Room Perpustakaan Pusat Institut Teknologi Bandung, dengan tajuk bulan ini yaitu: “Celebrating Asian Pacific Heritage Month” dalam acara Indonesian Diaspora and American Identity. Acara ini dihadiri langsung oleh Prof. Dr. Ismunandar, Profesor Kimia ITB  yang juga pernah menjabat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington DC. Tak lengkap rasanya jika Women Empowerment Series tanpa narasumber perempuan. Maka hadir pula (melalui panggilan video)  Livi Zheng, seorang produser, penulis naskah, dan aktris berkebangsaan Indonesia, dan kebanggaan Indonesia.

Acara dibuka dengan sambutan dari Dr. Yuli Setyo Indartono selaku Kepala UPT Perpustakaan ITB. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan perihal Women Empowerment Series yang disampaikan oleh  Lusia Marliana Nurani, SS, Grad. Dipl. M.Appling., Ph.D selaku Wakil Kepala UPT Perpustakaan ITB. Dalam sambutannya beliau meyampaikan bahwa bulan ini adalah waktu selebrasi yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari Asia Pasifik di Amerika.  Tak lupa beliau juga menyampaikan perihal fasilitas yang kini sudah dimiliki oleh American Corner dan Perpustakaan ITB untuk memudahkan proses edukasi di ITB, antara lain: smart board dan kamera yang digunakan untuk teleconference dengan Livi Zheng pada saat itu.

Selepas acara pembukaan dan sambutan, Prof. Dr. Ismunandar yang kerap dipanggil Ismu, memaparkan materinya dengan salindia yang telah disiapkan. “Banyak kemiripan antara Indonesia dan Amerika, mulai dari luas wilayah, hingga jumlah penduduk,” ujar Prof. Ismu. Warga Negara Indonesia di Amerika mencapai 100.000 orang, “Dari populasi tersebut, sekitar 9.000 diantaranya adalah pelajar dan mahasiswa,” katanya. Selain mengenai penduduk, Prof. Dr. Ismunandar juga menyampaikan tentang strategi dan upaya yang telah dilakukan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengenalkan Indonesia kepada masyarakat Amerika. Salah satunya melalui pengenalan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Rupanya, bahasa Indonesia juga dipelajari di 18 universitas di Amerika, seperti Yale University, Berkeley, UCLA bahkan hingga Harvard University.

Promosi budaya yang dilakukan oleh atase tak hanya sebatas promosi bahasa saja, tapi juga melalui kesenian seperti gelar kelana (roadshow) mengenai kesenian Indonesia dengan mengajak artis-artis Indonesia. Hal ini pernah dilakukan pada tahun 1990-1991. Selain budaya, dilakukan juga promosi produk laut atau boga bahari (seafood) yang dihadiri langsung oleh Menteri Perikanan dan Kelautan yaitu Susi Pudjiastuti. Hanung Bramantyo juga pernah ikut mempromosikan film Kartini di Amerika. Bahkan hingga acara pengajian dan pengenalan budaya Islam Indonesia kepada masyarakat Amerika difasilitasi oleh Kedutaan Besar.

Selepas pemaparan dari Prof. Dr. Ismunandar, dilanjutkan dengan teleconference bersama Livi Zheng, langsung dari Amerika. Sebelum berkomunikasi langsung, audiens diajak terlebih dahulu untuk menyaksikan sebuah video yang berisikan potongan karya Livi Zheng, mulai dari film besutannya yang berjudul “Brush with Danger”, film tentang tanah kelahirannya “Blitar”, hingga film yang sedang ia garap berjudul “Insight.”

Livi Zheng bercerita mengenai masa kecilnya yang sudah senang bela diri. Ia menekuni seni bela diri wushu hingga ke Hongkong. Menurutnya, atlet wushu setelah masa tenarnya akan melangkah ke dua pekerjaan: pelatih atau film. Livi Zheng merupakan orang yang senang mengajar dan ia juga senang sekali berada di film. Maka dari itu, ia menekuni keduanya. Ia melatih wushu, tetapi juga sekaligus masuk ke dalam industri film.

Sebelum menjadi seorang produser, ia memulai karirnya di dunia perfilman dari bawah, menjadi makeup artist, costume dan stuntman. “Menjadi seorang produser, harus mengerti semua pihak yang mendukung film,” ujar Livi Zheng, perempuan kelahiran kota Blitar Jawa Timur ini. Dalam perjalanannya menjadi seorang produser, Livi Zheng pernah menulis sebuah naskah scenario yang ditolak sebanyak 32 kali. Ia sampai berkata: “I know it wil be hard. But I don’t expect it would be rejected 32 times.” “Saya tahu ini akan sulit, tapi saya tidak berpikir akan ditolak sebanyak 32 kali.” Tapi tekad pantang menyerah yang ia genggam akhirnya membuahkan hasil, film besutan pertamanya yang berjudul Brush with Danger diproduksi pada tahun 2014.

Dalam film yang ia produksi, Livi Zheng selalu memasukkan unsur Indonesia ke dalam filmnya. Iapun berpesan agar masyarakat Indonesia, terutama pada audiens yang hadir pada saat itu untuk tetap melestarikan budaya Indonesia, cukup dengan hal-hal yang kecil saja seperti mengenakan aksesoris dan pakaian khas Indonesia. Women Empowerment Series kali ini ditutup dengan sesi tanya jawab dengan Livi Zheng, lalu diakhiri dengan foto bersama dan penyampaian pesan dari Prof. Dr. Ismunandar. “Kita harusnya dapat melestarikan budaya Indonesia dengan hal-hal terkecil yang kita bisa lakukan,” pungkas Prof. Ismu.

Penulis: Moch Akbar Selamat (TPB SBM 2017)

Foto: Dokumentasi Pribadi