Berita / Utama

Penentuan Awal Ramadan, Observatorium Bosscha Lakukan Pemantauan Hilal

Ahmad Fadil - Rabu, 16 Mei 2018, 09:13:28 - Diperbaharui : Selasa, 22 - Mei - 2018, 11:18:54

BANDUNG, itb.ac.id – Sebagai institusi pendidikan dan penelitian di bidang astronomi, Observatorium Bosscha melaksanakan kegiatan pengamatan Bulan sabit muda pada hampir setiap bulan. Bulan sabit yang diamati pada tanggal 15 Mei 2018 merupakan Bulan sabit penanda beralihnya bulan Sya’ban ke bulan Ramadhan dalam kalender Hijriyah 1439 H.

Kalender Hijriyah merupakan sistem penanggalan yang mengacu kepada siklus periodik fase Bulan. Urutan kemunculan fase Bulan digunakan sebagai penanda waktu dan periode dalam kalender lunar (Bulan sabit sebagai penanda awal atau akhir bulan dan Bulan purnama menandakan pertengahan). Satu bulan pada kalender lunar ditetapkan sebagai panjang waktu atau periode satu siklus Bulan mengeliling Bumi, yakni selama rata-rata 29,53 hari (disebut periode Sinodis).

Kini pengamatan Hilal telah dilakukan, baik di Boscha Lembang, maupun Observatorium Kupang. Seperti yang telah diketahui bahwa saat ini sudah memasuki penghujung bulan Sya’ban pada kalender Hijriyah (penanggalan umat muslim yang mengacu pada fase bulan). Penanggalan ini berbeda dengan yang biasa diterapkan pada kehidupan sehari-hari yang menggunakan kalender masehi sebagai standarnya.

Hilal adalah terlihatnya fase pertama bulan yang biasanya tampak dalam bentuk bulan sabit. Namun, bulan sabit juga menjadi penanda fase akhir bulan. Untuk membedakan antara bulan sabit penanda awal bulan dengan penanda akhir bulan, perlu sebuah fenomena lain untuk dimasukan dalam pengamatan hilal. Fenomena tersebut disebut sebagai konjungsi.  

Konjungsi merupakan beradanya bulan dan matahari pada posisi bujur ekliptika yang sama. Ini terjadi pada setiap peralihan antara bulan yang sedang berlangsung dengan bulan baru. Sebuah bulan dalam kalender Hijriyah dapat dikatakan baru jika konjungsi terjadi sebelum matahari tenggelam. Bila sebelum konjungsi terjadi ada bulan yang terlihat, dapat dipastikan bulan tersebut masih menjadi bagian dari bulan yang sedang berlangsung. “Yang disebut penentu hilal atau tanda penentu masuknya bulan baru itu, pertama, harus terjadi setelah konjungsi, dan yang kedua, harus bisa diamati setelah matahari terbenam. Artinya ya konjungsi harus terjadi sebelum matahari terbenam.” Ujar Peneliti Bosscha, Agus Triono. Pada saat terjadi konjungsi pula, cahaya yang terlihat menjadi jauh lebih redup, “Kalau purnama yang terlihat 10.000 bagian, kalau sekarang yang terlihat Cuma 17 bagian saja dari 10.000 itu saat konjungsi.”

Pada saat pemantauan dilakukan, langit di sekitar Bandung dan Bosscha memang berawan cukup tebal. Tentunya ini menjadi kendala tersendiri dalam melakukan pengamatan. Agus menjelaskan bahwa beberapa hal dapat menghambat pengamatan hilal. Faktor alam menjadi yang paling krusial dalam pengamatan, “Secara umum yang paling besar cuaca pasti. Syarat pertama (hilal) diamati setelah matahari terbenam. Problemnya adalah, ketika matahari terbenam, di horizon itu banyak awan. Di sini cerah tapi di horizon banyak awan, masalahnya bulannya di situ (horizon).” Ia menambahkan, “Yang kedua kendalanya adalah konfigurasi si bulan itu sendiri relatif terhadap matahari. Jadi walaupun cerah, misalnya, tapi bulannya terlalu dekat dengan matahari, jadi tersilaukan pandangan kita karena cahaya matahari.”

Di Indonesia, terdapat 95 titik pemantauan lain yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Bosscha menjadi salah satu titik tersebut. Melalui simulasi yang telah dilakukan oleh tim observatorium Bosscha, dan dari pengamatan yang dilakukan, pada hari Selasa (15/05/2018), konjungsi baru terlihat pada sekitar pukul 18.47 WIB.