Berita / Institusi

Seminar Nasional Kerjasama BPK RI dan ITB, “Akselerasi Pembangunan Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi : Masalah Dan Solusi”

Fivien Nur Savitri, ST, MT - Selasa, 15 Mei 2018, 18:24:39 - Diperbaharui : Rabu, 16 - Mei - 2018, 09:56:25


Bandung,itb.ac.id - Kebutuhan manusia tidak hanya pangan, namun juga energi. Hampir setiap saat manusia membutuhkan energi, termasuk untuk rumah tangga, transportasi, dan industri.

Selain minyak bumi, industri di Indonesia juga banyak menggunakan energi batu bara. Bukan hanya murah karena ketersediaannya yang berlimpah, teknologi yang digunakan juga sudah mature.

Batu bara dikenal menghasilkan limbah industri yang tidak ramah lingkungan. Tak heran bila hal tersebut menyebabkan produksi dalam negeri tidak dapat masuk ke beberapa negara yang sudah menerapkan kebijakan go green industry, seperti di Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara di benua Eropa.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk di dunia, maka kebutuhan akan energi pun semakin meningkat. Tercatat laju pertumbuhan penduduk di Indonesia, sekitar 4% per tahun. Produksi minyak sekitar 800 ribu barel per tahun. Bila dibandingkan dengan kemampuan produksi minyak dalam negeri, maka kebutuhan minyak sekitar 2 juta barel per tahun, akan menyebabkan tingginya permintaan minyak yang sebagian besar di Indonesia masih diperoleh dari impor.

Tahun 2026, diprediksi supply minyak dan gas bumi akan habis. Disini penggunaaan Energi Baru Terbarukan (EBT) menjadi tak terelakkan. Untuk itu, semua pihak harus menuju kesana (EBT) dengan menyadari sepenuhnya bahwa energi adalah kebutuhan dasar manusia. Pemerintah dengan regulasinya, akademisi dengan risetnya, dan industri dengan perubahannya yang besar-besaran. 

Menguak Siklus Terbentuknya Masyarakat Sejahtera Dari Energi Dan Pangan

“Sebuah bangsa menjadi sejahtera karena ekonominya meningkat. Sedangkan ekonomi bisa meningkat karena industrinya maju. Negara yang industrinya maju, mampu menguasai sumber energi,” ujar Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA., saat mengawali paparannya di acara Seminar Nasional bertajuk Akselerasi Pembangunan Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi, Selasa (15/5/2018), di Aula Timur ITB. 

Negara dapat menguasai energi, karena punya kekuatan geopolitik. Dimana geopolitik bergantung pada human capital. Sedangkan human capital bergantung pada tingkat ekonomi nasional. “Siklus tertutup ini sebentar lagi tidak berlaku karena akan berpindah ke energi baru terbarukan, dikarenakan energi konvensional akan segera habis,” ujar Prof. Kadarsah.  

Namun demikian, EBT masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Beberapa kendala diantaranya biaya produksi yang sangat mahal, sekitar 10 - 12 cent per kWh, lalu kesiapan akan sumber daya manusia, dan juga bagaimana meningkatkan keberhasilan proyek-proyek EBT.

Peran perguruan tinggi dalam hal ini dituntut untuk meningkatkan capacity building, seperti halnya dosen, riset dan inovasi, mulai dari skala prototype, paten, dan publikasi, yang tentunya juga membutuhkan dana riset yang tidak murah. 

Di sisi lain, Anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), Prof. Dr. H. Rizal Djalil, menyatakan bahwa permasalahan utama karena bangsa Indonesia memiliki ketergantungan dengan bahan bakar minyak. “APBN sudah tidak lagi relevan dengan harga minyak di pasaran internasional, sehingga mengalami defisit anggaran,” ungkapnya.

Ia memaparkan dua isu besar yang bisa mengubah kondisi dunia, yaitu energi dan pangan. Isu pangan diantaranya terkait dengan pola konsumsi rakyat Indonesia yang sebagian besar masih menyukai mie yang terbuat dari gandum. “Kondisi lahan kita tidak dapat digunakan untuk bercocok tanam gandum. Gandum tidak bisa tumbuh karena iklim kita disini (Indonesia) berbeda,” ujar Prof. Rizal.

Prof. Rizal juga memaparkan permasalahan umum pengelolaan EBT. Diantaranya ketergantungan pada energi fosil seperti yang diungkapkan sebelumnya, teknologi EBT yang belum sepenuhnya berkembang secara mature, permasalahan sosial masyarakat seperti pembebasan lahan dan konflik sosial yang menghambat pencapaian target pembangunan di sektor energi, tata kelola pemerintahan yang regulasinya tumpang tindih antar sektor, konten lokal seperti relatif tingginya angka ketergantungan terhadap teknologi dari luar negeri, serta lemahnya dukungan perbankan dan lembaga keuangan dalam negeri untuk pembangunan sektor energi. 

Tiga Pilar Percepatan EBT


"Percepatan pengembangan energi baru, terbarukan, dan konversi energi memerlukan strategi". Demikian yang dikatakan oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia,  Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D, yang juga merupakan alumni ITB Teknik Mesin 89. “Ada tiga pilar yang harus kita perhatikan untuk percepatan (EBT), pertama adalah sistem dan bisnis proses. Kedua, pengembangan human capity. Ketiga, pengembangan teknologi,” ujarnya saat menyampaikan paparannya.

Ia mengingatkan bahwa “inovasi-inovasi besar akan merubah peradaban” katanya seraya memberi contoh bahwa peradaban dunia sudah berubah sejak penemuan Apple oleh Steve Jobs, dan Microsoft oleh Bill Gates. “Kita ini punya budaya zero tolerance terhadap failure. Itu yang membuat kita sulit untuk maju” pungkasnya.


Seminar Nasional ini merupakan Kerjasama BPK-RI dan ITB yang diadakan pada Selasa, (15/5/2018) di Aula Timur ITB. Bertajuk, “Akselerasi Pembangunan Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi : Masalah Dan Solusi”, seminar ini sukses  menarik perhatian peserta yang datang dari berbagai kalangan seperti pemerintah kota dan kabupaten, stakeholder-stakeholder inventor energi dan juga perbankan. Acara ini dibawakan dengan baik, dari awal hingga akhir, oleh Effendi Gazali sebagai moderator, bersama MC kondang Tina Talissa. /fns