Berita / Utama

Studium Generale ITB : Bersama Dr. Fithra Faisal Hastiadi, Mengintip Ekonomi Setahun ke Depan

Ahmad Fadil - Kamis, 8 Maret 2018, 13:09:10 - Diperbaharui : Selasa, 27 - Maret - 2018, 09:52:42

BANDUNG, itb.ac.id – Capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini mencapai di atas 5%. Ini merupakan capaian yang cukup memuaskan jika melihat Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang. Apalagi, capaian yang kini berada di angka 5.07% itu, meningkat 0.04% dari tahun sebelumnya. Hanya saja, angka tersebut masih jauh dari apa yang dicanangkan pemerintah pada tahun 2018 ini. 

Keinginan pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 6,8% pada tahun 2018, seperti yang telah tertuang dalam nawacita, agaknya mustahil terpenuhi. Hal ini dikatakan oleh Dr. Fithra Faisal Hastiadi, S.E., MSE., M.A pada kuliah umum Studium Generale pada hari Rabu (08/03/2018) di Aula Barat ITB. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini menjabarkan secara gamblang faktor-faktor dan latar belakang yang mempengaruhi ekonomi global, termasuk Indonesia.

Selama  2016-2017, pertumbuhan ekonomi global mengalami perlambatan. Di Indonesia, ini disebut-sebut sebagai akibat dari depresiasi nilai rupiah yang terjadi selama tahun 2013-2014. Tapi Fithra menjelaskan bahwa depresiasi rupiah hanyalah sebuah gejala. 

“Kalau kita melihat rupiah terdepresiasi itu sebenarnya sebuah symptom saja, gejala. Kalau kita bicara mengenai gejala biologis, ketika kita sakit terus demam, demam itu kan bukan penyakit, demam itu adalah symptom, gejala. Muncul karena efek perlawanan tubuh terhadap sesuatu yang masuk ke dalam,” katanya. Lantas apa yang menjadi masalah sebenarnya?. 

Impor Indonesia yang lebih besar dari ekspor, menyebabkan defisit pada neraca perdagangan Indonesia pada tahun 2012. Semakin banyak impor, semakin banyak juga permintaan dolar dan berimbas pada nilai tukar Rupiah terhadap Dollar. Ekspor sendiri merupakan surplus produksi, sehingga bila ekspor rendah, pasti terdapat masalah yang menghambat produksi Indonesia.

Industri manufaktur Indonesia menyumbang 29% dari GDP Indonesia pada 2001, tapi lambat laun angka tersebut makin menurun hingga kini. Keterbatasan infrastruktur berada dibalik masalah tersebut. Meski kini kita menyaksikan bagaimana pemerintah Indonesia gencar menggenjot pembangunan infrastruktur, sebuah langkah yang dirasa tepat, tetap saja ini membutuhkan waktu. 

Nilai logistic performance Indonesia pun tidak bisa dikatakan baik. Pada tahun 2014, Indonesia sempat merasakan bertengger pada posisi 43 dunia, tapi saat ini menukik ke posisi 63 dunia. Ini tidak mengherankan jika kita melihat  Indonesia dengan sekitar 17.000 pulaunya hanya memiliki 16.000-an unit kapal, tertinggal sangat jauh dari Singapura yang memiliki hingga 90.000 unit kapal.


Ancaman Kebijakan Ekonomi Luar

Menjadi bagian dari masyarakat dunia berarti harus siap dengan segala peristiwa yang telah, sedang, dan mungkin terjadi. Yang terjadi pada belahan dunia yang satu, sudah tentu akan berpengaruh pada belahan dunia yang lain, sekecil apapun dampaknya. Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45 pada 2016 mengubah sikap AS pada kebijakan ekonominya. 

Dulu, AS cukup liberal dalam menjalankan ekonominya sehingga barang impor dapat masuk dengan mudah. Kini, AS mengusung ekonomi yang lebih populis dengan membatasi barang dan orang dari luar negeri untuk masuk sehingga memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi rakyat Amerika Serikat. Negara yang selama ini menjadi produsen, seperti Tiongkok dan Mexico, tentu akan menanggapi hal ini dengan drastis pula. Keadaan ini akan semakin parah jika keputusan Amerika Serikat untuk menaikkan tarif masuk benar-benar dijalankan. Perang tarif tak terelakkan akan terjadi, dan lebih dari itu, tidak menutup kemungkinan perang fisik pun akan pecah.

Kerjasama Dagang dengan Negara Non-Tradisional

Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor yang berasal dari luar (eksternal) dapat dilihat pada poin di atas. Dari internal, Indonesia membutuhkan source of economic growth (sumber pertumbuhan ekonomi) yang baru. Ekspor merupakan poin penting untuk membantu memperbaiki nilai tukar Rupiah terhadap Dolar.