Berita / Utama

Pesta Rakyat Kolaborasa ITB, Hangatkan Hubungan Masyarakat dengan Mahasiswa lewat Konsep Festival

Gilang Audi Pahlevi - Minggu, 21 Januari 2018, 14:13:48 - Diperbaharui : Minggu, 21 - Januari - 2018, 14:40:27


BANDUNG, itb.ac.id – Jalan Gelap Nyawang pada sore hari, Sabtu (20/01/2017) sangat berbeda dari hari biasa. Sore itu, lalu lalang kendaraan bermotor berganti dengan banyaknya pejalan kaki yang lalu lalang mengunjungi berbagai booth yang tersedia. Mulai dari pameran karya, kuliner hingga hasil kerajinan tangan dapat ditemui di berbagai booth tersebut. Panggung hiburan pun juga berdiri di utara Jalan Gelap Nyawang. Bahkan, bianglala pun juga tersedia untuk semakin menyemarakkan suasana. Seluruh kemeriahan tersebut digelar dalam sebuah acara yang disebut Pesta Rakyat Kolaborasa ITB. Sesuai dengan namanya, acara yang digawangi oleh Kementerian Pengabdian Masyarakat Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB) ini mengkolaborasikan mahasiswa dengan warga sekitar untuk saling menunjukkan karya dan keterampilan masing-masing, dikemas dalam bentuk pesta atau festival. 


Dalam acara yang digelar dari sore hingga malam hari ini, pengunjung dapat melihat berbagai buah karya yang dimiliki mahasiswa dan masyarakat. Kental dengan dunia teknologi, mahasiswa ITB yang diwakili oleh Unit Robotika ITB (URO ITB) dan Aksantara ITB menghadirkan berbagai koleksi robot, hovercraft remote control, hingga flight simulator. Tidak hanya teknologi, mahasiswa juga turut menampilkan kebudayaan Melayu Riau hingga kebudayaan mancanegara seperti Jepang dan Korea melalui booth  UKMR, UKJ dan Korean Culture Club. Untuk yang ingin melakukan cek kesehatan gratis, bisa melakukannya di booth Korps Sukarela ITB (KSR ITB).


Tidak kalah menarik, warga yang berasal dari 7 RW di Kelurahan Tamansari dan Lebak Siliwangi juga menunjukkan potensi yang mereka miliki. Makanan tradisional mulai dari mie kocok, es buah, hingga kerak telor dapat dinikmati di booth warga. Tampak juga berbagai hasil ketrampilan yang dibuat dari buah ganitri, alat musik dan hiasan dari bambu, juga kerajinan tangan dari barang daur ulang. Di panggung hiburan, warga juga menampilkan kebolehannya dalam bermusik  dan tari. Beberapa penampilan merupakan kolaborasi antara warga dan mahasiswa untuk semakin mengakrabkan suasana. “Acaranya bagus, senang bisa main di sini sama keluarga, apalagi kan ini melibatkan warga dan mahasiswa” ujar Rudi, warga yang datang ke Pesta Rakyat Kolaborasa ITB.



Mendekatkan Mahasiswa dengan Warga

Pesta Rakyat Kolaborasa ITB bukanlah sekadar hingar bingar pagelaran festival. Terdapat semangat dan nilai tertentu yang mendasari acara ini. Saat ini mahasiswa sering terjebak dengan pola pikir bahwa dalam membuat suatu gerakan sosial masyarakat harus bisa memberikan dampak besar dan membawa perubahan. Masalahnya adalah hal itu akan sangat sulit tercapai apabila mahasiswa tidak akrab dan membaur dengan masyarakat. Maka pada akhirnya program-program pengabdian masyarakat menjadi tidak berkelanjutan.

Tentu saja akan lebih baik apabila mahasiswa membaur dengan masyarakat. Gerakan sosial masyarakat yang baik tidak mengenal relasi subjek-objek yang menempatkan satu pihak lebih tinggi daripada yang lain, melainkan bergerak bersama dalam suasana kekeluargaan. Hal yang paling mudah untuk membiasakan diri bergaul dengan masyarakat adalah berinteraksi dengan warga sekitar area kampus dan indekos. Apabila sudah dekat dengan masyarakat, maka dalam prosesnya akan terbentuk karakter dan pribadi yang mampu bergerak dan kelak membawa perubahan pada masyarakat. Itulah nilai yang dibawa oleh Kolaborasa ITB, yakni mendekatkan mahasiswa ITB dengan warga sekitar sekaligus menanamkan pola pikir bahwa gerakan sosial masyarakat adalah wadah pembelajaran dan pengembangan karakter yang berharga.


Sepanjang proses persiapan acara ini, warga menunjukkan antusiasmenya. Bagi warga, sudah lama tidak ada acara yang menempatkan warga sebagai pelaku aktif yang dapat menunjukkan apa yang mereka miliki. Ada juga warga yang menceritakan bagaimana kedekatan mahasiswa ITB dengan warga sekitar pada tahun 70-90an. Bagi mereka, adanya acara ini kembali mempererat dan menghangatkan silaturahmi yang dari dulu sudah terbangun.


Sumber Dokumentasi : Penulis