Berita / Utama

Hari Ibu, Saat Tepat Kupas 3 Wanita Inspiratif ITB

Zoealya Nabilla Zafra - Jumat, 22 Desember 2017, 14:46:25 - Diperbaharui : Senin, 22 - Januari - 2018, 10:33:19

JAKARTA, itb.ac.id – Sudah menjadi sebuah perjanjian umum bahwa ibu adalah seseorang yang penting;sosok yang rela bangun di pagi buta demi membuatkan bekal ataupun rela bolak-balik ke kamar anaknya untuk mencoba membangunkan, dan yang terpenting, melahirkan manusia-manusia selanjutnya. Perayaan hari ibu dilakukan secara internasional maupun nasional, untuk mengungkapkan rasa cinta dan terima kasih orang-orang terhadap ibunya.

Di Indonesia, hari ibu dirayakan setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keppres RI No. 316 Tahun 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia. Tanggal ini dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan meningkatkan kesadaran wanita dalam berbangsa dan bernegara, namun tujuan tersebut sudah banyak berubah seiring berjalannya waktu. Sekarang ini, perayaan hari ibu lebih banyak ditujukan untuk mengungkapkan rasa cinta terhadap kaum ibu.

Di ITB, terdapat banyak sekali sosok ibu yang selain secara sukarela mengurus anaknya, juga menginspirasi baik kaum hawa maupun adam dalam bidang keilmuannya.

Dr. Ir. Melia Laniwati Gunawan, M.S.


Menjabat sebagai Ketua Program Studi Sarjana Teknik Pangan, dosen Program Studi Teknik Kimia dan Teknik Pangan, dan peneliti terdepan dalam bidang Kinetika Kimia dan Katalisis, ternyata tidak membuat dosen murah senyum yang kerap dipanggil Bu Mel ini melupakan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.

Selain aktif dalam publikasi jurnal internasional, bersama dengan Dr. Maria Ulfah, seorang sarjana strata tiga program studi Teknik Kimia, beliau menjadi pionir lahirnya Katalis Merah Putih. Katalis ini menjadi katalis komersial pertama buatan Indonesia, yang dimanfaatkan untuk menghilangkan zat pengotor minyak bumi di proses hydrotreating. Bahkan, saat ini PT Pertamina tidak lagi mengimpor katalis hydrotreating berkat Katalis Merah Putih tersebut.



Dengan menjadi pionir lahirnya Katalis Merah Putih sekaligus mitra PT Pertamina RU-II Dumai, Bu Mel diharuskan  terjun langsung ke pabrik dan melihat proses pembuatan katalis dan/atau penggunaannya. Ia juga tidak takut untuk bekerja di lingkungan pabrik yang notabene berbahaya dan didominasi laki-laki.

Beliau juga merupakan penerima Penghargaan 25 Tahun ITB (2012), Satyalancana Karya Satya XX (2010), dan Satyalancana Karya Satya X (2001).

Ir. Betti Alisjahbana


Seorang insinyur arsitektur, presiden direktur PT IBM Indonesia (2000—2008), founder PT Quantum Business International (2008—sekarang), Komisaris Independen PT Garuda Indonesia Tbk (2012—2014), Ketua Majelis Wali Amanat ITB (2014—sekarang), dan sejuta jabatan lainnya ternyata tidak membuat wanita tangguh ini terlena. Walaupun beliau merupakan sarjana strata satu bidang arsitektur, ia tidak membatasi dirinya sampai situ saja. Melihat peluang arsitektur yang kurang baik pada saat ia baru lulus, wakil ketua Dewan Riset Nasional sejak 2009—2015 ini tidak takut untuk mengambil pendidikan non-degree-nya melalui sebuah sekolah marketing di Hongkong pada 1986.

Tidak berhenti sampai di situ, beliau melanjutkan pendidikan non­ degree-nya di bidang-bidang lainnya, seperti Finance for Marketing di Sydney, Australia (1995), Business Management Institute di Armonk, AS (1996), Asia Pacific Leadership Workshop di Singapura (1997), Global Leadership Workshop di Armonk, AS (1999), dan Asia Pacific Global Leadership Development di Tokyo, Jepang (2001).

PT Quantum Business International yang ia bentuk didasari pada keinginannya terjun ke dalam dunia pelatihan bisnis dan marketing. “Passion saya di situ, saya ingin terlibat langsung dengan terjun ke dunia pelatihan,” ungkapnya. Alasan lain mengapa beliau mendirikan perusahaan tersebut adalah karena beliau merasa Indonesia butuh lebih banyak pengusaha. “Saya pikir Indonesia butuh entrepreneur dan akhirnya saya memutuskan untuk menjadi pengusaha,” katanya.

Penulis buku “Tiap Detik Bermakna” ini selalu membiasakan diri untuk pulang ke rumah pukul 7 malam, agar bisa makan malam bersama keluarga. Selain itu, ia juga gemar menyanyi, memasak, dan berkebun.

Nyoman Anjani, S.T.



Tidak hanya dosen dan pejabat tinggi ITB, Presiden K3M periode 2013/2014 ini juga merupakan salah satu wanita inspiratif jebolan ITB. Selain berhasil meraih gelar sarjana Teknik Mesin pada 2014 dengan predikat cum laude, wanita ini juga merupakan semifinalis ajang prestisius Puteri Indonesia pada 2010.

Program unggulan yang bahkan masih bertahan sampai sekarang sejak masa jabatannya adalah Ekspedisi Pelita Muda. Di sini, mahasiswa ITB bebas memilih salah satu daerah di seluruh Indonesia untuk dibangun sesuai dengan kebutuhan daerah tersebut. “Kami hanya ingin mahasiswa ITB bisa melihat dunia luar, melihat bahwa alam Indonesia itu indah, dan melihat bahwa masyarakat itu membutuhkan pergerakan dari kita sebagai mahasiswa,” jelasnya dengan tegas.

Walaupun menjabat sebagai Presiden K3M, Nyoman Anjani jauh sekali dari predikat sombong. Ia sendiri selalu berkata, “Sebagai pemimpin, kita tidak bisa arogan dan sombong. Pemimpin yang arogan dan sombong tidak disukai oleh masyarakat. Saya akan mencoba menjadi pemimpin yang rendah hati dan mendengar siapa saja yang peduli terhadap dunia kemahasiswaan.” Wanita yang sekarang bekerja di PT Unilever Indonesia Tbk ini juga hobi melukis dan mendaki gunung.

“Selamat hari ibu, hari yang mengingatkan kita akan perjuangan para perempuan Indonesia 89 tahun lalu tentang pentingnya peran wanita dalam membangun bangsa. Juga mengingatkan betapa mulianya peran seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita semua. Semoga para ibu senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menyiapkan generasi masa depan bangsa,” pesan Rektor ITB, Prof. Dr. Kadarsah Suryadi.

Ya, selamat hari ibu, wahai Ibu, ibu masa depan, dan wanita-wanita Indonesia lainnya; teruslah berjuang demi hak perempuan dan kemajuan negeri.

 

Sumber foto: narasumber