Berita / Alumni

Kelahiran IA-MET ITB, Wujud Tekad Kemandirian Industri Mineral Nasional

Gilang Audi Pahlevi - Minggu, 26 November 2017, 08:37:11 - Diperbaharui : Senin, 27 - November - 2017, 08:22:26


BANDUNG, itb.ac.id- Kumpulan orang dengan visi yang sama memiliki kecenderungan untuk bersatu. Bersatunya orang-orang dengan visi besar, dijalankan dengan komitmen dan konsistensi akan menorehkan pencapaian yang besar. Pada Sabtu (25/11/2017), sejarah baru tercatatkan dengan dibentuknya Ikatan Alumni Metalurgi (IA-MET) ITB oleh para alumni Program Studi Teknik Metalurgi ITB. IA-MET ITB dibentuk melalui Kongres Alumni Metalurgi yang sekaligus merupakan rangkaian acara Dekade IMMG, perayaan dies natalis ke-10 Ikatan Mahasiswa Metalurgi ITB. Bertempat di Multi Hall gedung CRCS ITB, Kongres Alumni Metalurgi ini terdiri dari deklarasi berdirinya IA-MET ITB, pengesahan AD/ART IA-MET ITB, dan ditutup dengan pemilihan ketua IA-MET ITB pertama untuk periode 2017/2020. Dengan hadirnya alumni-alumni lintas generasi, mulai dari angkatan 1957 sampai 2013, banyak sumbangsih pemikiran konstruktif yang membantu kelancaran berjalannya kongres.


Kongres dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Kaprodi Teknik Metalurgi ITB, Dr. Eng Akhmad Ardian Korda, ST dan Ir. Durban L. Ardjo, salah satu pencetus diadakannya pendidikan keilmuan Teknik Metalurgi di Program Studi Teknik Pertambangan ITB pada tahun 1970an. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan teks deklarasi pendirian IA-MET ITB oleh Zakiyatmoko Brahtomo, ST selaku Ketua Kongres Alumni Metalurgi. Teks deklarasi tersebut kemudian ditandatangani oleh Dr. Eng Akhmad Ardian Korda sebagai perwakilan Program Studi Teknik Metalurgi ITB, Ir. Durban L. Ardjo selaku perwakilan alumni, dan Agustin Parangin Rangin selaku perwakilan Ikatan Alumni ITB (IA-ITB).

Agenda kongres kembali bergulir dengan dilakukannya pembahasan dan pengesahan AD/ART IA-MET ITB. Lalu, dilakukan pemilihan Ketua IA-MET ITB oleh peserta kongres. Adapun Ketua IA-MET ITB terpilih adalah Bouman Tiroi Situmorang, alumni Teknik Pertambangan ITB Opsi Metalurgi 1991. Beliau saat ini menjabat sebagai Senior Manager Technical External Relation di PT. Smelting Gresik. Prosesi pelantikan kepengurusan pertama IA-MET ITB ditargetkan akan berlangsung di tahun 2018.


Sejarah Panjang Program Studi yang Tergolong Muda

Memang benar adanya apabila Teknik Metalurgi ITB baru berdiri pada tahun 2006, menjadikan prodi Teknik Metalurgi termasuk prodi yang masih muda. Namun, eksistensi pendidikan keilmuan metalurgi sudah lama mengakar. Semenjak ITB masih merupakan Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung, Program Studi Teknik Pertambangan sudah berdiri di dalamnya. Para alumni program studi tersebut pun banyak yang melanjutkan studi ke Amerika Serikat hingga akhirnya mengenal salah satu subdisiplin ilmu keteknikan baru yang belum ada di perguruan tinggi Indonesia yakni teknik metalurgi. Atas masukan para alumni tersebut, maka mulailah diadakan mata kuliah metalurgi pada tahun 1963.

Seiring berjalannya waktu, mata kuliah metalurgi tidak lagi dirasa cukup. Pendidikan ilmu metalurgi harus diberikan secara utuh agar kelak Indonesia mampu mengolah sendiri mineral yang telah ditambang. Dengan dibidani oleh para dosen metalurgi senior Teknik Pertambangan ITB, lahirlah opsi Metalurgi di Teknik Pertambangan ITB di tahun 1970. Dosen-dosen tersebut diantaranya adalah Prof. Waryono Soemodinoto, Prof. Waspodo Martojo, Prof. Djamhur Sule, Ir. Alwi Ibrahim, Ir. Durban L. Ardjo, M.Sc., Dr. Rozik B. Soetjipto dan Prof. Faraz Umar. Barulah kemudian Teknik Metalurgi resmi berpisah dari Teknik Pertambangan dan menjadi program studi sendiri pada tahun 2006.

Sejarah panjang pendidikan keilmuan metalurgi ini kemudian berimplikasi pada status keanggotaan IA-MET ITB. Mudahnya, keanggotaan IA-MET ITB terbuka bagi alumnus yang pernah mengenyam pendidikan keilmuan metalurgi di ITB, terlepas dari jenjang pendidikan dan nama program studi/jurusan pada masa tertentu.

Kebutuhan untuk Bersatu dan Bergerak Bersama

Pendidikan keilmuan metalurgi di ITB telah menelurkan banyak petinggi di dunia industri mineral. Sebut saja Rozik B. Soetjipto lulusan Teknik Pertambangan 1968 yang pernah menjabat sebagai Dirjen Pertambangan Umum dan Menteri Negara Pekerjaan Umum periode 1999-2001, Winardi Sunoto lulusan Teknik Pertambangan Opsi Metalurgi 1988 yang pernah menjabat sebagai Presiden Direktur PT. Indonesia Asahan Alumina (Inalum) Persero, Ido Hotna Hubarat lulusan Teknik Pertambangan Opsi Metalurgi 1990 yang saat ini menjabat sebagai CEO PT. Arutmin Indonesia, Teddy Badrujaman lulusan Teknik Pertambangan Opsi Metalurgi 1991 yang terakhir menjabat sebagai CEO PT. Antam (Persero) Tbk.

Masa depan Indonesia di industri mineral dan pengolahannya masih panjang. “Coba lihat itu Morowali Industrial Park, di sana ada macam-macam mulai dari nikel sampai stainless steel. Tapi siapa yang pegang? Mayoritas dipegang sama negara tetangga jauh utara kita itu. Kemana metallurgist Indonesia? Melalui ikatan alumni, kita bisa konsolidasi untuk sama-sama ambil peran untuk Indonesia” ujar Ir. Durban L. Ardjo.

Dengan adanya metallurgist ITB yang saat ini dan nanti akan memegang posisi kunci, juga banyaknya permasalahan industri mineral nasional yang menunggu untuk dipecahkan, maka keberadaan IA-MET ITB menjadi penting untuk menyatukan kekuatan dan menyusun gerakan bersama. Sejatinya, pembentukan ikatan alumni bukanlah soal seremoni melepas kerinduan atau sekadar berkelakar, melainkan sebuah wujud komitmen pergerakan nyata.