Berkunjung ke Indonesia, Ahli Balaghah Mesir Prof. Dr. M. Mohamed Emam Dawood Sampaikan Ceramah Umum

Zoealya Nabilla Zafra | Sabtu, 30 September 2017, 16:46:51 | Lihat foto berita ini | Diperbaharui : Minggu, 1 - Oktober - 2017, 20:28:55

BANDUNG, itb.ac.id – Akhir-akhir ini, terdapat cukup banyak berita miring tentang Islam. Terorisme yang mengatasnamakan Islam, konflik politik yang disebabkan karena perbedaan ras dan agama, dan orang-orang “muslim” yang melakukan kejahatan genosida dengan kedok berjihad (berjuang dengan keras, bersungguh-sungguh, red.). Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang-orang yang tidak mempunyai pemahaman tentang Islam sering kali mengaitkan agama tersebut dengan kekerasan.

Hal itulah yang ingin diluruskan oleh Prof. Dr. M. Mohamed Emam Dawood, seorang ulama Mesir yang menjabat posisi Direktur Pengajaran Al-Quran dan Guru Besar di Suez Canal University, pada kuliah tamu berupa ceramah umum yang dilaksanakan pada Jumat (29/09/17) di Masjid Salman ITB.

Ceramah umum bertajuk ‘Konsep Islam Rahmatan Lil Alamin dan Tantangannya di Abad Modern’ dimulai pukul 09.00 WIB dan dihadiri oleh mahasiswa ITB dari kalangan pria maupun wanita. Kuliah disampaikan dengan bahasa Arab yang kemudian diartikan secara langsung oleh penerjemah dari ITB.

Ceramah dibuka dengan penyampaian ayat Alquran mengenai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin; yakni agama yang membawa kasih sayang bagi seluruh alam semesta, termasuk manusia, hewan, tumbuhan, bahkan jin. Sesuai dengan Q.S. Al Anbiya ayat 107, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”, Islam adalah agama yang membawa kedamaian dan bukannya kekerasan.

Bukti lain bahwa Islam adalah agama yang mengedepankan kasih sayang adalah setiap surat dalam Alquran dimulai dengan kalimat ‘bismillahirrahmannirrahim’ yang artinya dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalam ceramahnya, Prof. Mohamed Emam Dawood menekankan pada kata ar rahman, yang menunjukkan bahwa kasih sayang Allah berlaku pada seluruh alam semesta—dari mulai manusia hingga lingkungan sekitar—dan ar rahim, yang menunjukkan bahwa kasih sayang Allah berlaku selamanya, pada setiap waktu, tanpa batasan.

Beliau juga memaparkan pandangan Islam mengenai terorisme dan kalimat Alquran yang sering kali disalahartikan, yakni Q.S. Al Anfal ayat 60, yang berbunyi “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya...”

Ayat di atas sering kali ditafsirkan sebagai bukti dukungan Islam terhadap terorisme, karena kata ‘kekuatan’ yang tercantum dalam firman Allah tersebut memiliki akar kata yang sama dengan ‘terorisme’.

Sebenarnya, menurut Prof. M. Mohamed Emam Dawood, kata ‘kekuatan’ tersebut adalah kata yang luas, dan memiliki akar kata yang sama dengan banyak hal. ‘Kekuatan’ di atas tidak hanya berarti kekuatan secara militer, namun juga pendidikan dan penelitian.
Kalimat ‘menggentarkan musuh Allah’ atau terkadang diartikan sebagai ‘menakut-nakuti musuh Allah’ juga bukan berarti Allah senantiasa memerintahkan Muhammad untuk menggunakan kekerasan dalam penyebaran Islam.

Tujuan dari menyiapkan pasukan untuk menakut-nakuti musuh Allah (pengertian ‘kekuatan’ dalam konteks militer) adalah untuk mencegah negara-negara tetangga berlaku sewenang-wenang terhadap Islam.

Beliau juga mengingatkan bahwa hampir setiap negara di dunia ini memiliki pasukan militer yang tangguh, yang tidak melulu dimanfaatkan untuk memerangi negara lain, namun untuk membuat negara lain segan dan menghormati negaranya.

Terakhir, beliau menyampaikan bahwa terdapat tiga cara utama dalam pencegahan penafsiran Alquran yang salah, antara lain (1) Membaca Alquran dan artinya dari sumber yang tepercaya, (2) Tidak langsung memercayai tafsiran Alquran di internet, namun mencari tafsiran dari orang-orang yang sudah ahli dan dapat dipercaya, dan (3) Kepada dosen dan pengajar, dapat dilaksanakan sebuah musyawarah yang melibatkan seluruhnya sehingga dapat dilakukan diskusi dalam menafsirkan Alquran.


Sumber gambar: pengurus Masjid Salman ITB