Berita / Profil

Prof. Dr. Sigit Sukmono: Memadukan Profesi Dosen dan Wirausaha

Ahmad Fadil - Minggu, 27 Agustus 2017, 18:11:55 - Diperbaharui : Rabu, 1 - November - 2017, 01:29:02

Salah satu program strategis Prof. Kadarsah Suryadi selaku Rektor ITB 2014-2019 adalah mewujudkan ITB sebagai universitas wirausaha (Enterprenerial University) dengan cara menguatkan hasil-hasil riset yang memiliki potensi besar untuk diindustrialisasikan dengan didukung dengan kerja sama dari berbagai pihak, perusahaan besar, menengah, hingga kecil setara Usaha Kecil Menengah maupun home industry. Pencanangan hal di atas merupakan langkah yang sangat baik karena ITB sebagai perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia tentunya mempunyai peran strategis untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai jiwa wirausaha. Salah satu figur yang sudah memraktikannya betul adalah Prof. Dr. Sigit Sukmono, salah seorang Dosen di FTTM yang juga berkecimpung dalam dunia Wirausaha.

Beliau lulus dari Departemen Teknik Geologi – ITB tahun 1987. Begitu lulus Ia diajak magang di PT Caltex Pacific Indonesia—saat ini menjadi PT. Chevron Pacific Indonesia—oleh Prof. DR. Djoko Santoso (Rektor ITB 2005-2010). Saat itu PT CPI merupakan perusahaan minyak internasional terbesar di Indonesia dan Ia ingat betul nasihat Prof. Djoko Santoso saat magang tersebut untuk mendalami keahlian yang khas namun strategis di bidang eksplorasi perminyakan. Karena itu, begitu Ia diangkat menjadi dosen ITB tahun 1989, Ia memutuskan untuk mendalami keahlian di bidang geofisika reservoir perminyakan (petroleum reservoir geophysics).

Karena saat itu mata kuliah mengenai geofisika perminyakan belum ada di ITB, maka pendalaman Ia mulai dengan mengembangkan mata kuliah-mata kuliah inti yang berhubungan dengan geofisika perminyakan yaitu interpretasi data seismik dan pengenalan seismik stratigrafi.

Mengembangkan matakuliah dari nol adalah pekerjaan yang sangat sulit, namun segi positifnya adalah ini memaksanya untuk betul-betul dapat memahami materi kuliah tersebut dari dasar. Hal itu menjadi modal dasar yang sangat berharga baginya untuk mengembangkan kompetensi khas sebagai ilmuwan maupun wirausahawan.

Selama mendalami bidang tersebut Ia juga memperhatikan bahwa ahli-ahli di bidang geofisika reservoir tersebut kebanyakan datang dari kalangan industri dengan pendekatan pemecahan permasalahan yang sering bersifat prosedural mengikuti perangkat-lunak yang tersedia dan cenderung kurang didasari pendekatan ilmiah yang kuat.

Kelemahan pendekatan seperti di atas adalah kurang handal untuk memecahkan permasalahan yang khas karena perangkat-lunak biasanya dikembangkan untuk prosedur yang bersifat umum. Dari situ Ia melihat satu peluang pendekatan bisnis yang unik yang mungkin hanya bisa dilakukan oleh para akademisi dan peneliti yaitu mengkombinasikan antara penerapan praktis dan pendekatan ilmiah yang kuat sehingga dapat diterapkan untuk kasus-kasus yang umum dan juga khas.

Berdasarkan pemikiran di atas, sejak tahun 2000 melalui LPPM dan LAPI-ITB Ia mulai menawarkan paket konsultansi dan pelatihan di bidang geofisika reservoir kepada perusahaan-perusahaan minyak di Indonesia. Paket konsultansi maupun pelatihan Ia kemas sedemikian rupa sehingga dapat diterapkan secara praktis pada pekerjaan sehari-hari tapi tetap didasarkan pada prinsip keilmuan fundamental yang mendasari penerapan praktis tersebut. Dengan pendekatan seperti itu, maka penerapannya dapat pada kasus yang umum maupun khas.

Pendekatan bisnis seperti di atas ternyata cukup manjur sehingga per tahun rata-rata bisa dihasilkan 6 kontrak kerja-sama dan 6 paket pelatihan dimana masing-masing pelatihan berdurasi 5 hari kerja. Hal tersebut merupakan prestasi cukup besar, karena di dunia perminyakan Indonesia saat itu pekerjaan konsultansi dan pelatihan masih didominasi perusahaan luar-negeri. Karena tenaga ahli dari ITB saja tidak cukup untuk memenuhi permintaan kuat dari pasar, maka Ia juga melibatkan tenaga ahli dari perguruan tinggi lain, namun kontrak tetap melalui LPPM atau LAPI-ITB.

Pada tahun 2002 harga minyak jatuh di sekitar USD17/bbl dan otomatis membuat bisnis di bidang perminyakan juga lesu. Untuk mengatasi tantangan ini dan juga melihat kelemahan utama perguruan-tinggi adalah pada sisi pemasaran, maka Ia menjalin kerja-sama dengan perusahaan swasta khusus untuk pemasaran sedang kontrak tetap melalui perguruan-tinggi.

Resep di atas manjur mengatasi krisis harga minyak tahun 2002 tersebut. Dari tahun 2002 sampai 2009 total dihasilkan 45 kontrak konsultansi dan 80 paket pelatihan atau per tahun rata-rata bisa dihasilkan 6 kontrak kerja-sama dan 11 paket pelatihan.

Pada Tahun 2009 harga minyak kembali jatuh disekitar USD35/bbl dan memaksanya melakukan efisiensi besar-besaran dengan cara merampingkan struktur kerja-sama, melakukan pemasaran sendiri dan melakukan diversifikasi usaha. Sejak tahun 2009 tersebut bisnis perminyakan dunia juga diwarnai dengan perkembangan baru dengan mulai menonjolnya peran produksi minyak dari negara-negara Afrika (dimotori Nigeria dan Angola). Menyikapi perkembangan ini maka Ia banyak melakukan pemasaran ke negara produsen minyak dari Afrika.

Pada tahun 2015-2016 harga minyak kembali jatuh di sekitar USD40/bbl dan membuat krisis besar-besaran di industri perminyakan. Namun transformasi bisnis yang mulai Ia terapkan sejak 2009 membuahkan hasil. Saat banyak perusahaan konsultansi dan pelatihan di bidang perminyakan tutup usahanya, pada kurun 2010-2016 Ia masih mampu mendapatkan 25 buah kontrak konsultansi dan 40 kontrak pelatihan dari manca negara dimana kontrak konsultansi didominasi oleh perusahaan-perusahaan minyak Afrika. Yang lebih menggembirakan lagi, di saat krisis melanda dunia usaha perminyakan di tahun 2015, Ia malah mendapatkan kepercayaan untuk supervisi eksplorasi perminyakan lepas-pantai terdalam di dunia.

Kinerja kewirauasahaan yang baik di atas tentunya sangat tergantung kepada kepercayaaan konsumen yang menerus kepada kita sebagai penyedia jasa yang teruji mutunya. Hal tersebut hanya bisa didapatkan bila produk yang kita hasilkan didasarkan pada landasan ilmiah yang kuat. Selain itu, pemasaran yang menerus tentang keahlian kita sangatlah penting dimana yang paling efektif dengan cara melakukan publikasi pada jurnal ilmiah internasional rujukan. Dari publikasi ilmiah ini Ia mendapatkan beberapa penghargaan, yaitu sebagai Peneliti Terbaik, Menteri Riset dan Teknologi Indonesia pada 2002, Penghargaan Publikasi Internasional, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada 2001, dan Best Research Award, Toray Science & Technology Foundation pada 1999.

Selain beberapa kiat di atas, masih banyak lagi kiat mendasar namun penting untuk bisa sukses menjadi dosen dan/atau wirausahawan, beberapa di antaranya yang terpenting adalah untuk tidak terjebak dalam stigma bahwa profesi dosen bertolak-belakang dengan profesi wirausahawan. Selalu cermati perkembangan teknologi yang berkaitan dengan bidang keahlian kita dan jeli lihat peluang di aspek usaha mana kita punya nilai kompetitif terbaik. Lalu, kembangkan “branding” tentang keahlian khas yang kita miliki dan jaga kepercayaan pasar dengan selalu mengedepankan kwalitas pekerjaan. Tak lupa, cermati juga gejolak dunia usaha yang mungkin berpengaruh besar pada jenis usaha kita dan lakukan adaptasi secepatnya untuk meminimalkan dampak gejolak tersebut. Lakukan diversifikasi usaha bila diperlukan.


Oleh: Prof. Dr. Sigit Sukmono