Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti Sampaikan Kuliah Wawasan Kebangsaan pada OSKM 2017

M. Armando Siahaan | Sabtu, 19 Agustus 2017, 05:01:44 | Lihat foto berita ini | Diperbaharui : Minggu, 20 - Agustus - 2017, 20:02:47

BANDUNG, itb.ac.id - Panitia Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa (OSKM) ITB 2017 menghadirkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Dr.(HC) Susi Pudjiastuti, sebagai pembicara talkshow pada Jumat (18/08/17). Talkshow yang bertajuk “Susi Talks” ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan OSKM hari kedua. Bertempat di Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB, talkshow ini dihadiri oleh lebih dari 4000 mahasiswa baru ITB angkatan 2017, lebih dari 2000 panitia OSKM 2017, para pejabat eselon satu dan dua Kementrian Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA selaku Rektor ITB, serta para dosen dan tenaga kependidikan ITB. Dalam talkshow ini, Menteri Susi menyampaikan kuliah umum wawasan kebangsaan yang terkait dengan bidang kelautan dan perikanan.

Realitas Bangsa Terkait Bidang Kelautan dan Perikanan

Menteri Susi memulai pemaparannya dengan menyampaikan realitas yang dihadapi Indonesia dalam bidang kelautan dan perikanan selama beberapa tahun belakangan.Menurutnya, Indonesia adalah salah satu negara yang paling besar dalam bidang kemaritiman karena merupakan negara dengan panjang garis pantai terbesar kedua di dunia. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Indonesia juga memiliki kekayaan laut yang sangat luar biasa. Meskipun demikian, rakyat Indonesia belum mampu merasakan dampak kekayaan laut tersebut secara signifikan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pelanggaran yang terjadi di kawasan teritorial laut Indonesia, khususnya masalah illegal, unreported, and unregulated fishing.

Pendapat Menteri Susi tersebut didukung oleh fakta bahwa dari tahun 2003 hingga 2013, jumlah usaha penangkapan ikan dalam negri justru terus menurun. Penyebab utamanya adalah penerbitan sistem lisencing yang memungkinkan kapal asing menangkap ikan di wilayah Indonesia. Akibat dari kebijakan ini adalah terdapat setidaknya 10.000 kapal penangkap ikan milik negara asing di perairan Indonesia. Bahkan, banyak dari kapal tersebut tidak memiliki izin resmi. Hal ini menyebabkan jumlah ikan di perairan Indonesia terus berkurang drastis dan melemahkan perekonomian nelayan lokal.

Untuk mengatasi hal ini, Menteri Susi melakukan beberapa tindakan bijaksana. Salah satunya adalah dengan menetapkan moratorium kapal asing. Inti dari moratorium ini adalah mengizinkan pihak berwenang untuk menenggelamkan kapal asing yang berada di perairan Indonesia jika tidak menjalankan prosedur yang sesuai. Menurut Menteri Susi, tindakan ini sudah sesuai dengan UU No 45 tahun 2009 tentang perikanan. Langkah ini juga merupakan suatu cara untuk memagari teritorial laut Indonesia yang sangat besar. Pasalnya, penenggelaman kapal yang tak sesuai izin akan memberikan rasa segan dan efek jera pada mafia perairan asing.

Pelaksanaan moratorium ini ternyata berbuah manis. Tercatat jumlah cadangan ikan di laut Indonesia meningkat sebanyak 6,02 juta ton sepanjang tahun 2011 hingga 2016. Nilai ini setara dengan penambahan tabungan negara sebesar enam miliar dolar Amerika. Selain itu, secara statistik neraca perdagangan ikan Indonesia menjadi yang terbesar se-Asia Tenggara. Hasil lain yang tak kalah penting adalah kesejahtraan para nelayan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Pesan Kepada Mahasiswa

Meskipun demikian, masih ada banyak tantangan yang dihadapi oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan. Misalnya, para mafia perikanan lokal justru mulai bermunculan. Mafia tersebut memanfaatkan media dan profokasi yang masif. Untuk itu, Menteri Susi meminta para mahasiswa ITB turut berperan aktif dalam mengawasi regulasi yang dijalankan pemerintah. Tujuannya agar para mahasiswa tidak termakan berita bohong dari media-media yang tidak bertanggung jawab. Mahasiswa juga harus terus berperan menjaga kedaulatan perikanan Indonesia dengan cara belajar tekun serta melakukan berbagai pergerakan positif.

Menteri Susi juga berpesan kepada para mahasiswa untuk selalu bersikap terbuka dan adaptif terhadap perubahan. Hal ini sangat diperlukan mengingat arus globalisasi yang berubah sedemikian cepat. Menteri Susi juga mengingatkan seluruh civitas akademika ITB untuk selalu melakukan inovasi dalam berbagai bidang dan mau terus belajar serta mencari hal-hal yang baru. Tujuannya, agar Indonesia tidak tertinggal dari negara-negara lain.

Tak hanya itu, Menteri Susi juga meyampaikan harapannya kepada ITB sebagai salah satu perguruan tinggi negeri terdepan di Indonesia. Menteri Susi berharap ITB dapat menjadi agen perubahan yang membawa tatanan pendidikan dan kebudayaan ke arah yang positif, sehingga mampu menjaga kedaulatan bangsa. Para mahasiswa juga harus siap dibawa ke arah perubahan yang positif, sehingga mampu memberikan dampak yang baik bagi kemajuan Indonesia.

Sebelum menutup sesi talkshow, Menteri Susi tak lupa menyampaikan pesan kepada semua orang untuk meningkatkan konsumsi ikan. Menurutnya, mengonsumsi ikan dapat membuat tubuh tetap sehat dan pikiran menjadi fokus. Menteri susi juga mengingatkan untuk mengonsumsi produk ikan lokal. “Cinta produk dalam negri adalah contoh nyata nasionalisme,” tutupnya sembari disambut tepuk tangan para peserta talkshow.

Sumber Gambar : Dokumentasi Penulis