Simon Admiraal : Sosok Dibalik Berdirinya Pendidikan Seni di ITB

M. Armando Siahaan | Jumat, 18 Agustus 2017, 04:13:50 | Lihat foto berita ini | Diperbaharui : Minggu, 20 - Agustus - 2017, 07:00:33

BANDUNG, itb.ac.id - Seni adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap orang tentu memiliki ketertarikan pada bidang seni, entah itu seni rupa, musik, tari, drama, atau seni lainnya. Seni mampu memberikan warna berbeda bagi kehidupan manusia melalui sisi yang humanis dan filosofis. Hal ini telah disadari oleh Simon Admiraal, seorang pegiat seni asal Belanda, sejak 70 tahun silam. Kecintaannya terhadap dunia seni rupa mendorongnya untuk ikut melestraikan seni rupa melalui pendidikan formal.

Perjalanan Hidup Simon Admiraal

Simon Admiraal lahir di Jakarta pada tahun 1903 dari seorang Ibu yang berkebangsaan Indonesia dan Ayah yang berkebangsaan Belanda. Di usianya yang ke-21, Simon sempat mengikuti kursus di Akademi Seni di Den Haag, Belanda. Setelah mengikuti kursus selama satu tahun, Ia kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai ilustrator untuk pengerjaan iklan dan poster. Setelah itu, Simon bekerja sebagai guru seni di sekolah Queen Wilhelmina di Jakarta mulai tahun 1925. Di samping itu, Simon juga bekerja sebagai ilustrator mingguan di radio NIROM (Nederlansch Indische Radio Omroep Masstchapyi). Pada masa-masa ini, Simon banyak menghasilkan karya mural dan berbagai jenis rancangan furnitur yang banyak dipengaruhi oleh gaya seniman Belanda, Johan Thorn Prikker. 

Ketika terjadi perang dunia kedua, Simon dipanggil untuk melaksanakan layanan militer dengan pangkat kopral. Karena kondisi fisiknya yang lemah pasca menjalani operasi hernia, Simon diberikan tugas sebagai tukang pos untuk mengantarkan surat dari dan kepada unit-unit tentara. Semasa perang dunia berkecamuk, Simon pernah ditahan oleh tentara Jepang di camp Jepang di Cimahi. Setelah Jepang menyatakan menyerah kepada tentara sekutu, Simon pun dibebaskan. Beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, Simon dipanggil kembali ke Belanda. Simon menghabiskan sisa hidupnya di Belanda dan wafat pada bulan April 1992.

Sejarah Pendidikan Seni di ITB

Sejarawan seni terbiasa menulis kisah Seni Rupa ITB sebagai akademi yang mendidik siswanya berorientasi pada seni modern barat. Sementara Yogyakarta dianggap lebih membumi karena memajukan semangat revolusi dan budaya Indonesia. Kontestasi kedua kubu ini telah menjadi mitos dan menempati ruang khusus dalam penulisan sejarah seni rupa di Indonesia. Tampaknya, para sejarawan cukup puas dengan kesimpulan ini.

Namun, masih ada sisi yang perlu ditelusuri lebih jauh untuk menggabungkan potongan sejarah pendidikan seni di ITB. Sebagai contoh, para sejarawan tak boleh mengabaikan fakta bahwa pada tahun 1970-an, banyak seniman dari Seni Rupa ITB tampak leluasa mengembangkan seni yang erat kaitannya dengan nilai-nilai kesenian Indonesia. Hingga sekarang pun, Seni Rupa ITB terus konsisten untuk menghasilkan seni yang menggabungkan kemodernan dan nilai-nilai kesenian Indonesia. Setidaknya, hal ini menjadi satu bukti yang kuat bahwa Seni Rupa ITB tidak dirancang untuk terlalu berfokus pada seni modern barat.

Seni Rupa ITB kini telah tumbuh menjadi salah satu institusi pendidikan seni terdepan di Indonesia. Seni Rupa ITB adalah laboratorium ilmiah yang sejak diresmikan pada 1947 terbuki berhasil mentransformasikan nilai-nilai budaya timur dan barat menjadi nilai baru yang khas dan maju pada zamannya. Kehadiran Seni Rupa ITB di tengah-tengah lingkungan teknologi dan sains juga menjadi bukti adanya integrasi antara disiplin ilmu. Hal ini tentu tidak lepas dari peran Simon Admiraal dan para tokoh lain yang telah berhasil menanam pondasi yang baik bagi pertumbuhan pendidikan seni di ITB.

Peran Simon Admiraal

Sosok Simon Admiraal tampak kurang sering diperbincangkan dalam sejarah pendidikan seni di ITB bila dibandingkan dengan tokoh lain seperti Syafe’i Soemardja atau J.M. Hopman. Padahal, Simon Admiraal turut ambil andil dalam pembentukan pendidikan seni di ITB. Saat ditawan di camp Jepang pada masa perang dunia kedua, Simon bersama sejumlah seniman lainnya mendirikan Kale Koppen Kampement atau Kamp Kepala Gundul. Perkumpulan ini tercatat menggelar dua kali pameran seni dan juga menerbitkan buku. Gagasan-gagasan tentang pembentukan sekolah seni tercipta di camp ini.

Selepas perang, Simon bersama seorang astronom bernama Dr E.A. Kreikan dan guru gambar bernama J.M. Hopman mengajukan rancangan pembentukan sekolah seni di Indonesia kepada Kementrian Pendidikan dan Seni Belanda. Rancangan Simon diterima dan dibentuklah Universitarie Leergang Voor de Opleiding van Tekenleraren atau Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar di bawah naungan Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik Universitas Indonesia di Bandung. Simon duduk sebagai direktur pertama dan berperan aktif menyusun kurikulum pendidikan.

Setelah Simon kembali ke Belanda, Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar mengalami beberapa kali proses transisi kepemimpinan dan kemudian berubah menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD). Untuk mengenang jasanya, nama Simon diabadikan dalam pameran peringatan hari jadi FSRD ke-70 yang bertajuk Cara Lain Menuturkan : Simon Admiraal dan Kisah Mazhab Bandung. Pameran ini akan berlangsung pada (16-07/08-10/17). Untuk itu, para civitas akademika ITB diundang ke Galeri Soemardja untuk turut menyaksikan sejarah pendidikan seni di ITB melalui pameran seni.

Sumber Gambar : Dokumentasi Penulis dan Panitia Peringatan 70 Tahun FSRD