Antisipasi Banjir dengan ZEPHYRUS, Mahasiswa ITB Minimalkan Kerugian Banjir

Zoealya Nabilla Zafra | Sabtu, 5 Agustus 2017, 20:44:51 | Lihat foto berita ini | Diperbaharui : Selasa, 8 - Agustus - 2017, 19:11:02

BANDUNG, itb.ac.id – Banjir merupakan bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi di dunia. Berdasarkan data yang disajikan oleh UN Office for Disaster Risk Reduction (UNISDR) dan Centre for Research on the Epidemiology of Disasters (CRED), 47% dari bencana terkait cuaca 1995-2015 adalah banjir. Dari Januari hingga Juni 2017, banjir telah terjadi sebanyak 511 kali dan menyebabkan 88 jiwa meninggal, 1.544.776 jiwa menderita, dan 225.996 unit rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan. Inilah yang menjadi motif pembuatan ZEPHYRUS, sebuah sistem pengantar pesan cuaca dan ketinggian air sungai melalui aplikasi Android dan SMS satelit.

ZEPHYRUS adalah sebuah sistem yang terdiri atas Automatic Water Level Recorder-Weather Station (AWLR-WS) sebagai alat pendeteksi parameter cuaca dan ketinggian air sungai, SMS satelit dan aplikasi Android. Setelah sensor pada alat AWLR-WS ini menerima data cuaca dan ketinggian air, data akan dikirim ke server yang akan menyebarluaskan informasi tersebut melalui aplikasi Android dan SMS satelit.


Latar Belakang Lahirnya ZEPHYRUS

Awal mulanya, ide sistem ZEPHYRUS ini muncul ketika Ahmad Wirantoaji Nugroho (Meteorologi 2015) yang akrab disapa Aji berbincang dengan seniornya di sekretariat Himpunan Mahasiswa Meteorologi (HMME). “Yang mendorong sih sebenarnya karena prihatin (dengan) banjir di Bandung Selatan. Kalau secara umum, banjir memang sering terjadi di Indonesia. Dan usaha mengantisipasi banjir itu sendiri masih jauh dari optimal,” jelas Aji.

Ia menjelaskan bahwa keprihatinannya pada wilayah Bandung Selatan yang setiap tahun selalu tertimpa bencana banjir. Karena wilayah Bandung yang berbentuk cekungan, dengan daerah Bandung Selatan yang termasuk ke dalam wilayah tengah, bencana banjir tidak dapat dipungkiri.

Tim yang terdiri atas Ahmad Wirantoaji Nugroho (Meteorologi 2015), Andryansah Bagas Warno Putra (Teknik Geologi 2015), Aufa Zalfarani Saprudin (Meteorologi 2014), Harry Alvin Waidan Kefas (Teknik Informatika 2014), dan Novianti Rossalina (Desain Produk 2015) ini awalnya terbentuk karena Aji, Andryansah Bagas, dan Novianti Rossalina sama-sama penerima manfaat beasiswa Sinergi Foundation. Sedangkan Aufa Zalfarani adalah kakak tingkat Aji dan Harry Alvin adalah kenalan Aji di sebuah komunitas.


Lebih Dalam Tentang ZEPHYRUS

Sistem ini menggunakan aplikasi Android sebagai sarana utama penyebaran informasi karena dirasa lebih mudah terjangkau pengguna.

“Nah itu, jadi ya salah satu alasan menggunakan aplikasi Android ini supaya bisa lebih cepat dan real time. Untuk SMS setiap air sungai telah mencapai ketinggian tertentu,” ujar Aji.

Keistimewaan ZEPHYRUS salah satunya adalah mudah terjangkau oleh pengguna, karena menggunakan aplikasi Android dan SMS satelit. Selain itu, alat AWLR-WS yang digunakan dalam sistem ini juga jauh lebih murah dibandingkan alat-alat serupa yang sudah terpasang, karena merupakan penggabungan dua alat yaitu Automatic Water Level Recorder (AWLR) dan Automatic Weather Station (AWR).

“Istimewanya adalah karena alat AWLR-WS ini dipakai, jadi bisa menekan penggunaan anggaran gitu. Kalau misalnya yang biasa dibuat itu sekitar 73 jutaan, sedangkan yang kita keluarkan itu hanya sekitar 7,7 juta jadi bisa menghemat,” jelas Aji mengenai perbandingan ZEPHYRUS dengan sistem yang sudah ada.

Ia juga menilai bahwa agar bencana banjir lebih mudah terantisipasi, diperlukan beberapa alat AWLR-WS yang dipasang di titik-titik yang berbeda. “Nah, bayangkan dengan biaya pengeluaran yang sama, kita bisa meletakkan sembilan alat AWLR-WS di sembilan titik yang berbeda,” jelasnya.

Dalam pembuatannya, tim ZEPHYRUS dibantu oleh seorang dosen pembimbing, yakni Muhammad Ridho Syahputra, M.Si dan didukung penuh oleh ketua Program Studi Meteorologi Dr. rer. nat. Armi Susandi, M.T. Selain itu, ada pula Kang Riki dari Garda Caah (komunitas peduli banjir di Bandung Selatan) yang turut membantu dalam sosialisasi ke warga terdampak banjir dan dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum yang telah menyediakan Teras Cikapundung sebagai lokasi peletakan alat AWLR-WS tersebut.

Tantangan yang Dihadapi 

Dalam proses pembuatan sistem ZEPHYRUS, tim mendapatkan kesulitan di bagian pengintegrasian alat AWLR-WS tersebut. Hal tersebut menyebabkan proses pengerjaan menjadi terhambat.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, tim bekerja sama dengan Sulhan (Teknik Elektro 2014), anggota Unit Robotika ITB, yang notabene mengerti cara untuk mengintegrasikan alat dengan aplikasi.

Harapannya di Masa Depan

“Pertama, kami mengajukan ZEPHYRUS ini memang bukan semata-mata karena ingin menang Pimnas. Kami memang ingin membuat alat yang dapat bermanfaat langsung di masyarakat,” tukas Aji.

Pengajuan ZEPHYRUS ke Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Karsa Cipta ini memang bertujuan untuk menggalang dana pembuatan sistem tersebut.

Aji juga menjanjikan bahwa sistem ini akan terus dipantau kondisinya dengan bantuan dari HMME. “Untuk keberlanjutannya, insya Allah, ketika ini sudah selesai, dari Himpunan Mahasiswa Meteorologi siap untuk menemani keberlanjutannya,”

Sumber foto: narasumber