Ir. I Made Dana M. Tangkas, M. Si., IPM : Perkuat Industri Otomotif Nasional

Gilang Audi Pahlevi | Jumat, 14 April 2017, 03:19:16 | Lihat foto berita ini

 
BANDUNG, itb.ac.id- Sektor industri merupakan salah satu sektor vital untuk kemajuan suatu negara. Diantara berbagai sektor industri yang dapat dikembangkan oleh suatu negara, industri otomotif adalah sektor yang menjanjikan. Telah ada beberapa contoh negara yang berhasil mengembangkan industri otomotifnya seperti Jepang, Korea Selatan, China, Amerika Serikat, Jerman. Kesuksesan negara-negara tersebut mengembangkan industri otomotifnya telah membawa mereka menjadi raksasa industri kelas dunia. Dengan kesuksesan tersebut juga, tingkat pendapatan negara-negara tersebut bertambah secara signifikan sehingga mampu membiayai berbagai proyek-proyek strategis nasional.

Topik inilah yang menjadi bahasan dalam kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Teknik Industri ITB pada Rabu (12/04/2017). Kuliah tamu ini menghadirkan Presiden Institut Otomotif Indonesia (IOI) sekaligus Direktur PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Ir. I Made Dana M. Tangkas, M. Si., IPM. Kuliah tamu bertajuk “Visi Industri Otomotif 2035” ini dilaksanakan di Ruang Seminar A/B Gedung Matthias Aroef Institut Teknologi Bandung (ITB). Di depan beberapa dosen dan puluhan mahasiswa ITB, beliau memaparkan peran industri otomotif bagi Indonesia serta harapan di masa mendatang untuk industri otomotif Indonesia.

Trend Terkini Industri Otomotif Global dan Regional
Perusahaan otomotif dunia, di era globalisasi ini, selalu mencari negara-negara yang memiliki daya saing tinggi dalam hal harga yang kompetitif dan kualitas jempolan. Dulu, basis produksi raksasa otomotif masih berada di Amerika Serikat dan Eropa. Namun sekarang basis produksi tersebut sudah bergeser ke China dan India. Dua negara lain yang sedang berada di puncak produktivitas otomotif tentulah Jepang dan Korea Selatan. Namun dua negara ini memiliki pendekatan yang berbeda dalam menjalankan bisnisnya. Korea Selatan dengan Hyundai, KIA, Ssangyong miliknya memutuskan untuk tetap memusatkan industrinya di dalam negeri. Sementara Jepang melalui Toyotanya memutuskan untuk mengimplementasikan slogan “dont put all of your eggs in one basket”. Jaringan korporat milik dinasti keluarga Toyoda ini memiliki 51 pabrik yang tersebar di 26 negara dan 170 distributor di 140 negara. Saat ini pasar otomotif dunia memang dikuasai oleh negara-negara tersebut.

Ternyata region Asia Tenggara bukannya tidak ikut serta dalam kontestasi otomotif global. Dengan masuknya Thailand sebagai salah satu basis produksi kompetitif, maka pasar dan basis produksi akan masuk ke region Asia Tenggara dengan semakin gencar. Thailand telah menjadi rumah produksi bagi merk-merk otomotif kenamaan seperti BMW, Ford, General Motors, Honda, Mercedes Benz hingga Tata. Banyaknya merk yang berinvestasi di Thailand telah membuat Thailand mencapai angka yang tinggi pada prosentase share manufacture export yakni 94%. Tingkat ekspor produk otomotif yang tinggi ini memang didukung dengan kapasitas produksi yang besar yakni 1.94 juta unit per tahun. Sebagai perbandingan, kapasitas produksi Indonesia hanya 1.17 juta unit per tahun. Padahal jumlah penduduk dan ketersediaan sumber daya Indonesia lebih jauh mengungguli Thailand, namun Thailand tetap lebih unggul industri otomotifnya. “Thailand itu konsumsi kendaraannya rendah, sementara Indonesia tinggi. Tapi produktivitas Thailand lebih tinggi. Tidak sulit mengalahkan pasar Thailand, yang sulit itu mengalahkan kapasitas produksinya” ujar Ir. I Made Dana M. Tangkas, M. Si., IPM. Berdasarkan International Competitive Index for Automotive Products tahun 2014, Thailand memperoleh angka 0.49, sementara Indonesia memperoleh angka -0.23 sehingga memang Thailand jauh lebih kompetitif dari Indonesia.


Rencana Indonesia Menuju Industri Otomotif Nasional 2035
Langkah-langkah strategis harus dieksekusi untuk dapat menggenjot industri otomotif nasional. Dari segi kesepakatan dan hak kekayaan intelektual, ada dua hal yang dapat dilaksanakan Indonesia. Pertama, Indonesia harus mengupayakan agar kesepakatan dengan induk perusahaan ototmotif tertentu tidak hanya Technical Asisstant Agreement, melainkan sampai License Agreement. Adapun kategori mobil yang dapat diupayakan hingga License Agreement adalah kategori Low Cost Green Car (LCGC). Kemudian, Indonesia dapat mengembangkan mobil nasional dan mematenkannya. Proyek mobil nasional ini dimulai dengan mobil desa yang saat ini sudah masuk tahap riset dan pengembangan.

Secara teknis produksi. Indonesia dapat meningkat local content yakni kadar material lokal yang digunakan sebuah produk. Saat ini local content pada Toyota Innova, sebagai contoh, mencapai 60% pada tahun 2015 dan akan ditingkatkan hingga 90%. Material yang belum disuplai secara lokal diantaranya adalah baja dan resin. Kemudian, pemerintah Indonesia harus menciptakan lingkungan investasi yang kondusif. Hal ini dapat dicapai dengan membuat regulasi yang menarik investor, meningkatkan industri proses, pengembangan teknologi dan sumber daya manusia hingga pembangunan infrastruktur dan pengadaan energi yang mencukupi. 

Langkah-langkah tersebut bertujuan untuk mewujudkan industri otomotif yang seluruh material dan sumber daya manusianya dari Indonesia. “Urusan kapital tidak apa-apa dari luar (negeri), nanti bisa ada proses transfer teknologi. Yang penting 100% material, 100% sumber daya manusianya dari Indonesia”, ujar Ir. I Made Dana M. Tangkas, M. Si., IPM.