Wakil Wisudawan April 2017: Tunda Kelulusan Demi Riset di Jepang

Anin Ayu Mahmudah | Kamis, 13 April 2017, 02:50:09 | Lihat foto berita ini

BANDUNG, itb.ac.id - Lulus tepat waktu merupakan target dari sebagian besar mahasiswa. Terlepas dari persoalan biaya, lulus tepat empat tahun juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk sesegera mungkin terjun dalam kehidupan masyarakat. Namun lain cerita bagi Tiwi Aminati, S.T. (Teknik Lingkungan 2013). Gadis yang kerap disapa Tiwi ini baru resmi mendapat gelar sarjananya pada Sabtu (01/04/17) lalu, walaupun sebenarnya gelar tersebut dapat saja ia peroleh sejak Oktober 2016. Ya, Tiwi telah menyelesaikan tugas akhirnya sejak September 2016.

Tepat satu hari setelah sidang sarjana Program Studi S1 Teknik Lingkungan ITB, Tiwi langsung berangkat ke Jepang untuk mengikuti program riset sekaligus pertukaran mahasiswa di Tokyo Institute of Technology. Kendati telah menunda kelulusannya hingga sekitar lima bulan, gadis yang lahir di Jakarta tepatnya pada 9 Juni 1995 ini memperoleh kesempatan prestis untuk menyampaikan valedictorian speech sewaktu Sidang Terbuka ITB Wisuda Kedua Tahun Ajaran 2016/2017 berkat prestasinya yang di atas rata-rata.

Sebagai beswan Bidik Misi, Tiwi berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,87 setelah 4,5 tahun menempuh masa studinya. Selain berprestasi dalam bidang akademik, Tiwi juga aktif di kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Beberapa kegiatan kemahasiswaan yang diikuti oleh Tiwi antara lain Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) ITB, Resimen Mahasiswa (MENWA) ITB, dan U-Green ITB. Tiwi juga sempat mengemban amanah besar dengan menjadi Ketua Pelaksana Diklat Aktivis Terpusat (DAT) 2013 serta Kepala Kesekretariatan MENWA ITB.

Pada awalnya, Tiwi bermimpi untuk berkuliah di Program Studi Arsitektur ITB, namun setelah membaca profil jurusan Teknik Lingkungan di situs ITB ia merasa bahwa Jakarta, daerah asalnya, punya banyak sekali permasalahan lingkungan. Sehingga Tiwi pun tertarik untuk mempelajari ilmu tersebut dan memilih Teknik Lingkungan. “Yang aware tentang permasalahan lingkungan di Indonesia masih rendah. Bahkan, kalau kita lihat di kampus saja, bisa jadi hanya anak teknik lingkungan atau yang bener-bener peduli lingkungan saja, seperti anak U-Green,” ungkap Tiwi soal kecemasannya.

Tiwi berharap masyarakat Indonesia di masa mendatang dapat lebih peduli untuk menjaga kebersihan lingkungan dan hendaknya dapat mencontoh budaya baik dari negara-negara maju. Pasalnya, ketika Tiwi berkunjung ke Jepang, ia tidak menemukan sampah terbuang sembarangan di ruas-ruas jalan karena baik pemerintah maupun warga telah sama-sama peduli terhadap beragam isu lingkungan.

Program riset Young Scientist Exchange Program di Tokyo Institute of Technology yang diikuti oleh Tiwi dari September 2016 hingga Februari 2017 merupakan kali kedua bagi Tiwi berkunjung ke Jepang. Sebelumnya, Tiwi juga pernah mengikuti Sakura Science Plan Program selama satu bulan pada Agustus 2015 di Chuo University. Memang menjadi keinginan Tiwi untuk mengikuti kegiatan pertukaran mahasiswa selama satu semester sebelum akhirnya lulus. Di program riset ini, Tiwi ditempatkan di Laboratorium Bioengineering. Berbeda dengan topik tugas akhirnya yang membahas remediasi, di program riset ini Tiwi mengangkat topik mengenai microbial corrosion.

Hal menarik dari riset yang dilakukan di Jepang dibandingkan penelitian untuk tugas akhir di Indonesia adalah Tiwi benar-benar dibimbing langsung oleh kepala laboratoriumnya selama menjalani penelitian, serta suasana penelitian yang sangat kondusif. “Salah satu cara untuk mengenal negara kita sendiri, selain dengan mencari tahu tentang negara kita, adalah membenchmark (membandingkan) negara kita dengan negara lain,” akunya terkait manfaat yang ia dapatkan selama menjalani program riset di Jepang.

Dalam pidatonya, Tiwi mengucapkan terima kasih kepada civitas akademika ITB dan keluarga wisudawan atas segala dukungan yang diberikan selama ini, baik kepada dirinya maupun seluruh wisudawan hingga akhirnya berhasil lulus. Kemudian, Tiwi juga mengajak wisudawan-wisudawati bernostalgia akan masa-masa indah selama menempuh studi sarjana di kampus, “Saya ingin rekan-rekan wisudawan untuk berterima kasih kepada orang yang selalu ada, baik ketika kalian melewati hari-hari yang menyenangkan maupun ketika kalian sedang terpuruk, kepada orang yang tidak pernah meninggalkan kalian ketika berusaha bangkit dan berjuang, dan kepada orang yang selalu memahami kalian, yaitu yang tak lain dan tak bukan adalah diri kalian sendiri.”


Reporter: Muhammad Adil Setiyanto Suhodo (Teknik Lingkungan 2014)
ITB Journalist Apprentice 2017