Kolokium Astronomi ITB: Pengembangan Komunitas di Nusa Tenggara Timur

Abdiel Jeremi W | Rabu, 1 Maret 2017, 14:41:47 | Lihat foto berita ini | Diperbaharui : Sabtu, 8 - April - 2017, 20:23:38

Dalam rangka mempersiapkan Observatorium Nasional di Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, NTT, Kelompok Keahlian Astronomi ITB sejak tahun 2014 melaksanakan kegiatan pengembangan komunitas kepada masyarakat di wilayah Amfoang Tengah. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kontribusi pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan observatorium kepada masyarakat sekitar. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman terkait keberadaan observatorium serta pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan. Program tersebut telah berjalan sejak 2014 silam hingga saat ini. Dosen Astronomi ITB, Premana W. Premadi, Ph.D. dan Dr.rer.nat. Hesti Retno Tri Wulandari memaparkan seluk beluk program ini dalam kolokium yang dilaksanakan pada Jumat (03/02/17) di Ruang Seminar Astronomi, Center of Advanced Science (CAS) ITB.


Pengembangan Komunitas sebagai Misi Kolektif

Kegiatan pengembangan komunitas tersebut penting untuk dilakukan, karena keberadaan sebuah remote observatory tidak akan bertahan tanpa dukungan dan pemahaman dari masyarakat sekitar. Pengembangan komunitas ini terbagi menjadi dua fokus utama: Perbaikan kualitas komunitas lokal dan pendidikan IPTEK bagi lingkungan pendidikan dan masyarakat sekitar. Kedua fokus tersebut melibatkan beragam stakeholder, yakni tenaga pendidik lokal, keluarga-keluarga dari komunitas setempat, astronom, komunikator sains, pengelola program, serta pengelola dana.



Perbaikan kualitas komunitas lokal ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup masyakarat sekitar dengan memanfaatkan teknologi yang mudah dijangkau, khususnya akses sumber air bersih dan listrik bagi rumah tangga. Masyarakat lokal saat ini umumnya belum mendapatkan akses listrik, sedangkan air bersih diperoleh penduduk setempat dari sungai dengan debit air yang tidak menentu. Kelistrikan di daerah tersebut akan tersedia dengan memperkenalkan panel surya dari Indonesian Institute for Energy Economics (IIEE). Di sisi lain, konsep “menuai air” dengan memanfaatkan talang dan penampungan sementara mendorong penduduk untuk memanfaatkan air bersih sebaik mungkin. Selain pemenuhan kebutuhan dasar, masyarakat juga dilatih dan diberi pemahaman mengenai penggunaan energi yang bijak dan tepat guna. “Kami ingin masyarakat sudah siap dan bijak (memanfaatkan teknologi, red) ketika teknologinya datang secara penuh,” ujar ibu Premana. Hal ini juga ditujukan untuk meningkatkan interaksi antara masyarakat dengan kalangan peneliti serta mengenalkan penduduk mengenai pentingnya memiliki langit yang gelap pada malam hari bagi observatorium dan masyarakat.

Science Center Pertama di Indonesia Timur

Selain perbaikan komunitas lokal, Astronomi ITB juga berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan IPTEK di wilayah Nusa Tenggara Timur. Untuk itu, di Kabupaten Kupang telah direncanakan pendirian sebuah science center yang terbuka untuk umum dan sekaligus berfungsi sebagai kantor pusat Observatorium Nasional. Proyek ini dilakukan melalui kerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Universitas Cendana, Pemerintah Provinsi NTT, dan Pemerintah Kabupaten Kupang. Science Center tersebut didirikan agar para pelajar serta pendidik di NTT memiliki sebuah fasilitas pendidikan konsep sains di luar sekolah yang yang interaktif dan menyenangkan. Bertemakan Big History (alur perjalanan alam semesta dan kehidupan) dengan kontekstualisasi budaya serta karakter lingkungan NTT, science center ini diharapkan dapat meningkatkan minat para pelajar terhadap ilmu pengetahuan. Selain pengadaan fasilitas, pengembangan pendidikan tersebut juga dilakukan dalam bentuk kunjungan langsung, pelatihan/workshop, serta sarasehan sains kepada guru dan siswa dari berbagai instansi pendidikan (sekolah dan universitas) di Kupang. SDM lokal juga turut dipersiapkan untuk menjadi duta science center, berbekal pendidikan ilmu dasar hingga penggunaan instrumen dan peraga sains.

Dari berbagai program yang telah disebutkan, kedua narasumber menyatakan bahwa keberlangsungan misi ini membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang lebih dari kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan. Dukungan tersebut diperlukan untuk menjaga momentum pembangunan observatorium, sehingga pendirian observatorium dapat beriringan dengan kesiapan masyarakat sekitar dalam memenuhi kebutuhan dasarnya sekaligus mendukung keberadaan observatorium secara kontinu. Kegiatan pengembangan masyarakat yang akan datang pun diyakini akan semakin meningkat di tahun ini dengan bertambahnya dukungan dari ITB serta Newton Fund. Tentunya dukungan tersebut harus disertai dengan partisipasi yang nyata dari segenap civitas academica Astronomi ITB, sehingga terwujud keberadaan Observatorium Nasional yang didukung oleh masyarakat yang telah merasakan manfaat dari kehadirannya. 

M. Rezky (Astronomi 2014)

disadur dari www.as.itb.ac.id
sumber dokumentasi: www.as.itb.ac.id
video oleh Muhammad Yusuf