Berita / Utama

Menko PMK Puan Maharani : Galakkan Gerakan Nasional Revolusi Mental

Aldy Kurnia Ramadhan - Kamis, 17 November 2016, 16:40:46
BANDUNG, itb.ac.id - Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali mengadakan Kuliah Umum Studium Generale pada Rabu (16/11/16) yang bertempat di Aula Barat Kampus Ganesha ITB. Pada kesempatan kali ini, Lembaga Kemahasiswaan ITB mengundang Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Puan Maharani, untuk memberi tambahan wawasan kepada ratusan peserta kuliah yang berasal dari berbagai angkatan dan program studi. Studium Generale tersebut juga dihadiri oleh Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA., Deputi Menko PMK Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Prof. Dr. R. Agus Sartono, MBA., Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Prof. Intan Ahmad, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Provinsi Jawa Barat Ineu Purwadewi Sundari, S.Sos., MM., serta perwakilan Ikatan Alumni (IA) ITB Basar Simanjuntak. Dalam kuliah umum tersebut, Menko PMK memberikan kuliah dengan tema Peran Perguruan Tinggi dalam Mewujudkan Revolusi Mental kepada para mahasiswa yang hadir.

Dibuka Oleh Sambutan Rektor

Kuliah umum Studium Generale dibuka dengan sambutan oleh Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA. Dalam sambutannya, Rektor ITB mengucapkan selamat datang kepada Menko PMK dan jajaran dari Kementrian PMK serta segenap tamu undangan di ITB serta mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Menko PMK yang telah bersedia mengisi kuliah Studium Generale kepada ratusan mahasiswa ITB. Selanjutnya, Rektor ITB juga berharap bahwa kuliah umum tersebut dapat memberikan pengetahuan dan tambahan wawasan yang tidak dapat diperoleh di kelas kepada ratusan mahasiswa yang hadir. Rektor juga menambahkan semoga dengan hadirnya Ibu Puan Maharani yang notabene adalah salah satu menteri wanita yang saat ini duduk di kabinet dapat memberikan inspirasi kepada para mahasiswi yang mengikuti kuliah.

 Tujuan Gerakan Nasional Revolusi Mental

Menko PMK memulai kuliahnya dengan menyampaikan terima kasih kepada Rektor ITB karena selama ini telah membantu mewujudkan gerakan nasional revolusi mental yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah. Revolusi mental bertujuan untuk membangun kualitas masyarakat di bidang ekonomi, sosial, politik, dan budaya sebagai gerakan menuju hidup yang lebih baik. Selain itu, gerakan revolusi mental juga bertujuan untuk menanamkan rasa percaya diri, optimisme, sifat kreatif, etos kerja, dan daya juang masyarakat dalam menghadapi tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Diharapkan dengan berhasilnya gerakan nasional revolusi mental akan menghantarkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Revolusi mental pada awalnya dicetuskan oleh Proklamator Ir. Soekarno pada awal-awal kemerdekaan Indonesia. Beliau yang saat itu menjabat sebagai Presiden pertama Republik Indonesia melihat bahwa dibutuhkan suatu revolusi untuk mengubah mental masyarakat Indonesia yang telah ratusan tahun dijajah oleh bangsa asing menjadi mental yang mandiri, berdaulat, serta berbudaya sesuai dengan kebudayaan asli bangsa Indonesia.

Alasan Diperlukannya Revolusi Mental

Revolusi mental perlu digalakkan lagi pada saat sekarang karena maraknya praktik-praktik yang tidak jujur, tidak memegang etika dan moral, tidak bertanggung jawab, tidak dapat diandalkan dan tidak dapat dipercaya yang saat ini terjadi di masyarakat. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan tujuan negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Salah satu contoh praktik tak jujur yang banyak terjadi di masyarakat adalah praktik pungutan liar atau biasa disebut pungli. Oleh karena itu, pemerintah saat ini menginisiasi gerakan sapu bersih pungutan liar yang telah diinisiasi oleh Presiden Joko Widodo. Tentu tidak mudah untuk memberantas praktik pungli yang sudah lama terjadi di berbagai pelosok negeri, namun sebagai bangsa yang ingin bergerak maju pemberantasan pungli harus dimulai karena tidak mungkin kegiatan pungli akan berhenti jika terus menerus dibiarkan.

Alasan diperlukannya revolusi mental yang kedua ialah perekonomian Indonesia yang masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini diakibatkan oleh melemahnya etos kerja, daya saing, daya juang, serta semangat kemandirian masyarakat. Demi membangun perekonomian Indonesia menjadi lebih maju, pemerintah telah melakukan pembenahan di bidang birokrasi dan perizinan. Pemerintah telah melakukan deregulasi untuk mempersingkat perizinan sehingga diharapkan proses birokrasi tidak lagi bertele-tele dan tumpang tindih baik di pusat maupun di daerah. Hal ini bertujuan untuk mempermudah investor yang ingin membangun usaha agar dapat mendapatkan izin dengan singkat dan diharapkan dapat menghidupkan perekonomian daerah sekitar serta membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Alasan ketiga diperlukannya revolusi mental adalah bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis identitas sebagai suatu bangsa. Budaya-budaya asli bangsa Indonesia seperti gotong royong tengah terkikis oleh kebudayaan asing yang masuk secara masif sebagai dampak dari globalisasi. Oleh karena itu, sebagai bangsa dengan kebudayaan luhur, kita harus dapat membentengi diri dan mempertahankan kultur asli bangsa Indonesia agar dapat kita wariskan kepada generasi penerus bangsa. Mengakhiri kuliahnya, Menko PMK membacakan salah satu kalimat terkenal dari Presiden Pertama RI Ir. Soekarno, "Beri aku 1000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia".