Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB Ikuti Kerja Lapangan di Minamata, Jepang

Mega Liani Putri | Selasa, 30 Agustus 2016, 10:39:06 | Lihat foto berita ini
BANDUNG, itb.ac.id - Minamata adalah daerah di Jepang yang ternama akibat pencemaran hebat yang terjadi pada akhir abad 20. Pencemaran terjadi di Teluk Minamata oleh sebuah perusahaan kimia akibat pembuangan limbah berupa metilmerkuri ke perairan tersebut. Pencemaran ini menggemparkan dunia akibat wabah penyakit yang menjangkiti penduduk di Minamata. Namun, pada tahun 2016 Minamata telah berbenah diri dan menjadi Eco-Town, kota percontohan ramah lingkungan.

Membuka kesempatan bagi pemuda untuk melihat langsung keadaan Minamata saat ini, Keio University, Jepang dan beberapa universitas di ASEAN mengadakan Evidence Based Approach (EBA) Minamata Field Work. Salah satu mahasiswa program studi Teknik Lingkungan ITB, M. Adil Setiyanto Suhodo (Teknik Lingkungan 2014), menjadi peserta dalam program ini mewakili Indonesia. Adil, panggilan akrabnya, menjadi satu-satunya pemuda dari Indonesia di antara 22 orang peserta yang berasal dari Keio University dan berbagai universitas di Asia Tenggara. Kesempatan ini diperoleh Adil berkat informasi dari International Relation Office ITB.

Aktivitas di Tokyo dan Minamata

Tema dari EBA Minamata Field Work yang terlaksana selama 10 hari tersebut (29/07-07/08/16) adalah Sustainable Development Goals. Kerja lapangan tersebut diadakan di dua kota, yaitu Tokyo dan Minamata. Tiga hari pertama, Adil dan peserta lainnya mengikuti kegiatan pre-workshop dan kelas Bahasa Jepang. Kegiatan ini berlangsung di Kampus Hiyoshi, Keio University. Pre-workshop tersebut meliputi pelatihan observasi, pengumpulan data termasuk foto dan video, dan pembuatan poster. Selanjutnya, mereka berangkat ke Minamata untuk kerja lapangan. Di sana, Adil bercerita bahwa selama di Minamata, ia mendapatkan kesempatan untuk kunjungan ke berbagai lokasi, seminar, dan presentasi menganai Sustainable Development Goals (SDGs) ke pelajar SMA di Minamata. Kemudian dua hari terakhir, para peserta kembali ke Tokyo untuk mengikuti post-workshop dan persiapan kepulangan ke negara asal.

Minamata sendiri dipilih menjadi destinasi kerja lapangan karena kemampuannya untuk bangkit dari pencemaran lingkungan kemudian menjadi kota percontohan ramah lingkungan. Menurut Adil, Minamata bisa bangkit dari kasus pencemaran lingkungan itu berdasarkan berbagai upaya. Upaya pertama adalah pembuatan tanah reklamasi yang berasal dari dasar lautan tercemar merkuri. "Merkuri di Teluk Minamata sudah menurun, bahkan sudah sampai batas normal berdasarkan penelitian di sana. Kalau tidak direklamasi, masih banyak hewan yang berada di atas lumpur sehingga memungkinkan hewan-hewan terpapar merkuri," jelas Adil.

Kedua, ada gerakan masal dari warga Minamata untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah kejadian serupa, yaitu pencemaran. Salah satu aksi nyata dari para warga adalah melakukan pemilahan sampah hingga dua puluh kategori. Minamata juga membuat proyek, yaitu Eco-Town: pusat daur ulang berbagai material. Eco-Town dibangun pada tahun 2000 dan menjadi percontohan pusat daur ulang di Jepang.

Inspirasi dari Semangat Warga Minamata

"Ekspektasi sampai di sana karena informasi yang beredar itu melihat wabah yang menjangkit di sana, ternyata waktu sampai di sana restorasi sudah sebagus itu dan sudah bisa jadi kota percontohan ramah lingkungan di Jepang," ungkap Adil. "Walaupun ada informasi yang tersebar di luar sana, belum sepenuhnya itu benar sebelum kita akhirnya melihat langsung. Sedikit sekali informasi tentang kota itu adalah kota ramah lingkungan," tambahnya.

Adil juga mengungkapkan kekagumannya akan semangat dari para warga dalam merestorasi lingkungan. "Kalau mereka aja bisa, kenapa tidak kota-kota di Indonesia. Masalahnya beda, tetapi semangat mereka bisa ditiru," tuturnya. Dibalik semangat penduduk Jepang dalam menjaga kelestarian lingkungan, Adil cukup miris dengan kondisi Jepang dengan warganya yang semakin berkurang. Hal ini tentu berbeda dengan Indonesia yang pertumbuhan penduduknya masih positif. Ini seharusnya menjadi spirit positif bagi Indonesia.

Aktivitas selama kerja lapangan dan menjadi satu-satunya pelajar Indonesia di sana juga menjadikan momen tersebut sangat berharga bagi Adil. Adil mengaku bisa belajar mengaplikasikan bahasa asing terutama Bahasa Inggris dan bisa saling sharing dengan berbagai sudut pandang negara tentang mewujudkan SDGs. Adil pun berharap Indonesia ke depannya makin memperhatikan akan masalah sanitasi yang menjadi bagian dari SDGs tersebut.

 

Sumber Dokumentasi: EBA Minamata Field Work