Kemenangan Tak Terduga Tim Kuya Kayu ITB pada CEPC UNPAR 2016

Bayu Septyo | Selasa, 31 Mei 2016, 23:39:37 | Lihat foto berita ini

Kisah manis nan bernilai terselip dalam kabar kemenangan besar Prodi Teknik Sipil ITB pada gelaran CEPC UNPAR bulan April (09/04/16) silam. Dari tiga mata lomba yang dipertandingkan, untuk pertama kalinya ITB berpartisipasi melalui Tim Kuya Kayu ITB dari Program Studi (Prodi) Teknik Sipil pada kategori Timber Engineering Competition (TEC).  Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Alih-alih tampil sebagai pemain baru, sosok kesatria justru terpancar dalam perjuangan Diko, Afdhal, dan Alkindi yang dengan berani dan percaya diri telah berhasil mengantarkan Tim Kuya Kayu ITB sebagai Jawara TEC pada gelaran CEPC tahunan yang ketiga tersebut.

 Riset Mandiri dan Ide setelah Tertidur Pulas

Sejak pendaftaran ditutup akhir februari lalu, selama satu bulan ketiganya langsung menyusun proposal berupa desain balok kayu yang memenuhi kriteria perlombaan. "kita diminta bikin balok kayu, panjangnya 2 meter, harus ada sambungannya di tengah. Dengan konfigurasi sesuai kreativitas masing-masing, diharapkan dapat memikul beban yang diminta dengan optimal," terang Afdhal. Karena terbatas oleh alam, karakteristik kayu tidak semewah baja ataupun beton. Seringkali didapati dimensi kayu yang direncanakan tidak tersedia dalam pasaran pada umumnya. Hal inilah yang melatarbelakangi prasyarat penggunaan sambungan pada kayu dalam lomba TEC tersebut.

"Kami paham bahwa Jepang adalah negara yang umum tentang penggunaan kayu sebagai struktur bangunan, lalu kita pelajari tuh. Ada namanya teknik sambungan kayu finger joint," ujar Alkindi. Lantaran belum mendapatkan mata kuliah terkait, ketiganya meriset secara mandiri materi-materi yang berkenaan dengan pendesainan kayu. Walaupun sederhana, teknik finger joint dipraktikan di Jepang dengan alat khusus yang tingkat presisinya masih harus dicek sedemikian rupa. "Hal ini diperparah lagi dengan ketersediaan kayu di pasaran yang tingginya hanya sekian senti, sedangkan kami diminta setinggi 20 cm," tukas Diko.

Tak habis akal, tim merekayasa teknik tersebut menjadi pseudo-finger joint. Dengan cara laminasi, lapisan-lapisan kayu disusun hingga memenuhi tinggi yang diminta. Dalam tiap lapisannya, dibuatlah modifikasi berupa panjang yang berbeda-beda pada titik sambungannya, sehingga membentuk mekanisme kunci yang baik seperti memasang bata. Uniknya, hal ini baru disadari oleh Afdhal ketika ia bangun dari tidurnya saat masa menuju deadline proposal menipis. "Disaat kita (Diko dan Alkindi, -red)  menyusun proposal semalaman, dia tertidur pulas. Eh bangun-bangun, Afdhal justru ngeluarin ide ini," ungkap Diko.

Totalitas: Bolos Karena Lolos

Setelah Tim Kuya Kayu ITB tercatat masuk dalam 5 besar pada sesi penyisihan, Diko dan tim langsung menyiapkan strategi dalam merealisasikan desain yang akan diuji pada putaran final berikutnya. Kebingungan melanda karena ketiganya tidak paham dengan perkayuan yang ada di Indonesia.  Tak habis akal, mereka berupaya menemui dosen untuk mendiskusikan bagaimana merekayasa hal tersebut. Melalui Dr. Saptahari sebagai salah satu dosen dari sebagian dikit pengajar yang berurusan dengan topik terkait, mereka mendapatkan pencerahan. Ketiganya mendapati bahwa Gmelina dan Manglid merupakan jenis kayu yang mumpuni untuk desain mereka. Berbekal pemahaman asal-muasal kayu di Indonesia dari pembimbing, mereka bertolak dari Bandung menggunakan motor menuju salah satu sentra pemasok kayu di Nagrek. Lantaran hanya mendapat kayu Gmelina, ketiganya kembali menyalakan motornya untuk mencari kayu Manglid setelah mendapat petunjuk ke kecamatan Kadungora di Garut. Namun demikian, dimensi kayu Manglid yang didapati di Kadungora meleset dari harapan. "Peraturan yang kami pahami tuh tidak boleh mengganti dimensi desain pada proposal. Kondisi sudah jam 2 siang, tapi kami paksakan ke petunjuk berikutnya di daerah Limbangan yang jaraknya 20 kilometer dari Kadungora. Disana ada Pak Haji yang dikenal sebagai pemasok banyak kayu," ujar Diko.

Satu per satu penjual kayu didatangi sesampainya disana, tapi tidak ditemui tanda-tanda seorang Haji yang dimaksud. Adapun ketiganya sempat hampir ditipu lantaran ditawari kayu yang diduga Manglid namun terlampau mahal harganya, tiga kali dari budget yang disiapkan. Namun, ketika ditawar penjual tersebut justru berani menurunkan harga setengahnya. "Ini aneh, gak mungkin ada discount sebesar ini, kita sabar aja cari lagi. Kalau Allah sudah kasih kita sampai titik ini, Ia pasti akan beri jalan," tiru Diko semangati timnya kala itu.

Dukungan Institusi itu Perlu!

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Setelah hampir putus asa mencari, terdapat satu toko yang dijaga oleh seorang Ibu paruh baya. "Bu ada Pak Haji?" tanya Diko semangat. Ibu tersebut langsung  mengangguk tanda ada sosok yang dimaksud. Tak hanya dipersilahkan masuk, ketiganya ditawari minum dan makan juga. "Ternyata Pak Haji dan keluarganya sangat ramah dan benar adanya beliau punya kayu yang dimaksud dengan dimensi yang lebih besar. Bahkan, kita hanya dikenakan tarif kayu setelah dipotong dengan harga yang jauh lebih murah dari penjual yang memberikan discount sebelumnya," cerita Diko.

Dengan keterbatasan kendaraan, ketiganya berpisah dan langsung membawa pulang kayu tersebut setelah mengambil kayu Gmelina yang sebelumnya telah dititipkan di Nagrek. Dengan sedemikian rupa cara, mereka bertiga berhasil mendaratkan kayu hasil buruannya. Uniknya, semua perjuangan ini mereka lakukan saat bolos kuliah pada hari yang sama. "Tidak apa-apa, itu mengajarkan kepada mahasiswa bahwa untuk berhasil selalu penuh pengorbanan," seloroh Alkindi serius.

Setelah berkolaborasi dengan mahasiswa Prodi Seni Rupa untuk teknik pengerutan, kayu diangkut menuju Laboratorium Struktur untuk dirangkai sesuai desain. "Hebatnya, Pak Ari (pembimbing, -red) langsung turun tangan membantu pengeleman. Satu hari habis hanya untuk pembuatan sampel latihan. Padahal, kita mau bikin 4 unit sampel, 1 untuk latihan sisanya untuk dilombakan," tutur Alkin lantaran masa persiapan semakin menipis.

Hasil uji sampel latihan menunjukan  kekuatan rencana gagal dicapai, jauh dari yang ditargetkan. Namun karena keterbatasan unit kayu, Tim Kuya Kayu ITB hanya sempat menyempurnakan sisa pekerjaan yang ada. "Pokoknya semua dievaluasi, disempurnakan, dikerjakan lagi hingga akhirnya dikirim menuju UNPAR untuk dilombakan. Kami berdoa yang terbaik kala itu," lontar Alkin.

Tak disangka-sangka, hasil penyempurnaan Tim Kuya Kayu ITB mampu meningkatkan lebih dari dua kali lipat kekuatan yang didapat saat latihan. Saat diumumkan, hasil fantastis ini berhasil membuat nama Tim Kuya Kayu ITB tercatat sebagai jawara dalam kategori TEC pada CEPC 2016. "Hasil yang sangat memuaskan ini dihadiahkan kepada dosen-dosen yang telah aktif memberikan referensi, pemikiran, dan inspirasi. Segala teknik glulam , sandwich layer, dan lainnya didapatkan dengan diskusi bersama mereka. Terima kasih untuk Pak Ari dan Bu Sri, serta Pak Sapta," tutur Alkindi bersyukur.

Tim Kuya Kayu ITB berharap dukungan institusi tidak berhenti agar prestasi gemilang terus terlahir di ITB. Mereka juga menyerukan agar setiap kompetitor di kemudian hari memiliki perencanaan yang matang. Jika ada kendala, tambah ketignya, berkorban merupakan hal mutlak yang harus dimaknai dalam suatu perjuangan. "Untuk meminta bimbingan, keluarlah dari zona nyaman, jadilah aktif dan kejarlah dosen. Pengorbanan itu perlu, ngomong-ngomng aku bolos hanya hari itu saja selama aku di ITB," ungkap Alkindi terkekeh.

Sumber Gambar: HMS ITB & Universitas Katolik Parahyangan