Berita / Penelitian

Pameran Karya ITB: Olah Rotan, ITB Kembangkan Produk Mainan Tradisional

Teguh Yassi Akasyah - Minggu, 6 Maret 2016, 15:30:10
BANDUNG, itb.ac.id - Belajar sambil bermain merupakan salah satu cara yang efektif untuk mendidik anak-anak. Tidak heran jika saat ini banyak pabrik mainan yang memproduksi mainan dengan mengutamakan edukasi dalam perancangannya. Beranjak dari pemikiran tersebut, tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengusung sebuah penelitian terkait mainan edukasi untuk anak-anak dengan menggunakan bahan khas Indonesia, yaitu rotan. Melalui Pusat Penelitian Poduk Budaya dan Lingkungan (PPPBL) dari Lembaga Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITB, penelitian ini dirancang untuk mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM) miliki masyarakat guna meningkatkan nilai jual rotan.

Bertepatan dengan Dies Natalis ITB ke-57, karya hasil penelitian ini dipamerkan dalam Pameran Karya ITB yang diselenggarakan pada Rabu-Sabtu (2-5/03/16) di Aula Timur ITB. Penelitian bertajuk "Pengembangan Produk Mainan Rotan Tradisional" ini menjadi salah satu Program Riset Unggulan 2015 di PPPBL LPPM ITB. Tim peneliti terdiri atas Drs. Budi Isdianto, M.Sn. (Dosen Desain Interior ITB), Ir. Oemar Handojo, M.Sn. (Dosen Desain Produk ITB), Deny Willy Junaidy, PhD. (Dosen Senior Universiti Malaysia Kelantan dan Dosen Tidak Tetap ITB), dan dibantu oleh asisten peneliti Krissandi, Muhammad Alfath, dan Fajrin Ramdani. Selain itu, penelitian ini turut bekerja sama dengan Yayasan Apikayu dan Perkumpulan Untuk Pengmbangan Usaha Kecil (PUPUK) dalam pengembangannya. Melalui abstrak penelitian dipaparkan bahwa ide ini muncul untuk memberikan dampak ekonomis langsung kepada masyarakat perajin rotan di Cirebon atau dapat dikatakan untuk mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM) perajin rotan.

Produk mainan rotan yang didesain memiliki teknik pembuatan yang mudah dan cepat sehingga lebih ekonomis. Jenis produk mainan rotan yang dikembangkan memperhatikan aspek tumbuh kembang anak pada usia 6-12 tahun. Karakteristik fisik material rotan yang elastis, silindris, ringan, fleksibel, serta aman menjadi dasar pengembangan ragam bentuk mainan yang dapat berkontribusi terhadap stimuli kognisi kreativitas anak. Sintesa desain mempertimbangkan karakteristik dasar kurvatur, pola konfigurasi, kepraktisan teknik produksi, dan efisiensi konstruksi. Mainan yang diproduksi adalah Rattanimal Puzzle, Catur Rotan / Rattan Chess Set, Mainan khusus Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Edc Rattan Toys.

Konsep Tiga Karya Unggulan dari Rotan

Konsep dari desain Rattanimal adalah permainan merangkai (puzzle) yang menstimulasi kreativitas anak. Menggunakan teori Bisociation dan Concept Blending yang menyatakan bahwa menggabungkan dua konsep yang berbeda atau bertabrakan dapat menghasilkan konsep yang tidak familiar dan berpotensi menjadi konsep yang kreatif. Maka Rattanimal mengembangkan puzzle yang wujudnya justru menjadi rancu sebagai sebuah binatang yang konkrit, burung seperti ikan yang dapat melata atau ular seperti kerbau yang dapat terbang. Hal ini memungkinkan anak yang memainkan menjadi berpikir abstrak dan eksploratif, hal seperti ini diyakini mendorong proses berpikir kreatif seseorang.

Sedangkan untuk mainan catur didasari pertimbangan, tingginya limbah potongan-potongan rotan berukuran tanggung (10-15 cm) yang sulit dimanfaatkan dalam industri mebel rotan. Potongan-potongan rotan tersebut biasanya kemudian dibakar. Produk catur rotan dihasilkan dengan utama teknik bubut. Seluruh bidak dirancang dengan pola dasar yang sama dan cenderung menghasilkan bentuk yang primitif sehingga sangat memudahakan proses pembuatannya. Untuk bagian alas catur, keunikannya adalah membuat alas dari kepingan rotan yang dihubungkan dan diperkuat dengan jalinan tali. Untuk konsep mainan PAUD, mainan edukatif yang dibuat memanfaatkan karakter rotan dan sulit disubstitusi oleh kayu. Karakteristik mainan PAUD ini menghasilkan bentuk dan konfigurasi yang unik, yang tidak sulit dicapai menggunakan material kayu.

Sumber informasi dan gambar: PPPBL LPPM ITB dan Yayasan Apikayu.