Tingkatkan Keterampilan Menulis, KKIK ITB Selenggarakan Workshop Academic Writing Purposes

By Shabrina Salsabila

Editor -

BANDUNG, itb.ac.id - Dari keempat kemampuan literasi yaitu menulis, mendengar, bertutur, dan membaca, menulis adalah kemampuan yang dinilai masih kurang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Dilatarbelakangi hal tersebut, Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan Fakultas Seni Rupa dan Desain (KKIK FSRD) ITB bekerja sama dengan Direktorat Kemitraan dan Hubungan Internasional ITB dan Regional English Language Office (RELO) Kedutaan Besar Amerika Serikat menyelenggarakan sebuah workshop mengenai penulisan akademik dengan menggunakan Bahasa Inggris, "Academic Writing Purposes". Workshop yang diselenggarakan pada Kamis (06/03/14) di Ruang Audio Visual Perpustakaan Pusat ITB ini disambut dengan antusias oleh para peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dari berbagai universitas di kota Bandung seperti UNIKOM, UNPAD, ITENAS, UNPAR, IT Telkom, dan ITB sendiri.

"Tujuan kami menyelenggarakan workshop ini adalah untuk meningkatkan keterampilan mengajar dan menulis jurnal ilmiah dalam Bahasa Inggris bagi masyarakat, khususnya civitas akademika ITB," ujar Dr. Prima Roza, S.E., M.Admin., ketua penyelenggara kegiatan tersebut. Acara yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini dibawakan secara menarik oleh Dr. Charles Hall, pengajar Bahasa Inggris dari RELO.

"Bagaimana belajar cara membaca dalam Bahasa Inggris adalah dengan mulai membaca, bagaimana cara belajar mendengar adalah dengan mulai mendengar, bagaimana cara belajar bertutur adalah dengan membiasakan berbicara, sedangkan untuk belajar bagaimana menulis adalah dengan cara membaca," papar Charles. "Inilah yang sebenarnya menjadi masalah bagi orang Indonesia, membaca saja masih kurang, kita tidak akan bisa menulis apa yang belum pernah kita baca," tambah Charles.

Dalam workshop tersebut Charles juga membahas berbagai hal mengenai penulisan ilmiah dengan Bahasa Inggris seperti collocation, jenis-jenis karya tulis ilmiah, penulisan dalam high context dan low context, serta isu plagiarisme. "Bila ingin tulisan Anda dipublikasikan di jurnal internasional, format adalah hal mendasar yang sangat penting. Mereka (editor jurnal internasional, red.) tidak akan melihat isi tulisan Anda apabila formatnya saja sudah tidak sesuai," ujar Charles. Workshop pun berlangsung dengan kondusif dimana seluruh peserta berpartisipasi aktif untuk mempraktikkan langsung apa yang dibahas dalam workshop.

"Acara ini sangat menarik, pembicaranya mampu membuat kami fokus pada kegiatan ini, sangat sesuai bagi pemula yang ingin memulai menulis dalam Bahasa Inggris, namun disayangkan waktunya sangat singkat," ujar Euis Reliyanti, mahasiswa pascasarjana program studi Bahasa Inggris Univeritas Padjajaran, peserta workshop "Academic Writing Purposes".

Program Baru dari Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan ITB

Setelah rutin menyelenggarakan berbagai kegiatan pelatihan dan seminar serta melakukan publikasi jurnal-jurnal mengenail Ilmu Kemanusiaan, KKIK ITB memiliki rencana untuk membuat program studi baru di ITB. "Untuk kedepannya kami berharap bahwa KKIK ini bisa membentuk sebuah program studi baru di ITB seperti program Science, Technology, and Society (STS) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas budaya manusia berlandaskan nilai seni, sains, dan teknologi," ujar Dr. Tri Sulistyaningtyas, M.Hum., pengajar di KKIK ITB. STS yang dimaksudkan di sini adalah ilmu yang memfokuskan diri pada persoalan relasi sosial dan teknologi. "Multidisiplin seperti ini belum ada di Indonesia," ujar Tyas. Untuk itu kedepannya KKIK berencana untuk membentuk tiga laboratorium, yaitu forensik linguistik, genolinguistik dan asuransi, serta audit sains seni teknologi.