Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca dengan Clean Development Mechanism

Muhammad Hanif | Jumat, 14 September 2012, 07:17:46 | Lihat foto berita ini
BANDUNG, itb.ac.id - Guna memperkaya pengetahuan terkini dalam aspek pelestarian lingkungan, Program Studi Teknik Geofisika ITB dan Kyoto University Jepang menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk "Clean Development Mechanism". Kuliah tamu yang dihadiri oleh mahasiswa dari program studi Teknik Geofisika dan program pascasarjana Teknik Panas Bumi ini berlangsung pada Selasa (11/09/12).

Pemaparan kuliah diberikan oleh Susy M. Simorangkir dari PT Asia Carbon Indonesia dan juga Prof. Dr. Toshifumi Matsuoka (Kyoto University). Susy menerangkan mengenai aspek-aspek penting yang mendasari adanya Clean Development Mechanism(CDM). "CDM merupakan salah satu cara bagi negara-negara non Annex I untuk berpartisipasi mengurangi emisi gas rumah kaca yang tertuang dalam Kyoto Protocol," ungkap Susy.

Partisipasi negara-negara di dunia untuk mengurangi emisi karbon bisa dilakukan dengan tiga cara yaitu Joint Implementation, International Emission Trading, dan Clean Development Mechanism. Dalam CDM, negara-negara Annex I dapat memenuhi kewajiban penurunan emisinya melalui investasi proyek penurunan emisi maupun perdagangan karbon dengan negara-negara non-Annex I. Negara Annex I sendiri adalah negara-negara dengan emisi karbon tertinggi yang tertuang dalam Protokol Kyoto.

Semaentara itu, Susy menjelaskan bahwa pihak yang mengajukan proyek CDM akan melalui serangkaian proses panjang dari seleksi hingga pengujian sampai akhirnya mendapatkan CER (Certified Emission Reduction) yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). "CER dapat diperjualbelikan kepada negara/pihak yang berkewajiban mengurangi emisi karbonnya," ujar Susy.

Tawarkan Cara Alternatif

Terdapat berbagai cara untuk melakukan investasi dalam pengurangan emisi gas rumah kaca. Selain CDM terdapat BOCM (Bilateral Offset Credit Mechanism). BOCM digagas untuk mencapai target pengurangan emisi karbon Jepang. Berbeda dengan CDM yang sudah memiliki aturan baku, metodologi dalam BOCM didiskusikan antara Jepang dengan negara sahabat.

Dalam presentasinya Prof. Toshifumi menjelaskan bahwa untuk BOCM, Jepang sedang melakukan riset bersama untuk teknologi CCS (Carbon Capture Storage) agar bisa diterapkan di negara-negara sahabat. Teknologi ini memungkinkan untuk mengurangi emisi karbondioksida dengan menginjeksikannya ke reservoir migas yang sudah tidak produktif.

Selain CDM dan BOCM, beberapa cara lain yang juga digunakan untuk memenuhi target pengurangan emisi karbon yaitu voluntary. Untuk voluntary terdapat beberapa standar sertifikasi seperti GS (Gold Standard), VCS 2007, VER+, VOS, dan juga ISO 14064-2.