Berita / Utama

Studium General 3 KSEP ITB, Pengetahuan Ekonomi sebagai Dasar Investasi Pasar Modal

Fathir Ramadhan - Senin, 1 November 2010, 11:44:04
BANDUNG, itb,ac,id-Unit mahasiswa Kelompok Studi Ekonomi dan Pasar Modal (KSEP) ITB menyelenggarakan Studium General 3, dengan materi Warning System, Mendengar Suara Pasar. Seminar yang diadakan pada Sabtu (09/10/10) di gedung TVST 82 ini menghadirkan dosen Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB Sudarso Kaderi Wiryono dan ekonom Danareksa Research Institute Purba Yudhi Sadewa sebagai pembicara.Sudarso Kaderi Wiryono membahas motivasi dan filosofi pasar modal. Pada sesinya, ia menjabarkan makna istilah-istilah investasi saham seperti earnings per share, price per earning ratio, price per sales ratio, dan lain-lain. Ia juga menjelaskan jenis-jenis investasi saham.

Sudarso yang juga dosen pembimbing KSEP ITB membagikan beberapa saran bagi mahasiswa yang ingin mencoba berinvestasi di pasar modal. "Pelajari teorinya, ikuti berbagai simulasi, jika telah mengerti benar, baru bermain," ujarnya.

"Sebagai mahasiswa, sebaiknya pastikan dulu anggaran bulanan yang dimiliki telah cukup untuk biaya hidup, biaya transportasi, dan uang kuliah. Setelah menganggarkan untuk kebutuhan-kebutuhan inti, barulah alokasikan sisanya untuk investasi," tambah Sudarso.


Pentingnya Kuasai Makroekonomi

Purba Yudhi Sadewa menekankan bahwa pergerakan saham bukan semata-mata dibaca melalui insting, melainkan harus dipahami dengan melihat pergerakan ekonomi. "Pergerakan saham ditentukan oleh tren makroekonomi yang sedang berlangsung," ujar Purba. "Oleh karena itu, pahamilah makroekonomi,"

Sebagai tambahan, Purba menyayangkan sedikitnya jumlah investor di Indonesia yang mengerti tentang investasi pasar modal dan ekonomi.

"Saat ini, mayoritas investor di Indonesia adalah pihak asing. Hal ini memberi manfaat berupa aliran modal (capital inflow) ke dalam negara kita. Namun jika para investor ini menarik modal secara serentak, performa pasar modal di Indonesia akan menurun drastis, yang cepat atau lambat akan merugikan perekonomian Indonesia," jelas Purba yang juga merupakan anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) dan staf khusus Urusan Pemantauan Kebijakan Ekonomi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.