Prof. Akhmaloka: Jadikan Interaksi Untuk Menggali Peluang Bagi Kemajuan Bangsa

Christanto - Sabtu, 30 Oktober 2010, 19:17:07 Lihat foto berita ini
BANDUNG, itb.ac.id - "Daya saing ekonomi masih merupakan parameter kemajuan bangsa yang relevan, tetapi makin diperlukan kemampuan yang baru, yaitu kemampuan suatu bangsa untuk berkooperasi dengan bangsa lain," seru Rektor ITB, Prof. Akhmaloka dalam pidato sambutan Wisuda Pertama 2010/2011, Sabtu (23/10/10) lalu. Menurutnya, berbagai perubahan global dan penemuan Ipteks telah menyadarkan bahwa semakin banyak kemajuan yang ditentukan oleh kooperasi antarbangsa.Pembangunan karakter bangsa memerlukan pendekatan yang baru, yaitu dengan menempatkannya dalam arena interaksi global atas dasar kesetaraan antarbangsa dan dengan prinsip percaya diri. Bangsa Indonesia menghadapi tantangan di masa depan untuk dapat terlibat dalam interaksi antarbangsa, kemudian menggali peluang dan memanfaatkannya untuk perbaikan dan pembaharuan dalam skala lokal, nasional, dan global.

"Di masa depan, bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki kemampuan untuk berinteraksi secara global, untuk menggali peluang-peluang bagi kemajuan lokal, nasional, dan global sekaligus," ungkap Prof. Akhmaloka. Dalam demokrasi multikultur, hal yang diperlukan adalah kooperasi antarbangsa yang memberikan peluang bagi setiap bangsa untuk menjadi pemenang.

Sumber Daya Baru

Eksploitasi suatu sumber daya oleh sebuah bangsa untuk kepentingan ekonomi atau militer telah menimbulkan ancaman bagi kehidupan manusia di seluruh dunia. Keberlanjutan pembangunan membutuhkan penggalian sumber energi baru dan terbaharukan. Hal ini juga memunculkan tantangan untuk memunculkan  sistem ekonomi baru yang ditentukan oleh Ipteks yang baru, yaitu Ipteks dan teknologi yang hijau dan berpihak pada generasi masa depan.

Hal ini membuka peluang bagi kerjasama Ipteks seperti perdagangan energi, yang semuanya membutuhkan kooperasi antarbangsa di dunia.  Berbagai masalah global di bidang energi dan pangan misalnya, menimbulkan peluang untuk mengembangkan Ipteks yang selaras dengan kearifan lokal di berbagai bangsa.

Interaksi Sebagai Bekal

Menyelesaikan studi di ITB berarti memperoleh pemahaman dan keterampilan Ipteks sesuai tingkat kesarjanaan. "Bekal sebagai lulusan ITB adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami peluang baru, serta menggali peluang baru ini untuk menjawab tantangan yang terkait dengan masalah tersebut," ungkap Prof. Akhmaloka.

Menurutnya, dunia nyata adalah area kehidupan dimana aspirasi dan inspirasi terus bermunculan. Untuk itu, teori, model, dan teknik yang dipelajari semasa mengecap pendidikan merupakan khasanah Ipteks yang universal dan penting bagi kemajuan bangsa. "Anda perlu terlibat dalam interaksi dan pembelajaran, dan interaksi tersebut didasarkan pada prinsip saling menghormati dan peduli sesama atas dasar kesetaraan," ungkapnya.