Berita / Utama

Dies Emas ITB: Karen Agustiawan, Pola Suplai dan Distribusi BBM di Indonesia Paling Rumit Sedunia

asni jatiningasih - Kamis, 5 Maret 2009, 05:37:07
BANDUNG, itb.ac.id- Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan, dalam penjelasan kepada peserta Seminar Nasional "Pengembangan Kebijakan, Manajemen, dan Teknologi di Bidang Energi dan Lingkungan", Rabu (04/03/09).Dengan 6 terminal transit, 7 terminal dan depo utama, 106 depo darat dan laut lainnya, juga 54 DPPU membuat pola suplai dan distribusi BBM di Indonesia paling rumit sedunia mengingat posisi geografis Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau. Namun demikian, dalam rangka memenuhi keberlanjutan pasokan dan distribusi energi migas, Pertamina tentu memiliki rencana tersendiri.

Kegiatan usaha Pertamina diantaranya menyelenggarakan usaha di bidang minyak, gas bumi, hasil olahan dan turunannya, panas bumi, LNG, bahan bakar nabati (biofuel) dan produk turunanya.Dalam rangka transformasi menuju perusahaan migas kelas dunia, peningkatan tajam produksi migas (menjadi 150 mbpod minyak mentah dan 1164 mmscfd gas) dan produksi uap menjadi 14,7 juta ton (setara dengan 1952 GWH listrik) pada tahun 2008 telah dilakukan, juga dari segi pemasaran dan niaga perbaikan signifikan mutu layanan kepada masyarakat melalui 1377 SPBU (dari 4300) Pasti Pas, penurunan depot kritis, dan penurunan biaya distribusi sebesar Rp390 milyar dibanding 2006 telah dilakukan.Target peningkatan produksi minyak di tahun 2009 adalah sebesar 14%(menjadi 171.9 MBPOD), target peningkatan produksi geothermal di tahun 2009 adalah sebesar 28% (menjadi 2022 GWH listrik) dan 27% (menjadi 15,4 juta ton uap).Dikatakan Karen bahwa trend dan produksi kilang saat ini tidak seimbang, dibutuhkan revitalisasi kilang dan pembangunan kilang baru untuk mengurangi ketergantungan import dalam memenuhi kebutuhan BBM. Sebagai catatan, total shortage saat ini mencapai 19,56 juta KL.

Ditengah-tengah jadwalnya yang padat pada masa awal kepemimpinanya sebagai Direktur Utama Pertamina, Karen hanya bisa meluangkan waktu sekitar satu jam saja, materi tersebut disampaikannya secara lengkap namun singkat. Sebelum meninggalkan ruangan seminar, Aula Barat ITB, Karen bertutur, "Terpilihnya saya menjadi Direktur Pertamina adalah semata-mata untuk kesejahteraan bangsa."