Berita / Utama

Jusuf Kalla: Kompromi itu Penting!

Krisna Murti - Sabtu, 7 April 2007, 17:01:09
Bandung, itb.ac.id - Jusuf Kalla memberikan kuliah umum di Aula Barat ITB, Sabtu (7/4). Alur Studi Pertahanan yang menjadi salah satu spesialisasi dalam Studi Pembangunan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB menyelenggarakan kuliah bertajuk "Penyelesaian Konflik secara Damai di Indonesia". Kuliah ini dihadiri oleh beberapa pimpinan pemerintah dan militer. Selain itu tampak banyak dosen dan mahasiswa yang memiliki undangan masuk hadir. Yang luar biasa dalam pengamanan Jusuf Kalla ke ITB ini adalah ditutupnya kampus ITB. Hanya panitia dan mereka yang memiliki undangan yang boleh masuk dalam kampus ITB. "Namanya juga tamu 'VIP'," tutur seorang pejabat tinggi Kodam Siliwangi yang tidak mau disebutkan namanya, "Ini semua ya bagian dari prosedur standar keamanan." Jusuf Kalla berserta rombongannya hadir di Aula Barat pukul 13.00 setelah sampai di Bandara Hussein Sastranegara menggunakan pesawat kenegaraan sejam sebelumnya. Kuliah umum dibuka oleh Rektor ITB, Prof. Djoko Santoso yang mengungkapkan kilas balik singkat mengenai diadakannya acara ini. "Kuliah ini merupakan inisiatif dari Alur Studi Pertahanan," tuturnya. Djoko berharap Alur Studi Pertahanan yang kini masih berada di bawah Program Studi Pembangunan ITB kelak akan menjadi program studi yang mandiri. Pentingnya tema pembahasan kuliah ini juga menjadi salah satu poin pembukaan Djoko. Jusuf Kalla memberikan kuliahnya dalam bentuk studi kasus pengalamannya mengatasi konflik di Poso, Ambon, dan Aceh. Pengalaman pertamanya mengatasi konflik, yaitu konflik Poso merupakan salah satu tugasnya sebagai seorang Menteri Koordinator Kesejahteraan Masyarakat saat kepemimpinan Megawati, saat itu. Melalui cerita yang sesekali mengundang tawa para peserta kuliah ini, Kalla memberikan banyak poin-poin penting dalam proses penyelesaian suatu konflik secara damai. Poin kuat yang disampaikannya, salah satunya adalah pentingnya kompromi. "Yang namanya konflik itu baiknya ya diselesaikan melalui perundingan," tegasnya, "dan dalam perundingan kompromi itu tidak bisa dihindari!" Pentingnya menjaga kenetralan juga ditekankan oleh Kalla. Selain itu hal yang juga sangat sensitif adalah harga diri. "Selalu jaga dignity masing-masing kubu!" tegasnya. Sebelum masuk dalam perundingan, penting bahwa kita mengerti sedalam-dalamnya mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan konflik tersebut, terutama berhubungan dengan sejarah. Dia menceritakan pengalamannya mempelajari sejarah Poso; yang membuatnya mengerti alur berkembangnya konflik di Poso. Berawal dari iri hati karena kaum pendatang lebih sejahtera, diperkuat dengan semakin kecilnya kekuatan politik suku asli, kekalahan dalam pemilihan bupati, konflik ini berkembang menjadi konflik agama. Setelah menjadi konflik agama, pertumpahan darah menjadi tidak terhindarkan. "Jualan Surga" adalah alasannya yang mengundang tawa peserta. "Membunuh dan dibunuh. Dua-duanya masuk Surga," jelasnya, "Jadi di masing-masing kubu ada pendapat: kalau saya terbunuh oleh penganut agama lain, saya masuk surga; kalau saya membunuh penganut agama lain, saya masuk surga." Dalam sesi tanya-jawab, Kalla menekankan pentingnya kekuatan ekonomi untuk mendasari kekuatan politik dan ideologi. Ini diungkapkannya sebagai jawaban atas pertanyaan mengenai bagaimana peranan Indonesia dalam mengatasi konflik-konflik internasional seperti krisis nuklir Iran dan pendudukan Irak. Jusuf Kalla meninggalkan kampus ITB sekitar pukul 03.15 bersama dengan rombongan. Bersamaan dengan kepergiaannya, 1700 aparat keamanan dari Polres Bandung Tengah, Kodam Siliwangi, termasuk pasukan Gegana dan Jihandak pun berangsur meninggalkan kampus ITB.