BANDUNG, itb.ac.id – ITB melaksanakan tahapan realisasi amanah Presiden tentang pembentukan Lembaga Pemantapan Pancasila, hingga terbentuknya Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) melalui pelaksanaan Simposium Nasional Kebangsaan. Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Barat pada hari Rabu (25/10/17) ini, menunjukkan keseriusan ITB dalam menjalankan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila yang disampaikan setahun terakhir (19/12/16). Adapun tema simposium kali ini adalah “Merajut Kebhinnekaan dalam Kerangka Persatuan: Pancasila sebagai Perekat Bangsa dalam Persemaian Teknologi pada Ruang Budaya”.


Adapun hadir sebagai keynote speaker kali ini adalah Ketua MPR Republik Indonesia, Dr. (HC) H. Zulkifli Hasan, SE., MM dengan tema “Merajut Kebhinnekaan dalam Kerangka Persatuan : Pancasila sebagai Perekat Bangsa dalam Persemaian Teknologi pada Ruang Budaya”. Materi tersebut dilanjutkan dengan pemaparan singkat Dr. (HC) Ir. KH. Salahuddin Wahid dengan topik Kepemimpinan dalam Memperkuat Kebhineka Tunggal Ika-an. Kehadiran Prof.Dr.Hariyono,M.Pd  sebagai Deputi Advokasi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila sendiri ditujukan untuk menyampaikan topik “Pancasila Sumber dan Inspirasi Peradaban Bangsa”. Sebagai topik yang tidak kalah penting, di hari yang sama Prof.Dr.Yasraf A. Piliang (Guru Besar Budaya ITB) memberikan pemaparan tentang “Transdisiplin di Perguruan Tinggi Teknologi dan Budaya”. Topik keempat pembicara tersebut kemudian dibahas oleh Prof. Dr. Idrus Affandi, S.H. (Guru Besar Ilmu Politik UPI Bandung).


Menurut Zulkifli Hasan, dalam kaitannya realita bangsa dengan sila ke-3, Indonesa memiliki 6 fase nasionalisme. Fase pertama ialah fase awal abad 20 hingga jelang kemerdekaan. Fase kedua ditandai dengan fase kemerdekaan 1945 hingga revolusi kemerdekaan 1950. Fase kedua ini berakhir dengan keputusan saat itu yang memilih pelaksanaan Demokrasi Terpimpin yang erat dengan istilah “Revolusi Belum Selesai”. Setelah fase tersebut berlalu, Indonesia selanjutnya menhadapi fase keempat, yaitu fase Ala Orde Baru. Fase tersebut tidak bertahan seiring dengan masuknya Indonesia ke fase nasionalisme Era Reformasi. Pasca reformasi, fase yang bertahan adalah fase nasionalisme saat ini. Topik yang dibahas oleh Zulkifli merupakan bagian dari kuliah Studium Generale.


Kegiatan ini kemudian diisi oleh KH. Salahudin Wahid yang menyampaikan tujuh karakter atau nilai yang harus dimiliki seorang pemimpin. Topik ini diangkat karena memiliki keterkaitan dengan kepemimpinan dan keberagaman dalam persatuan. Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Hariyono menyampaikan, “Transfigurasi adalah yang disebutkan untuk proses respon terhadap perubahan dengan wawasan baru, mentransfer nilai dan tujuan lama dalam spiritualitas baru.“ Pelaksanaan simposium ini diharapkan mampu mendukung ITB dalam merealisasikan rencana pembentukan Pusat Kajian Kebhinekaan.