BANDUNG, itb.ac.id – Sabtu (01/04/17) menjadi hari pertama bagi 644 wisudawan ITB dalam memangku gelar sarjana mereka. Sabuga seakan terdiam bersama wisudawan yang menghadiri Sidang Terbuka Wisuda Kedua T.A. 2016/2017 ketika Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA (Rektor ITB) memberikan sambutan. Beliau mengantarkan wisudawan kepada dunia profesional dengan sambutan yang berjudul “Tantangan dan Upaya Pembangunan Infrastruktur Nasional untuk Menunjang Pembangunan Berkelanjutan”. “Perjalanan lanjutan para sarjana baru ini ke depan kita harapkan akan terisi dengan karya-karya yang bermanfaat bagi bangsa dan masyarakat luas sesuai dengan kompetensinya masing-masing,” ujar Prof. Kadarsah dalam membuka pidatonya. 


Tantangan Nasional, Upaya Nasional


Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu isu sentral bagi suatu negara yang sedang membangun seperti Indonesia. Secara umum, infrastruktur suatu wilayah didefinisikan sebagai suatu sistem fasilitas yang dapat didanai oleh pemerintah atau swasta dan menyediakan pelayanan esensial bagi pemenuhan standar kehidupan yang layak secara berkelanjutan. Infrastruktur memainkan peranan yang penting bagi pembangunan wilayah, pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, pengurangan kesenjangan pembangunan, serta peningkatan daya saing ekonomi nasional.

Dalam konteks nasional, tantangan pembangunan infrastruktur di Indonesia sangat besar, mengingat jumlah pulau yang lebih dari 17.500 pulau, luas wilayah daratan dan lautan sekitar 5,2 juta kilometer persegi, jumlah penduduk saat ini lebih dari 250 juta jiwa, serta pertumbuhan populasi dan ekonomi relatif tinggi, sehingga kebutuhan pembangunan infrastruktur ke depan akan terus meningkat. Di samping itu, permasalahan pembangunan yang dihadapkan dengan kondisi spesifik tiap wilayah (geografi, geologi, iklim tropis, ekonomi-sosial-budaya, karakteristik lahan-lingkungan, dan risiko bencana alam) harus dapat diatasi dengan baik karena kinerja infrastruktur nasional sangat terkait dengan daya saing ekonomi nasional serta pemerataan pembangunan. Adanya tantangan global seperti dampak lingkungan, pemanasan global, perubahan iklim, keterbatasan energi, dan sebagainya juga perlu menjadi perhatian dalam pengembangan sistem infrastruktur yang berkelanjutan. 


Rencana pembangunan Indonesia dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat menempatkan pembangunan infrastruktur sebagai salah satu bidang prioritas. Pada tingkat nasional, saat ini telah dirumuskan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) lima tahunan. Di samping itu, tiap sektor merumuskan Rencana Strategis Sektoral. Selain itu, tingkat daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota juga merumuskan rencana pembangunan daerah masing-masing. Bisa dikatakan bahwa di setiap tingkat perencanaan, pembangunan infrastruktur menjadi salah satu program prioritas. 


Kebijakan dan Realisasi Upaya

Kebijakan lain terkait pelaksanaan RPJP Nasional 2005-2025 adalah Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3I) 2011-2025. Perpres ini memberikan arahan strategis melalui pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang dilakukan dengan mengembangkan gugus industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan tersebut disertai dengan penguatan konektivitas antarpusat pertumbuhan ekonomi, pusat pertumbuhan ekonomi dengan lokasi kegiatan ekonomi, serta dengan infrastruktur pendukungnya. Secara keseluruhan, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan konektivitas tersebut menciptakan Koridor Ekonomi Indonesia yang merupakan salah satu dari tiga strategi (pilar) utama. Dua strategi utama lainnya adalah Penguatan Konektivitas dan Peningkatan Kemampuan SDM dan IPTEK Nasional. Konektivitas nasional merupakan pengintegrasian empat elemen kebijakan nasional yang terdiri dari Sistem Logistik Nasional (Sislognas), Sistem Transportasi Nasional (Sistranas), Pengembangan Wilayah (RTRWN), Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT). Upaya ini diperlukan agar dapat mewujudkan konektivitas nasional yang efektif efisien, dan terpadu.

Memperhatikan cakupan sektor dan program pembangunan infrastruktur dalam RPJM, maka persiapan semua elemen terkait yang diperlukan akan menjadi pekerjaan yang sangat besar. Pada tahun 2014, Bappenas membuat perkiraan kebutuhan pendanaan infrastruktur total untuk RPJM 2015-2019 sebesar 5.520 trilyun rupiah yang mencakup infrastruktur seluruh sektor. Tidak hanya menyangkut kebutuhan pendanaan, tetapi juga semua komponen rantai pasok yang diperlukan dalam proses pembangunan infrastruktur harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Kebutuhan SDM berkualitas, koordinasi antarlembaga terkait, regulasi yang baik, serta jaminan pendanaan merupakan faktor-faktor kunci yang akan menentukan keberhasilan target-target pembangunan infrastruktur ke depan. Di samping itu, kesiapan segenap elemen industri pembangunan secara spesifik perlu ditingkatkan, baik dari sisi kapasitas maupun kemampuan profesionalnya.



Peran ITB dalam Pembangunan

ITB sebagai lembaga Pendidikan Tinggi akan terus berupaya untuk dapat meningkatkan perannya dalam berbagai upaya demi meningkatkan kualitas penyelenggaraan infrastruktur di Indonesia. Dalam hal penyediaan SDM, ITB berkontribusi secara nyata dalam penyiapan lulusan yang kompeten dan profesional di semua tahap penyelenggaraan infrastruktur, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, manajemen, dan operasi. Para lulusan ITB diharapkan akan mampu berkarya di semua wilayah Indonesia dan setiap jenis industri infrastruktur pada seluruh siklus penyelenggaraan infrastruktur yang diperlukan. Dalam hal riset di bidang infrastruktur, berbagai agenda riset telah dan akan terus ditingkatkan, sehingga aplikasinya dapat digunakan dalam membantu kualitas perencanaan dan pengelolaan infrastruktur. Riset-riset ini mencakup infrastruktur transportasi, air serta air limbah, pengelolaan limbah, produksi dan distribusi energi, bangunan gedung, perumahan, fasilitas rekreasi, informasi dan telekomunikasi, dan sebagainya.


“Isu-isu yang disampaikan di atas saya harapkan dapat memperluas wawasan kita semua, khususnya para wisudawan ITB, mengenai lingkup permasalahan yang kita hadapi di Indonesia serta prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan infrastruktur dalam upaya membangun infrastruktur nasional yang berkelanjutan. Para wisudawan dapat menemukan lapangan permainannya di berbagai bidang dan sektor yang ada, yaitu pemerintahan, industri, pendidikan, penelitian, dan sebagainya. Pergilah ke segala penjuru negeri, jangan ragu untuk berkelana, menimba ilmu, memperluas cakrawala, dan menempa diri,” ujar Prof. Kadarsah sebelum membacakan prestasi ITB dan menutup sambutannya.