Festival Anak Bertanya 2016: Jawab Semua Keingintahuan Anak

Vinskatania Agung A | Selasa, 31 Mei 2016, 09:43:20 | Lihat foto berita ini
BANDUNG, itb.ac.id - Pada Minggu (29/05/16) lalu ada yang berbeda di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB. Tempat itu bak disulap menjadi taman bermain dan belajar karena dipenuhi oleh anak-anak dari usia balita hingga Sekolah Dasar. Rupanya, hari itu digelar Festival Anak Bertanya ke-2. Acara ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh anakbertanya.com dan Manajemen Sabuga ITB.

Festival Anak Bertanya menjadi wadah bagi para lembaga yang memiliki perhatian dalam memperluas cakrawala anak untuk langsung berinteraksi dengan anak-anak dalam menyampaikan pesan mereka. Berbagai lembaga menyajikan beragam pengetahuan mulai dari edukasi anak, IPTEK, pengayaan, hingga dunia pengasuhan anak. Stan-stan tersebut antara lain diisi Boscha, Langitselatan, Puspa IPTEK, pengayaan komputer, tulis-menulis, masak-memasak, Skhole ITB dan sederet komunitas lainnya.

Berawal dari kegiatan berbasis situs web, Prof. Hendra Gunawan, Guru Besar Matematika ITB selaku penggagas anakbertanya.com mengawali kegiatan ini dengan ide sederhana untuk menampung keingintahuan anak-anak akan berbagai hal. Di situs web anakbertanya.com, anak bebas bertanya tentang apa saja kemudian pertanyaan tersebut akan dijawab langsung oleh para pakar di bidangnya. Tujuannya tidak berhenti semata di aksi menjawab. Lebih dari itu, agar anak-anak dapat terbuka terhadap dunia keilmuan dan keprofesian yang dipelajari di sekolah dengan mendapatkan jawaban dari pakar dan mengenal para pakar. 

"Anak akan terpikirkan 'aku mau jadi apa' dan lebih jauhnya, anak akan mantap dalam menentukan cita-cita," ujar Hendra. Hal ini menjadi alasan utama dari target kegiatannya yang merupakan anak usia 10-12 tahun atau yang duduk di kelas 4-6 SD.

 

Anakbertanya.com Lahir Karena Kegundahan
Kurikulum 2013 yang didengungkan sebagai pengawal generasi emas menjadi alasan utama gerakan Hendra. Ia menilai ada yang hilang dari tatanan Kurikulum 2013 untuk disebut sebagai penuntun anak-anak guna menjadi orang besar yang menjalankan Indonesia di tahun 2045 kelak.

"Yang dibekalkan pada merekalah yang menjadi kegundahan saya," ujar Hendra. Menurutnya, Kurikulum 2013 kurang dalam konten keilmuan yang semestinya. "Kontennya terlalu banyak dikaitkan dengan hal-hal lain yang tidak ada koneksinya," jelasnya.

Berangkat dari hal itu, Hendra mencari celah untuk memberikan dampak pada pendidikan anak melalui sesuatu yang dapat ia kontrol sendiri. Awalnya, sempat terpikir untuk membuat sekolah virtual. Rencananya, sekolah tersebut dilengkapi dengan para pengajar, kurikulum, hingga perpustakaan daring. Namun karena satu dan lain hal, ide besarnya belum dapat terwujud sehingga perlu direduksi menjadi sesuatu yang lebih sederhana namun memiliki dampak yang sama besar. Dari sana, pada tahun 2013 lahirlah situs web anakbertanya.com yang ternyata menuai dukungan besar dari berbagai pihak.

Hasil dari berbagai pertanyaan anak telah dibukukan dalam buku yang berjudul Anak Bertanya, Pakar Menjawab. Buku pertamanya diluncurkan di kegiatan luring anakbertanya.com di tahun 2013. Di tahun 2014, diadakan kembali kegiatan di Rumah Belajar Bandung. Melihat antusiasme dari berbagai pihak akan gerakan ini, di tahun 2015 digelar Festival Anak Bertanya yang pertama. Festival ini turut mengundang lembaga-lembaga dengan visi serupa untuk dapat langsung bertemu dengan anak-anak di satu momen yang sama. Tahun ini, Festival Anak Bertanya kembali digelar dan disambut dengan euforia yang lebih meriah lagi.

Menurut Hendra, ia juga turut memprovokasi mahasiswanya agar memiliki perhatian yang tinggi terhadap pendidikan. Dosen yang masih aktif mengajar tersebut turut berpesan pada para mahasiswa agar melihat fenomena ini sebagai hal penting. Tak heran, jika banyak mahasiswa ITB yang juga turut mengambil peran dalam kelangsungan anakbertanya.com dan Festival Anak Bertanya.

Ke depannya, anakbertanya.com berencana untuk berekspansi dengan mengadakan festival di kota-kota lainnya di Indonesia. Namun, menurut Hendra, pihaknya tidak ingin terlalu terburu-buru karena semua yang diproduksi harus matang dan tidak setengah-setengah.