Elvi Restiawaty: Biokonversi Limbah Biodiesel menjadi Prekursor Vaksin dan Kosmetik

Shabrina Salsabila | Senin, 2 Desember 2013, 15:28:23 | Lihat foto berita ini
BANDUNG, itb.ac.id - Saat ini, limbah menjadi salah satu persoalan keberlanjutan lingkungan di Indonesia. Salah satu jenis limbah yang seringkali dibuang tanpa adanya pengolahan lebih lanjut adalah limbah biodiesel. Menyadari permasalahan ini, Elvi Restiawaty, Ph.D, salah satu dosen dan peneliti dari Sekolah Ilmu Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB) memiliki ide untuk mendayagunakannya.

Wanita yang mendapatkan gelar doktor dari Osaka University, Jepang, di bidang bioteknologi ini pun menuangkan idenya dalam proposal penelitian. Ternyata, proposal ini membawanya meraih penghargaan ilmiah bergengsi, L'Oréal Indonesia National Fellowship for Women in Science 2012. Dari penghargaan tersebut Elvi mendapatkan hadiah sebesar Rp 75 juta yang akan digunakan sebagai dana penelitian ini.

Selain penghargaan di atas, ibu dari dua anak merupakan pribadi yang berprestasi. Di tahun 2009-2012 Elvi pernah menerima Presidential Scholar Fund dari World Bank Institute. Elvi juga mendapatkan penghargaan Outstanding Award of Young Scientist and Student for Poster Presentation di acara bergengsi, Asian Congress on Biotechnology 2011.

Sejak tahun 1999 Elvi aktif melakukan riset mengenai gula palem, biogas, pengolahan limbah pabrik tapioka, dan lain-lain. Selain itu, Elvi juga aktif dalam publikasi jurnal skala internasional, terutama dalam bidang bioteknologi.  Judul penelitan yang membawanya menjadi penerima penghargaan dari L'Oréal Indonesia adalah "Pemanfaatan Limbah Biodiesel untuk Produksi Gliserol-3-Fosfat (G3F) dengan Menggunakan Enzim Termostabil dari Bakteri Asal Perairan Kawasan Hydrothermal Vent Kepulauan Kawio, Sulawesi Utara".

Memanfaatkan Bakteri Perairan Laut

Penelitian mengenai pengolahan limbah ini didasarkan pada dampak buruk yang ditimbulkan oleh limbah biodiesel pada lingkungan telah  menggugah pikiran Elvi untuk memanfaatkan limbah ini menjadi hal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kemudian Elvi menggunakan bakteri yang berasal dari perairan laut dalam kawasan hydrothermal vent Kepulauan Kawio, Sulawesi Utara sebagai agen biologis dari penelitian ini.

Terhadap bakteri yang telah didapat dari perairan Kepulauan Kawio tersebut kemudian dilakukan isolasi dan karakterisasi enzim gliserol kinase. Gen pengkode gliserol kinase yang terdapat pada bakteri tersebut diekspresikan kedalam mikroba yang digunakan sebagai inang. Spesies mikroba yang digunakan sebagai inang adalah Escherichia coli. Escherichia coli inilah yang akan menjadi agen biokatalis dalam pengolahan limbah biodiesel menjadi Gliserol-3-Fosfat.

Gliserol-3-Fosfat merupakan suatu bahan kimia yang memiliki nilai tambah dan dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan obat, seperti vaksin dan kosmetik. Menurut Elvi, dalam produksi biodiesel sebanyak 683 juta liter akan dihasilkan gliserol sebanyak 68 juta liter atau sekitar 10 persen dari produk utama. Hal ini sangat potensial untuk menjadikan G3F ini produk yang komersial, karena bahan baku produksi G3F ini berasal dari limbah yang tidak bernilai jika tidak diproses lebih lanjut, selain itu perolehan limbahnya juga tergolong banyak.

Penelitian ini terus dapat dikembangkan dengan mengisolasi enzim-enzim termostabil yang dapat aktif hingga hampir 100oC. Namun tentunya penelitian ini bukan tanpa hambatan. Saat ini hambatanya adalah peralatan di laboratorium yang masih kurang. Misal dalam penelitian ini dibutuhkan inkubator yang suhunya mencapai 100oC yang belum tersedia di laboratorium. Sementara itu, temperatur sangat dapat mempengaruhi kerja enzim.

 

Oleh IJA 2013

Alinda Nur Fitriana
Bangkit Dana Setiawan
Luh Komang Wijayanti
Bayu Rian Ardiyansah