Prof. Hendra Gunawan: Melihat Sosok Indonesia di Tahun 2045

By Nida Nurul Huda

Editor -

BANDUNG, itb.ac.id - Bagaimana sosok 100 tahun Indonesia di tahun 2045 nanti? Indonesia 2045 nanti diprediksi akan memiliki piramida penduduk yang sangat ideal. Dimana 70% penduduk Indonesia berada pada usia produktif dengan usia berkisar 25-45 tahun. Sampai saat ini, belum ada rumusan yang jelas bagaimana profil mereka kelak.

Menanggapi hal tersebut Prof. Hendra Gunawan (Guru Besar Fakultas Ilmu dan Pengetahuan Alam ITB) berpendapat, Indonesia 2045 nanti akan berada pada kondisi dengan sebutan Jendela Demografi (Demographic Window). Hal tersebut merupakan potensi yang dapat berdampak 3 kemungkinan yaitu, bonus demografi, statis atau tidak ada perubahan, atau malah hal yang lebih menakutkan kutukan demografi.

Menurut Hendra, Jendela demografi tersebut dapat menjadi bonus demografi bila profil penduduk Indonesia berkualitas. Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu penggarapan di berbagai bidang. Seperti yang tertera pada dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang disusun oleh Menko Perekonomian, Indonesia pada 2025 diprediksi menjadi kekuatan ekonomi 12 besar dunia dengna pendapatan perkapita USD 15.000.

Pada tahun 2045, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari 7 kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan perkapita USD 47.000. Harus diakui, pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun terakhir terus meningkat. Menurut data, pendapatan perkapita Indonesia tahun ini USD 4000.

Definisi negara maju menurut Hendra tak sekedar pertumbuhan ekonominya positif dan tingkat inflasi yang menurun. Namun, negara yang masyarakat dan kehidupannya maju dan beradab. Kekhawatiran akan kutukan demografi bukanlah hal yang mengada-ada.

Hingga saat ini, Indonesia masih didera berbagai masalah yang masih tak terselesaikan.  Misalnya, korupsi yang semakin merajalela, kemiskinan, kualitas pendidikan yang rendah, serta permasalahan sosial seperti konflik horizontal antar masyarakat, peredaran narkoba, kekerasan sosial, dan berbagai bentuk kriminalitas lainnya.

"Bisa dibayangkan, bila Indonesia 2045 gagal digarap, maka tingkat kriminalitas dan kekacauan akan meningkat, karena hal-hal tersebut biasanya dilakukan oleh penduduk di usia produktif,"ungkap Hendra.
 
Perlu Sosok Anutan

Anak-anak dan para remaja yang kelak akan memimpin bangsa ini di 2045 nanti. "Sang penerus bangsa ini perlu sosok Einstein (ilmuwan), Bill Gates (pengusaha), bahkan Adele (penyanyi) asal Indonesia yang dapat menginspirasi mereka untuk berkarya", ujar Hendra.

Sosok anutan yang dmaksud dalam konteks ini ialah seseorang atau sekelompok orang, yang telah diakui oleh masyarakat luas (bahkan mungkin mendunia) berkat kontribusinya yang besar pada kemajuan bangsa, melalui karya dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Selama ini, Hendra mengamati masyarakat terlalu fokus pada ranah pemerintahan dan perekonomian. Sehingga seolah-olah, untuk dapat didengar dan menjadi terpandang haruslah terjun pada kedua bidang itu. Padahal, untuk membangun negara yang maju dan beradab, masih banyak bidang yang perlu digarap selain dua hal tersebut.

Singkat kata, Indonesia perlu sejumlah sosok anutan yang dapat menginspirasi anak-anak dan para remaja untuk bekerja keras meraih cita-cita dan berkontribusi pada pembangunan bangsa.

Peran Perguruan Tinggi

Dari sekian banyak pekerjaan rumah yang perlu digarap, pendidikan menjadi kuncinya. Perlu pembenahan mulai dari pendidik, tenaga kependidikan, dan alat pendidikan. Mulai dari pendidikan usia dini sampai perguruan tinggi. Menurut Hendra, Perguruan tinggi memainkan peran penting dalam mendidik calon pemimpin bangsa, mulai dari presiden sampai kepala rumah tangga.

Kontribusi perguruan tinggi selama ini terlihat dari alumninya yang menjadi penggerak bangsa, khususnya dalam bidang ekonomi dan politik. Namum, kiprah dan kualitas yang mereka miliki belum cukup membangun negara ini menjadi maju dan beradab.

Menurut data, dari 3200 perguruan tinggi yang ada di Indonesia, baru sekitar 20 perguruan tinggi yang berkualitas. Bahkan 20 perguruan tinggi terbaik tersebut masih kalah dengan negara tetangga, khususnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti yang diketahui, ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadi tolak ukur kemajuan suatu negara.

Indonesia 2045, 32 tahun lagi ada di depan mata. Anak-anak dan para remaja ada di sekitar kita. Merekalah yang akan menjadi bonus demografi dan membangun kelak bangsa ini. Hal tersebut tentu menjadi tanggung jawab kita semua untuk mendidik dan memandu mereka, guna mewujudkan Indonesia 2045 yang diidamkan.