Berita / Utama

Pameran Foto Aliran Kehidupan di Sungai Citarum

Ria Ayu Pramudita - Selasa, 5 Maret 2013, 03:46:49
BANDUNG, itb.ac.id -- Dalam rangka Program Pengelolaan Terpadu di Wilayah Sungai Citarum (ICWRMIP), diadakan pameran foto dengan tajuk Aliran Kehidupan di Sungai Citarum pada Kamis-Sabtu (21-23/02/13) di Galeri dan Auditorium Campus Center Timur ITB. Dalam pameran ini, ditampilkan sekitar 100 foto dalam rentang tahun 2009 hingga 2012 yang menampilkan Sungai Citarum dari hulu hingga hilir melalui foto-foto udara dan darat. Bersamaan dengan pameran foto, diselenggarakan juga berbagai presentasi, sarasehan, dan kegiatan edukatif. Hadir sebagai pembicara Ir. M. Donny Azdan, MA, MS, Ph.D sebagai Direktur Pengairan dan Irigasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sekaligus Ketua Roadmap Coordination Management Unit (RCMU), Ridwan Kamil, dosen Arsitektur ITB sekaligus penggerak komunitas Indonesia Berkebun, Dr. Hasan Djafar sebagai arkeolog Universitas Indonesia, serta fotografer Deni Sambas dan pilot Saleh Sudradjat.

Sungai Citarum mengalir dari hulu di daerah Gunung Wayang, di sebelah selatan kota Bandung menuju ke utara dan bermuara di Kerawang. Dengan panjang sekitar 225 kilometer, Citarum merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat. Sepanjang sejarah Jawa Barat, Sungai Citarum telah memain peran sentral yang tidak dapat digantikan.

Meskipun Sungai Citarum pada masa lalu sangat terjaga keasrian dan kelestariannya, namun sejarah juga mencatat bahwa Citarum telah mengalami banjir di beberapa daerah. Hingga saat ini, banjir Sungai Citarum masih rutin terjadi setiap musim penghujan datang. Pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk yang memberikan beban berlebihan terhadap daya dukung lingkungan, semakin diperparah dengan kurang bijaknya perilaku manusia di dalam mengelola sumber daya alam seperti penggundulan hutan, pembuangan limbah rumah tangga, peternakan, industri, serta penyalahgunaan tata ruang.

Jika tempo dulu sejarah mencatat keluhan masyarakat pada saat banjir hanya berupa penyakit pilek dan diare, maka kini permasalahannya jauh lebih kompleks. Selain gatal-gatal dan penyakit kulit, gangguan pernapasan juga sering timbul akibat bencana banjir, bahkan tak jarang harta bahkan jiwa juga menjadi korban dikarenakan daya rusak banjir yang jauh lebih besar. Kondisi ini tercipta tak lain akibat kontribusi kerusakan lahan terutama di daerah hulu. Praktek teknologi pertanian dan pengelolaan lahan yang tidak ramah lingkungan banyak terlihat di sekitar kawasan hulu. Pertanian kentang yang banyak menyebabkan erosi dapat berakibat terjadinya degradasi lahan dan penurunan kapasitas pengaliran sungai akibat sedimentasi yang tinggi.

Pendekatan Integratif

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya nyata yang dihadapi Sungai Citarum, maka diselenggarakan pameran foto Aliran Kehidupan di Sungai Citarum ini. "Pameran foto ini untuk mengetuk dan memberi sedikit gambaran permasalahan yang ada di Sungai Citarum mulai dari hulu hingga ke hilir," kata Donny Azdan saat pembukaan. "Tidak selalu menampilkan permasalahan dalam rangkaian acara pameran foto, kami juga berbagi tentang perkembangan program Citarum Roadmap," katanya.

Dalam rangkaian acara ini, berbagai sisi Citarum diulas habis dengan berbagai pendekatan yang kreatif dan integratif. Pada hari pertama pameran, dilakukan diskusi dengan tema Mencermati Citarum dari Sisi Sejarah dan Sosial Budaya. Tujuannya untuk  mewadahi dialog dan interaksi para pemangku kepentingan di dalam mengenali upaya-upaya pelestarian dan pemulihan di Sungai Citarum. Dipaparkan Citarum Roadmap oleh Ir. M. Donny Azdan, lalu dilanjutkan oleh pemaparan Ridwan Kamil mengenai sungai sebagai perpanjangan ruang publik , yang kemudian dilengkapi oleh kisah kejayaan Sungai Citarum di masa lampau oleh Dr. Hasan Djafar.

Tidak hanya menggelitik intelektualitas kaum terpelajar, peningkatan kesadaran yang sama juga dicoba disampaikan kepada generasi sekolah dasar. Pada hari kedua dilakukan storytelling bertema Citarum yang dikemas dengan sesi bercerita dan permainan oleh Bobie Edison dan tim. Sisi emosional pun diketuk dengan sarasehan foto dengan judul Citarum Dalam Lensa, dengan peserta komunitas penggiat fotografi dan komunitas pemerhati dan penggiat lingkungan di Bandung. Sesi diskusi akan dilakukan Moderator Gustaff Hariman bersama 3 fotografer, yaitu Ahmad Deny Salman, Ng Swan Ti dan Deny Sambas (foto aerial) bersama Saleh Sudrajad, pilot yang tercatat dalam Museum Record Indonesia untuk terbang solo pertama menggunakan pesawat Micro Light (TRIKE) Sabang - Merauke.

"Sungai Citarum sudah sangat kritis, dan memerlukan penanganan segera dan harus dilakukan dengan melibatkan oleh semua pihak, pemerintah pusat maupun daerah, akademisi, kelompok massa dan potensi masyarakat lainnya," kata Donny.

Sumber: Citarum.org, Citarum.org, dan AntaraJawaBarat.com