Dampak Perubahan Iklim, Indonesia Krisis Air Bersih

By Hastri Royyani

Editor -

BANDUNG, itb.ac.id - Para ahli memprediksi Indonesia akan mengalami kelangkaan air bersih pada tahun 2025. Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat, Setiawan Wangsaatmaja menuturkan, "Bumi terdiri dari 97.5 % air, tetapi hanya 1 % dari air tersebut yang tawar." Air tawar tersebut bersumber dari curah hujan yang tertampung pada danau, situ, sungai, maupun cekungan air tanah. Diperkirakan Indonesia memiliki total volume air sebesar 308 juta meter kubik, paparnya.

"Berdasarkan data tersebut Indonesia merupakan negara yang kaya akan ketersediaan air," ujar Iwan. Namun, sangat disayangkan potensi ketersediaan air bersih dari tahun ke tahun cenderung menurun akibat pencemaran lingkungan dan kerusakan daerah tangkapan air. Kondisi diperburuk dengan perubahan iklim yang mulai terasa dampaknya sehingga membuat Indonesia mengalami banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. Iwan menambahkan, "Padahal di lain pihak kecenderungan konsumsi air bersih justru naik secara eksponensial seiring pertambahan penduduk."

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, melalui sekretaris daerahnya mengatakan, "Ketersediaan air perlu diimbangi dengan kualitas yang baik pula." Kualitas air ini berkaitan dengan kelayakan pemanfaatan air untuk berbagai kebutuhan. Sebagai salah satu daerah tangkapan air, pemanfaatan sungai sebagai sumber air bisa dilakukan dengan mengurangi tingkat cemar akibat limbah rumah tangga dan industri, lanjutnya.

"Tujuh daerah aliran sungai (DAS) utama di Jawa Barat dalam kondisi super kritis," papar Iwan. Perlu penanganan secara terintegrasi dari daerah hulu hingga hilir pemerintah di Jawa Barat, agar sungai kembali menjadi pada fungsinya. "Jika hal ini tercapai,  harapannya krisis air bersih bisa dihindari," tutur Iwan

Upaya Atasi Krisis Air Bersih

Ketua Seminar Sehari World Water Day 2011 Dr. Arief Sudrajat memaparkan, "Potensi Jawa Barat khususnya, Indonesia umumnya sebagai negara yang kaya air tidak menghindarkan Indonesia dari krisis air bersih." Setiap kali musim kemarau berbagai daerah mengalami kekeringan air dan ketika musim penghujan tiba krisis air bersih tetap terjadi karena surplus air yang kerap mengakibatkan banjir, sehingga sumber air tidak dapat termanfaatkan, ujarnya.

"Oleh karena itu salah satu upaya untuk mengatasi hal ini adalah melalui adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dengan pengelolaan sumber daya air secara tepat," ujar Arief. Hasil pikir bersama ilmuwan, akademisi, masyarakat, birokrat dan pemangku jabatan lain ini diharap mampu untuk mengatasi masalah keairan di Indonesia.

Arief memaparkan, "Untuk mengatasi krisis air bersih perlu upaya penyelamatan lingkungan, termasuk penyelamatan sumber-sumber air yang harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan. " Selain itu, peran serta masyarakat sangat besar, hal paling mudah adalah dengan tidak membuang limbah rumah tangga ke sungai. Tanpa upaya bersama, mustahil kita bisa mencegah permasalahan kelangkaan air di Indonesia, tutup Arief.

Krisis air bersih ini merupakan salah satu topik dalam Seminar Sehari World Water Day 2011 yang diselenggarakan oleh Prodi Teknik Lingkungan pada Jumat (27/03/11) bertempat di Aula Timur ITB. Mengahadirkan tiga belas pakar lingkungan, seminar ini membahas mengenai Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu dan Berkelanjutan dalam Rangka Adatasi Perubahan Sistem Iklim Global.